Kota Probolinggo, Bhirawa – Derasnya arus informasi digital membuat masyarakat semakin membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi dan memeriksa kebenaran sumber. Kondisi tersebut mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk memperkuat budaya ilmiah dan literasi masyarakat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui peluncuran Jurnal MUI Kota Probolinggo, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan tujuh perguruan tinggi, serta pelatihan penulisan karya ilmiah bagi dosen dan mahasiswa. Kegiatan digelar di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Probolinggo, Minggu (16/8/2026).
Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Kota Probolinggo, Dr. KH. Hefny Razaq, M.Pd., mengatakan pengembangan kajian keislaman perlu dilakukan dengan pendekatan ilmiah agar dapat menjawab persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut dia, kajian keislaman tidak cukup hanya berhenti pada ruang diskusi, tetapi juga perlu dikembangkan melalui penelitian dan publikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“MUI Kota Probolinggo diharapkan mampu menghadirkan kajian keislaman yang ilmiah, objektif, kontekstual, dan solutif,” ujar Hefny.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang dapat dikaji antara lain pendidikan, keluarga, ekonomi, sosial, lingkungan, perkembangan teknologi digital, literasi media hingga moderasi beragama.
Peluncuran jurnal tersebut sekaligus diharapkan menjadi ruang bagi akademisi dan peneliti untuk mendokumentasikan hasil kajian serta mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan persoalan masyarakat.
Sementara itu, kerja sama MUI Kota Probolinggo dengan perguruan tinggi diarahkan tidak hanya pada hubungan kelembagaan. MoU tersebut mencakup peluang penelitian bersama, seminar dan diskusi ilmiah, publikasi, pengabdian kepada masyarakat serta kajian terhadap persoalan strategis di daerah.
Tujuh perguruan tinggi yang menandatangani MoU dengan MUI Kota Probolinggo yakni Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Universitas Panca Marga (UPM), IAD, ITBKES Jawa Timur, AMIK Taruna Leces, STIA Bayuangga, dan STAIRO.
Ketua Umum MUI Kota Probolinggo Prof. Dr. KH. M. Sulthon, MA., mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk membaca persoalan masyarakat.
“MUI Kota Probolinggo juga mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi berkembang sebagai pusat produksi pengetahuan dan solusi bagi persoalan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Sulthon, kerja sama tersebut juga membuka ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian, pengabdian masyarakat, publikasi ilmiah maupun kajian bersama.
Dalam kegiatan yang sama, MUI juga menggelar pelatihan penulisan karya ilmiah dengan menghadirkan Guru Besar Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton, Prof. Dr. KH. Hasan Baharun.
Pelatihan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dosen dan mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah yang sistematis, berbasis data dan metodologis. Penguatan kemampuan tersebut dinilai penting agar persoalan lokal tidak hanya menjadi bahan pembicaraan, tetapi dapat dikaji secara akademik dan menghasilkan rekomendasi.
Persoalan literasi menjadi semakin relevan seiring meningkatnya arus informasi melalui media digital. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan informasi yang benar, tetapi juga hoaks, disinformasi, ujaran kebencian dan informasi yang sumbernya tidak jelas.
Karena itu, kemampuan memeriksa sumber informasi, membaca data dan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang mampu menghadapi perkembangan informasi digital.
Dalam sambutan Wali Kota Probolinggo yang dibacakan Asisten Perekonomian Ir. Aries Santoso, pemerintah daerah menilai pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga penguatan intelektual, moral, spiritual dan kebudayaan.
“Sinergi antara ulama, umara, dan akademisi menjadi sangat penting. Ulama memiliki kekuatan moral dan keagamaan, pemerintah memiliki kewenangan kebijakan dan pelayanan publik, sedangkan perguruan tinggi memiliki kekuatan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Kolaborasi antara MUI dan perguruan tinggi tersebut diharapkan tidak berhenti pada seremoni penandatanganan MoU.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kerja sama menghasilkan penelitian, publikasi dan kajian yang benar-benar berkaitan dengan persoalan masyarakat Kota Probolinggo.
Dengan demikian, penguatan budaya ilmiah tidak hanya menjadi agenda internal lembaga, tetapi dapat memberikan kontribusi terhadap kemampuan masyarakat dalam memahami informasi dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. [fir.kt]


