Punggung Tak Lagi Pegal, Petani Gresik Kini Tebar Pupuk Pakai “Simple Ferty”
Gresik, Bhirawa – Puluhan tahun menebar pupuk dengan tangan membuat pinggang sejumlah petani di Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, kerap terasa pegal setiap kali turun ke sawah. Keluhan serupa dirasakan sebagian besar dari 21 anggota Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) setempat, yang selama ini menebar pupuk secara manual menggunakan tangan atau wadah sederhana yang digendong.
Keluhan itu yang mendorong empat mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya turun langsung ke Desa Gedangan pada Kamis, 9 Juli 2026, memperkenalkan alat penebar pupuk semi otomatis tipe gendong bernama “Simple Ferty”. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini digelar di Balai Desa Gedangan dan diikuti antusias oleh para petani.
“Selama ini petani di sini menabur pupuk pakai tangan atau digendong pakai wadah biasa. Selain capek, hasil sebarannya juga tidak merata. Dari situ kami berpikir, ada cara yang lebih ringan dan efisien,” ujar Muhammad Alfian Febrianto, anggota tim pengabdian, saat ditemui di lokasi kegiatan.
Simple Ferty dirancang menyerupai tas gendong berisi kantong penampung pupuk yang dilengkapi pipa penebar, sehingga petani dapat berjalan sambil menaburkan pupuk tanpa harus membungkuk atau menjinjing wadah berat. Dalam pelatihan yang berlangsung sehari itu, peserta diajak memahami manfaat dan spesifikasi alat, menyaksikan demonstrasi langsung, hingga mempraktikkan sendiri cara mengisi pupuk dan mengarahkan pipa penebar secara bergantian.
“Ternyata jauh lebih enteng dibanding cara lama. Pinggang tidak cepat pegal karena bebannya lebih seimbang di punggung,” kata Bapak Zainal Mila, Ketua Kelompok Tani (Poktan) 1 Desa Gedangan, seusai mencoba alat tersebut.
Antusiasme serupa juga datang dari warga sekitar yang turut menyaksikan jalannya pelatihan. “Baru kali ini ada alat seperti ini yang diperkenalkan langsung ke warga sini. Semoga bisa terus dipakai dan dirawat supaya benar-benar membantu petani,” ujar salah satu warga Desa Gedangan yang ikut hadir di lokasi kegiatan.
Hasil jajak pendapat yang disebar tim pengabdian usai pelatihan menunjukkan sambutan positif: 90,5% peserta mengaku sudah memahami cara mengoperasikan alat, seluruh peserta (100%) menilai alat ini menghemat waktu dan tenaga, dan 90,5% menyatakan bersedia memakainya secara rutin apabila disediakan di balai desa.
Sebagai tindak lanjut, tim mahasiswa menyerahkan dua unit Simple Ferty kepada GAPOKTAN Desa Gedangan agar dapat dipakai bergantian oleh para petani. Meski begitu, tim menekankan bahwa uji coba yang dilakukan masih berupa simulasi di balai desa, belum diuji langsung di lahan pertanian, sehingga pendampingan lanjutan masih diperlukan untuk mengukur efektivitas alat secara nyata di lapangan.
Kegiatan yang didampingi Dosen Pembimbing Lapangan, Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat mahasiswa UNTAG Surabaya, yang menyasar persoalan nyata di lapangan lewat pendekatan teknologi tepat guna – sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dari kampus bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa.
“Program ini bagian dari upaya mendekatkan mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. Kami berharap alat ini terus dimanfaatkan dan dirawat dengan baik oleh GAPOKTAN Desa Gedangan,” kata Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., selaku Dosen Pembimbing Lapangan. [why]


