32.2 C
Sidoarjo
Friday, July 17, 2026
spot_img

Pasar Properti Indonesia Masuk Fase Baru, Nilai Tambah Jadi Penentu Pertumbuhan

Surabaya, Bhirawa – Pasar properti Indonesia memasuki babak baru pada 2026. Jika sebelumnya pertumbuhan lebih banyak didorong oleh ekspansi pasokan dan volume transaksi, kini keberhasilan pelaku industri semakin ditentukan oleh kemampuan menciptakan nilai tambah, efisiensi operasional, dan diferensiasi produk di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan. Hal tersebut disampaikan Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia.

Berdasarkan hasil riset terbaru Colliers mengenai sektor perkantoran Jakarta, perhotelan Bali, dan kawasan industri Greater Semarang.

Menurut Ferry, hampir seluruh sektor properti saat ini menunjukkan pola yang sama, yakni bergeser dari strategi mengejar kuantitas menuju peningkatan kualitas aset dan pengalaman pengguna.

“Pasar properti Indonesia saat ini tidak lagi semata-mata berbicara mengenai penambahan pasokan atau pertumbuhan volume. Kompetisi bergeser pada bagaimana pelaku usaha menciptakan nilai yang lebih tinggi bagi pengguna maupun investor,” ujar Ferry Salanto.

Perkantoran Jakarta Semakin Berorientasi Efisiensi

Di sektor perkantoran Jakarta, aktivitas sewa mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap sepanjang kuartal II 2026. Namun, permintaan masih didominasi oleh perusahaan yang melakukan relokasi, peningkatan kualitas kantor (upgrading), maupun penyesuaian luas ruang kerja (rightsizing), bukan ekspansi bisnis secara besar-besaran.

Colliers mencatat, tingkat kekosongan ruang kantor yang masih mencapai sekitar tiga juta meter persegi membuat posisi penyewa tetap cukup kuat dalam proses negosiasi. Kondisi tersebut mendorong pemilik gedung menawarkan berbagai insentif, mulai dari ruang siap pakai, masa bebas sewa, hingga fleksibilitas kontrak.

Berita Terkait :  18 Unit SPKLU PLN Siap Layani Kendaraan Listrik HUT RI ke 79 di IKN

Ferry menjelaskan, faktor yang kini menjadi pertimbangan utama penyewa bukan lagi sekadar harga sewa.

“Perusahaan lebih memprioritaskan efisiensi operasional, akses transportasi publik seperti MRT dan LRT, kesiapan ruang kantor, serta sertifikasi bangunan hijau sebagai bagian dari implementasi kebijakan ESG,” katanya.

Karena itu, Colliers menilai gedung-gedung yang mampu menyediakan ruang siap huni dengan konektivitas transportasi yang baik akan memiliki daya saing lebih tinggi dibanding bangunan yang hanya mengandalkan penurunan harga sewa.

Hotel Bali Tak Lagi Mengejar Jumlah Wisatawan

Perubahan serupa juga terjadi di sektor perhotelan Bali. Meski jumlah wisatawan internasional diperkirakan terus meningkat pada paruh kedua 2026, Colliers melihat pertumbuhan permintaan mulai berjalan lebih selektif akibat meningkatnya persaingan dengan destinasi lain seperti Thailand, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan, serta dipengaruhi kondisi geopolitik global dan kenaikan biaya perjalanan.

Di sisi lain, pembangunan hotel bintang lima masih terus berlangsung, terutama di kawasan Ubud dan Canggu. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang pariwisata Bali.

Namun Ferry menegaskan, masa depan industri perhotelan Bali tidak lagi ditentukan oleh banyaknya wisatawan yang datang.

“Pertumbuhan berikutnya akan ditentukan oleh kualitas tamu yang berhasil menarik nilai ekonomi lebih besar melalui lama menginap, belanja tambahan, serta loyalitas terhadap hotel,” ujarnya.

Menurut Colliers, hotel yang menawarkan pengalaman autentik, layanan personal, fasilitas keluarga, hingga konsep wellness akan memiliki peluang lebih besar mempertahankan tingkat hunian sekaligus tarif kamar dibanding hotel yang hanya mengandalkan diskon harga.

Berita Terkait :  KAI Daop 8 Surabaya akan Terapkan Grafik Perjalanan Kereta Api 2025 mulai 1 Februari

Kawasan Industri Semarang Naik Kelas

Sementara itu, kawasan industri Greater Semarang dinilai sedang mengalami transformasi dari sekadar kawasan industri berbiaya murah menjadi ekosistem industri terpadu.

Sepanjang semester I 2026, penyerapan lahan industri mencapai sekitar 51 hektare atau hampir separuh rata-rata penjualan tahunan historis. Permintaan tidak lagi hanya berasal dari industri padat karya seperti tekstil dan garmen, tetapi mulai berkembang ke sektor elektronik, farmasi, logistik hingga pusat data (data center).

Menurut Ferry, perubahan tersebut menandakan bahwa investor kini semakin mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, ekosistem bisnis, serta kepastian operasional dibanding sekadar harga lahan.

“Kawasan industri saat ini tidak cukup hanya menawarkan tanah. Pengembang harus mampu menyediakan ekosistem yang mendukung investasi jangka panjang, mulai dari utilitas, konektivitas logistik hingga layanan bagi investor,” jelasnya.

Colliers menilai prospek pasar properti nasional masih positif hingga beberapa tahun mendatang. Namun, pelaku industri dituntut lebih adaptif dalam membaca perubahan perilaku konsumen maupun investor.

Ferry menegaskan, strategi yang hanya mengandalkan ekspansi pasokan atau persaingan harga tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar.

“Ke depan, pemenang di setiap sektor properti adalah mereka yang mampu menghadirkan kualitas aset, pengalaman pengguna, fleksibilitas, serta efisiensi operasional. Nilai tambah itulah yang akan menjadi mesin pertumbuhan baru pasar properti Indonesia,” pungkas Ferry. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!