Kota Kediri, Bhirawa – Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri mulai memperkuat kewaspadaan dini menyusul adanya sejumlah indikator peningkatan eskalasi sosial hingga akhir Juli 2026.
Meningkatnya penyampaian aspirasi masyarakat, potensi konflik sosial, gangguan di ruang siber, serta dinamika keamanan nasional menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas Kota Kediri.
kondisi ini disampaikan Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dalam Dialog Kebangsaan antara Forkopimda dan berbagai elemen masyarakat di Ruang Joyoboyo, Selasa (11/8). Dialog tersebut mengangkat tema Merawat Bhineka Tunggal Ika Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital.
Vinanda mengatakan, memasuki Agustus, berbagai persoalan berpotensi saling beririsan. Persoalan sosial dapat bertemu dengan dinamika politik, sementara persoalan ekonomi berpotensi berkembang menjadi keresahan sosial.
Kondisi tersebut dapat semakin kompleks ketika diperkuat penyebaran informasi yang belum terverifikasi di ruang digital.
“Karena itu kita membutuhkan langkah antisipasi yang komprehensif. Prinsipnya adalah mencegah eskalasi sebelum menjadi gangguan nyata. Jangan menunggu situasi menjadi besar baru kita bergerak,” ujarnya.
Menurut Vinanda, hoaks dan intoleransi menjadi dua hal yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi persatuan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan, latar belakang maupun kelompok tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, keberagaman harus dipandang sebagai kekuatan untuk memperluas wawasan dan memperkokoh persatuan.
“Saya percaya dalam membangun daerah tidak bisa hanya dilaksanakan pemerintah. Kita butuh dukungan seluruh elemen masyarakat. Dengan adanya dukungan semua pihak saya yakin Kota Kediri menjadi lebih rukun, aman dan maju,” katanya.
Vinanda menambahkan, kewaspadaan dini tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan. Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat perlu melihat perkembangan sosial, ekonomi, politik, budaya hingga dinamika di ruang digital.
Menurutnya, deteksi dan identifikasi terhadap potensi persoalan sejak awal diperlukan agar langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi konflik.
“Lebih baik kita mengetahui potensi masalah lebih awal daripada menangani masalah setelah berkembang menjadi konflik,” tegasnya.
Sejumlah langkah juga disiapkan untuk memperkuat kewaspadaan dini dan mengantisipasi potensi kerawanan sosial. Di antaranya memperkuat pencegahan di lingkungan pendidikan, membangun kontra-narasi di ruang digital, serta meningkatkan pendekatan kolaboratif dengan mahasiswa.
“Kewaspadaan dini bukan berarti kita hidup dalam kekhawatiran. Justru merupakan cara kita memastikan masyarakat tetap aman dan tenang. Yang kita butuhkan bukan hanya kemampuan membaca potensi masalah, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi, memperkuat koordinasi, dan menghadirkan solusi sebelum persoalan berkembang menjadi konflik,” jelasnya.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto menilai koordinasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
“Kita perlu lebih sering melaksanakan forum-forum komunikasi dan dialog seperti yang digagas Wali Kota Kediri. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan membangun Kota Kediri bersama-sama. Sehingga Kota Kediri ini nyaman untuk ditinggali oleh siapapun,” ujarnya.
Ketua DPRD Kota Kediri Firdaus menambahkan, dialog tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberagaman. Menurut dia, keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi seluruh masyarakat.
“Rumah kita adalah Kota Kediri, di mana ini harus kita jaga. Kita harus sama-sama membina anak-anak kita agar Kota Kediri tenteram dan tenang,” tandasnya.
Dialog Kebangsaan tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari Forkopimda, tokoh agama dan tokoh masyarakat, organisasi kemahasiswaan, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas. [van/nov.gat]


