Kawasan taman alam (danau) “Ranu Kumbolo” yang eksotis, tidak dapat dikunjungi, karena ditutup sementara. Petugas dan segenap relawan tengah berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di blok Bantengan, desa Sariwani, Probolinggo. Sebagian titik api berada di lereng perbukitan terjal sehingga sulit dijangkau. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru hanya dapat dikunjungi dari pintu Cemoro Lawang, Probolinggo, dan Wonokitri Pasuruan.
Semula pemadaman dilakukan dengan cara manual tradisional, yakni di-gepyok menggunakan pelepah batang dan daun pisang. Satu per-satu titik api di-gepyok. Tetapi api, bagai padam satu membara seribu. Kebakaran lahan makin meluas, sampai 80 hektar. Sehingga BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), mengakui karhutla di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, sebagai tantangan. Karena memerlukan personel spesifik pemadaman di ketinggian.
Sehingga mulai digunakan helikopter “water bombing.” Namun tetap harus ekstra waspada karena titik api berada pada kemiringan sampai 75%. Helikopter “water bombing” juga tidak bisa sembarang semprot. Melainkan terdapat pasukan kebakaran yang mengarahkan. Angin dari baling-baling juga bisa “membuang” percik api ke lokasi sebelah. Helikopter juga mensuplai air untuk pemadaman manual di ketinggian, antara 750 meter hingga 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melibatkan 150 petugas dan relawan.
UNESCO pada tahun 2015 menetapkan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, sebagai cagar biosfer dunia. Sehingga tergolong sebagai kawasan strategis konservasi dan hutan lindung. Sekaligus kawasan wisata alam paling kesohor, sering dikunjungi wisatawan manca negara. Terutama pemandangan sunrise (matahari terbit) dari arah pulau Bali. Meliputi areal seluas 50 ribu hektar. Tersambung pula dengan Cagar Alam (Tahura) Raden Soerjo seluas 28 hektar.
Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, ke arah timur dan selatan, tersambung dengan kawasan lindung dan penyangga Semeru. Di dalamnya terdapat danau Ranu Kumbolo, yang sangat elok. Lokasi perkemahan paling eksotis di dunia. Juga gunung Arjuna, dan Welirang (di kabupaten Mojokerto, Pasuruan, dan Kota Batu), terdapat penambangan belerang (Sulfur) tradisional selama berabad-abad. Sehingga kawasan cagar biosfer mencapai 414 ribu hektar.
Area yang harus dijaga secara kukuh (dan sistemik) sebagai kawasan lingkungan esensial. Berbagai lembaga pelestarian lingkungan hidup global, turut mengawasi Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Terutama fungsinya sebagai biosfer dunia. Maka upaya pemadaman Karhutla di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, juga menjadi kepentingan masyarakat dunia.
Karhutla di pegunungan tidak bisa dianggap sepele, karena bisa berdampak lebih membahayakan pasca kebakaran. Pohon yang tumbang akibat kebakaran, dan tanah yang makin kering, akan menjadi potensi kerawanan besar. Pada saat musim hujan, akan mudah terjadi longsor, dengan membawa material dari arah ketinggian (punggung gunung). Batu-batu besar, dan kayu pohon besar, akan luruh bersama air bah. Bisa menerjang perkampungan di lembah.
Karhutla saat ini lebih banyak terjadi pada area ekosistem esensial. Gejala menjadi lebih parah karena musim kemarau kering. Gesekan antar-ranting, dan daun kering, bisa menjadi percik api. Karhutla kawasan pegunungan pernah terjadi akibat human error yang ulah sangat nista. Savana di kaldera Tengger terbakar akibat flare (suar dengan panas yang tinggi) untuk foto pre-wedding.
Kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, kini dalam status siaga penuh. Mencegah Karhutla lebih luas. Seluruh kegiatan pendakian hanya sampai pada area Lautan Pasir. Tidak diperkenankan bergerak ke area savana. Indonesia memiliki konstitusi yang menjamin lingkungan hidup yang baik, sebagai bagian dari hak asasi manusia (HAM). Tercantum dalam UUD pasal 28H ayat (1).
——— 000 ———


