Saya menulis surat ini dengan rasa keprihatinan yang mendalam sekaligus kecemasan yang luar biasa sebagai seorang warga negara dan orang tua. Belakangan ini, halaman media massa kita terus-menerus dihiasi oleh berita pilu mengenai kasus ruda paksa yang melibatkan remaja, baik sebagai korban maupun, yang lebih mengerikan, sebagai pelaku. Fenomena ini bukan lagi sekadar alarm biasa, melainkan sebuah krisis moral dan kemanusiaan yang menuntut perhatian serta tindakan darurat dari seluruh lapisan masyarakat.
Remaja seharusnya berada dalam fase kehidupan yang penuh dengan pembelajaran, eksplorasi positif, dan persiapan masa depan. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa sebagian dari mereka justru terjerumus dalam lingkaran kekerasan seksual yang keji. Ketika anak-anak di bawah umur sudah mampu melakukan tindakan sebrutal itu, kita tidak bisa lagi menganggapnya sebagai “kenakalan remaja” biasa. Ini adalah kegagalan sistemik dalam lingkungan pertumbuhan mereka.
Ada beberapa faktor krusial yang mendasari karut-marut ini. Pertama, derasnya arus informasi digital yang tidak dibarengi dengan literasi internet yang sehat. Remaja dengan sangat mudah mengakses konten pornografi yang mendistorsi pemahaman mereka tentang relasi antardan konsensus seksual. Kedua, lemahnya pengawasan serta komunikasi di tingkat keluarga. Banyak orang tua yang abai atau tabu untuk membicarakan edukasi seksual sejak dini, sehingga anak-anak mencari informasi dari sumber yang keliru. Ketiga, penegakan hukum yang terkadang belum memberikan efek jera yang maksimal bagi pelaku di bawah umur, serta minimnya sistem pendampingan psikologis yang komprehensif bagi korban.
Dampak dari kasus ini sangat masif. Bagi korban, trauma fisik dan psikis yang dialami akan membekas seumur hidup, bahkan sering kali mereka harus menghadapi stigma negatif dari lingkungan sosialnya. Sementara bagi pelaku remaja, masa depan mereka hancur di balik jeruji besi.Masa depan bangsa ini dipertaruhkan pada kualitas moral remajanya hari ini. Jika kita tetap acuh, kita sedang menabung bom waktu kehancuran generasi masa depan. Mari bersama-sama bergerak sebelum terlambat.
Aminudin
Warga Bulakbanteng Surabaya


