29.5 C
Sidoarjo
Monday, August 10, 2026
spot_img

Dampak Kerusakan Tanah dan Biaya Obat Melonjak, EMCL bersama SKK Migas Dampingi Petani Enam Desa Beralih ke Semi Organik

Tuban, Bhirawa – Penurunan tingkat kesuburan tanah, ancaman jamur, serta melonjaknya harga obat-obatan kimia buatan pabrik kian menjepit modal tanam para petani di Kabupaten Tuban.

Menjawab persoalan ini, mereka kini mulai beralih mengadopsi metode pertanian semi organik yang terbukti berhasil di lahan percontohan (demplot) Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban.

Keluhan mengenai beratnya beban biaya operasional pertanian itu salah satunya dirasakan oleh Jasmat, petani asal Desa Glodog, Kecamatan Palang. Ia mengaku, pola pemupukan dan penggunaan pestisida kimia berlebih selama bertahun-tahun justru membuat tanahnya kian keras, sementara biaya beli obat-obatan di toko terus meroket tanpa sebanding dengan hasil panen.

“Kami butuh cara baru yang lebih efisien agar biaya tanam tidak terus membengkak,” ungkap Jasmat kepada media pada Senin (10/8/2026).

Guna mencari solusi atas himpitan modal tersebut, Jasmat bersama puluhan petani dari Desa Leran Kulon, Glodog, Pucangan, Cendoro, Ngimbang, dan Gesing berkumpul di Balai Dusun Jalak, Desa Sumurjalak. Melalui forum ruang belajar “Ngudar Tani”, mereka mempelajari teknik budidaya hemat biaya dan ramah lingkungan dari pengalaman keberhasilan petani Sumurjalak.

Bagi para petani, perbaikan pola tanam ini menjadi jawaban konkret atas kekhawatiran gagal panen akibat serangan nematoda dan keasaman tanah yang tinggi. Pengalaman di lahan percontohan Sumurjalak membuktikan bahwa ketergantungan pada pestisida kimia mahal justru memperparah daya tahan tanaman dalam jangka panjang.

Berita Terkait :  Jelang Lebaran Pemkab Tulungagung Tak Berlakukan WFH dan WFA untuk ASN

Sebagai gantinya, warga dilatih meracik fungisida mandiri menggunakan bahan yang terjangkau dan mudah didapat, seperti kombinasi belerang, KOH, serta garam. Petani juga diajarkan pemanfaatan racikan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pengisi bulir padi berbahan jagung manis dan obat gendar untuk memaksimalkan pengisian malai tanpa harus membeli formula buatan pabrik.

“Cara-cara seperti ini yang kami butuhkan sekarang,” imbuh Jasmat bersemangat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia.

Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis masalah ini sengaja dirancang agar solusi yang berhasil di satu titik dapat direplikasi secara meluas oleh masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Ketika petani mampu menyelesaikan masalah lahannya melalui racikan mandiri, modal produksi dapat ditekan dan efisiensi meningkat,” papar Joni.

Joni berharap, penyebaran ilmu antarpetani ini menjadi pengungkit produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan usaha tani daerah. Selain itu, karena para petani ini merupakan penggarap lahan sepanjang jalur pipa minyak Blok Cepu, Joni menekankan kolaborasi dan sinergi dalam menjaga keamanan dan keselamatan. Menurutnya, jalur pipa minyak ini aman berkat dukungan dari masyarakat sekitar, khususnya petani.

Ketua Umum Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menambahkan bahwa selain pemulihan kesehatan lahan, ruang belajar ini konsisten menyisipkan prosedur keselamatan (do and don’ts) mengingat aktivitas pertanian warga beririsan langsung dengan jalur fasilitas hulu migas.

Berita Terkait :  Tertunda Puluhan Tahun, Menteri PU Dody: Baru di Era Presiden Prabowo Proyek Tanggul Laut Pantura Serius Dilaksanakan

Pesan-pesan keselamatan secara kontinyu dan konsisten disampaikan oleh tim ELSAL guna memperkuat budaya saling menjaga satu sama lain.

“Petani nyaman, pipa aman, semua selamat,” pungkas Imam. [hud.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!