27.8 C
Sidoarjo
Wednesday, July 29, 2026
spot_img

Temuan 7.129 Kasus HIV di Sidoarjo, Dinkes Jatim Sebut Bukan Tanda Darurat


Sidoarjo, Bhirawa – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD-KPTI., FINASIM., M.A.R.S., menegaskan tingginya temuan kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo tidak boleh dimaknai sebagai tanda kondisi darurat HIV. Sebaliknya, banyaknya kasus yang berhasil ditemukan merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mempercepat eliminasi HIV pada 2030 melalui deteksi dini.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul ramainya pemberitaan mengenai tingginya temuan kasus HIV di Sidoarjo, termasuk ditemukannya 22 calon pengantin yang terdiagnosis positif HIV hingga Juni 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di daerah tersebut mencapai 7.129 kasus hingga April 2026.

Menurut Erwin, salah satu indikator keberhasilan program pengendalian HIV adalah semakin banyaknya kasus yang berhasil ditemukan melalui skrining sehingga penderita dapat segera memperoleh pengobatan.

“Isu hari ini adalah upaya eliminasi HIV tahun 2030. Salah satu strateginya adalah penemuan kasus. Kalau ada kabupaten atau kota yang berhasil menemukan kasus yang banyak, narasi yang dibangun adalah apresiasi untuk kabupaten kota itu karena mereka berhasil menemukan kasusnya,” ujarnya, Selasa (29/7/2026).

Ia meminta pemberitaan mengenai HIV tidak dibangun dengan narasi yang menimbulkan kepanikan di masyarakat.

“Jangan sampai disetting dengan isu yang kadang-kadang menakut-nakuti. Misalnya ada statement alarm bahaya. Jangan sampai isu ini terus digeser menjadi isu yang seakan-akan Jawa Timur darurat HIV atau Sidoarjo darurat HIV. Enggak,” tegasnya.

Berita Terkait :  Satpol PP Kota Malang Siap Dukung dan Sukseskan Mujahadah Kubro

Erwin menjelaskan, HIV bukan penyakit yang mudah menular. Penularannya terutama melalui hubungan seksual berisiko dan penggunaan narkoba suntik. Karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah menemukan penderita sedini mungkin, memberikan terapi antiretroviral (ARV), sekaligus melakukan pendampingan agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.

“Yang penting setelah ketemu, obati. Begitu diobati maka survival mereka jauh lebih baik. Mereka berdaya seperti manusia normal semuanya. Cuma harus diberikan akses untuk berobat teratur,” katanya.

Selain pengobatan, pasien yang telah terdiagnosis juga mendapatkan intervensi perubahan perilaku sebagai upaya memutus rantai penularan.

“Kalau ada narasi Sidoarjo ada sekian banyak yang ketemu, itu artinya baik. Supaya kita segera bisa ngerem,” ujarnya.

Erwin menambahkan, tingginya temuan kasus justru mengurangi fenomena gunung es dalam penanganan HIV. Menurutnya, kasus yang belum terdeteksi jauh lebih berbahaya karena berpotensi terus menularkan virus tanpa disadari.

“Ada istilah fenomena gunung es. Kalau enggak ketemu, lebih ruwet lagi karena mereka leluasa untuk menularkan. Tapi kalau ketemu, kita obati dan intervensi perilakunya supaya tidak menular ke orang berikutnya,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai capaian Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dalam menemukan lebih banyak kasus layak diapresiasi, bukan justru menimbulkan stigma negatif.

“Harusnya Sidoarjo bisa menemukan itu, apresiasi untuk teman-teman Sidoarjo,” katanya.

Ia menjelaskan, skrining HIV telah dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur, terutama pada kelompok berisiko dan ibu hamil sebagai bagian dari deteksi dini.

Berita Terkait :  Ratusan Warga Gelar Aksi Damai Tolak Penutupan Akses Bendungan Lahor

“Sistem sudah bergerak semua. Skrining di hadapan kelompok-kelompok kunci, kemudian ibu hamil, semua sudah dikerjakan oleh teman-teman di lapangan. Dampaknya, dalam tanda kutip, ini dampak positif karena kasus ditemukan lebih dini,” ujarnya.

Erwin juga mengingatkan bahwa daerah dengan sedikit temuan kasus belum tentu memiliki kondisi lebih baik. Menurutnya, rendahnya angka temuan bisa saja disebabkan skrining yang belum optimal.

“Yang kita butuhkan adalah menemukan lebih banyak. Surabaya, Sidoarjo, ayo kita apresiasi. Justru yang masih sedikit ini yang harus kita pelototi betul, sedikit karena memang sedikit atau kinerjanya belum maksimal,” tegasnya.

Terkait layanan pengobatan, Erwin memastikan stok obat antiretroviral (ARV) di seluruh Jawa Timur tersedia dan mencukupi. Ia pun mengajak masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV dan tidak takut berlebihan.

“Enggak usah takut dengan HIV. Selama tidak melakukan hubungan seks berisiko dan tidak menggunakan narkoba suntik, insyaallah enggak mungkin tertular HIV,” pungkasnya. [ina]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!