Iklim sering tidak sesuai periode. Bagai lagu, “Musim hujan kepanasan, musim panas kehujanan.” Sampai lewat pertengahan bulan Juli, masih ada hujan di Aceh, Sumatera Utara, , Riau, dan Sumatera Barat. Tetapi sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur, sudah merasakan kekeringan. Sumur kampung semakin mendangkal, dan aliran sungai semakin melambat. Bahkan di Pandegelang, Serang, dan Lebak, Di Pandegelang, seluas 1.100 hektar lebih sawah mengering, separuhnya nampak merekah
Di kabupaten Serang, juga kekurangan air bersih (untuk minum dan sanitasi). Kekeringan yang sama juga terjadi di kawasan timur Jawa Timur. Yakni sepanjang area “tapal kuda,” pantai timur mulai Banyuwangi (di ujung timur), sampai Pasuruan. Begitu pula kawasan pegunungan, Malang. Kawasan pantai selatan di Trenggalek, dan Blitar, sudah dilanda kekeringan. Serta kawasan tambang semen (dan kapur) di Gresik, dan Lamongan. Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten mulai menggencarkan truk air minum.
Monyet ekor panjang, manandai musim kemarau (kekeringan) di kawasan timur (Situbondo, dan Banyuwangi). Kawanan monyet keluar dari habitat asli di Taman Nasinal Baluran. Satwa liar sejenis penghuni gunung Kumitir (Banyuwangi-Jember- Bondowoso) juga turun ke kampung. Bagai “minta sedekah” makanan warga desa. Kadang turut antre minum di sumber air.
Seluruh gejala khas kemarau menandakan efek El-Nino, telah dimulai. Tandanya yang nampak, angin ayng berhembus terasa hangat dan kering, masuk ke seluruh Indonesia. Suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik, sekaligus menarik uap air (dan awan) menjauh dari Indonesia. Dimulai dari arah timur laut, bergerak ke selatan (NTT, dan NTB), berbelok ke arah Bali, dan Jawa.
Pemanasan kosmis niscaya akan mengurangi (secara drastis) sampai tiada hujan samasekali. Terutama pada kawasan sebelah setalan katulistiwa. Bisa menyebabkan penurunan hasil panen tidak memuaskan, karena kekurangan air. Menyusutnya ketersediaan air sebagai gejala El-Nino, biasanya mulai memuncak pada pertengahan Agustus. Berbagai waduk sudah mengering, serta debit air sungai, saluran irigasi, dan sumur menyusut dratis. Kekeringan di seantero pulau Jawa, NTB, NTT, dan Kalimantan, semakin terasa.
BMKG (Badan Meteorologi Klmatologi dan Geofisika) memprediksi kemarau lebih kering terjadi pada separuh lebih (56,18%) wilayah Indonesia. Terutama kawasan timur (Papua, Maluku Utara, NTT, dan NTB). Sebanyak 198 zona musim (31,60%) daratan diperkirakan memasuki musim kemarau lebih awal (pada Juni 2026). Serta separuh Kawasan Indonesia akan mengalami puncak kemarau kering pada Agustus. Bahkan durasi kemarau diprediksi lebih panjang dari biasanya
BMKG memprediksi mengimbau Pemerintah Daerah meng-antisipasi musim kemarau, khususnya pengelolaan sumber air, dan mitigasi kebakaran. Pemerintah patut membantu kinerja sektor pertanian. Terutama penyediaan pompa air, dan BBM (Bahan Bakar Minyak) untuk pertanian. Tanda-tanda El-nino, dengan ciri peningkatan suhu muka laut, patut mulai diwapadai.
Kewaspadaan gagal panen (tanaman pangan) patut ditingkatkan di seluruh daerah. Terutama jenis buah-buahan, dan sayur, sangat rentan suplai air. Bahkan komoditas perkebunan unggulan (tebu, dan tembakau) kualitasnya akan memburuk. Serta mengubah periode tanam (mundur) sampai akhir November. Serta potensi Karhulta (Kebakaran hutan dan lahan), karena gesekan daun dan ranting kering.
Sehingga perlu mencermati amanat UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Di dalamnya terdapat amanat pencegahan bencana, termasuk mitigasi. Pada pasal 38 huruf a, diwajibkan adanya “identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.” Indonesia hanya mengenal dua musim (hujan, dan kemarau). Patut dipahami seksama, dengan berbagai karakteristik.
——— 000 ———


