Kota Malang, Bhirawa – Pemprov Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pemerataan pendidikan nasional. Hal ini dibuktikan dengan diterimanya 152 pelajar asal Papua yang akan menempuh pendidikan menengah di Jatim melalui program Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) Tahun 2026.
Kedatangan para siswa tersebut disambut langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam acara “Pembekalan dan Serah Terima Siswa Adem Papua Wilayah Jawa Timur Tahun 2026” yang digelar di Malang,
Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, khususnya Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik). Kepercayaan berkelanjutan yang diberikan kepada Jawa Timur sebagai provinsi mitra program Adem dinilai sebagai sebuah kehormatan sekaligus amanah besar.
“Kepercayaan ini merupakan amanah untuk bersama-sama memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh hak yang sama atas pendidikan yang berkualitas,” ujar Gubernur Khofifah.
Menurutnya, program Adem merupakan bukti nyata kehadiran negara dalam menghadirkan pemerataan kesempatan belajar bagi seluruh anak bangsa. Langkah ini dinilai sangat sejalan dengan visi Asta Cita Presiden RI menuju perwujudan Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan data yang dihimpun, pada tahun ajaran 2026 ini, sebanyak 152 peserta program Adem Papua yang berasal dari 11 daerah asal akan menempuh pendidikan menengah di Jawa Timur selama tiga tahun ke depan. Untuk memastikan proses belajar berjalan optimal, para siswa tersebut akan disebar ke 33 sekolah (SMA dan SMK) yang tersebar di 11 kabupaten/kota di seluruh wilayah Jawa Timur.
Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menegaskan bahwa para pelajar Papua bukan sekadar berstatus sebagai peserta didik baru, melainkan sudah menjadi bagian utuh dari keluarga besar warga Jawa Timur.
“Kami ingin memastikan bahwa selama tiga tahun ke depan kalian memperoleh pendidikan terbaik, lingkungan belajar yang aman dan nyaman, pendampingan yang penuh kasih sayang, sekaligus ruang yang luas untuk mengembangkan bakat, karakter, dan cita-cita,” tegas mantan Mensos RI tersebut di hadapan para siswa.
Lebih lanjut, Khofifah menilai program Adem memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar urusan akademik. Program ini dipandang sebagai sarana strategis untuk mempererat persaudaraan antaranak bangsa melalui perjumpaan lintas budaya. Di Jawa Timur, para siswa diharapkan dapat belajar hidup bersama dalam keberagaman, menumbuhkan toleransi, serta memperkuat wawasan kebangsaan.
Ia pun menitipkan pesan mendalam agar kelak saat lulus, para siswa tidak hanya membawa pulang selembar ijazah ke tanah kelahiran mereka.
“Kelak ketika kalian kembali ke Papua, bawalah pulang ilmu pengetahuan, pengalaman, semangat gotong royong, wawasan kebangsaan, dan karakter yang kuat. Papua membutuhkan generasi muda yang cerdas, berintegritas, serta memiliki semangat pengabdian untuk membangun daerahnya,” harapnya optimis bahwa dari program ini akan lahir calon dokter, insinyur, hingga pemimpin masa depan Papua.
Di akhir prosesi penyerahan, Gubernur Khofifah memberikan arahan khusus kepada para kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta para pendamping di Jawa Timur yang akan mengawal proses belajar para siswa Papua. Ia meminta para pendidik tidak hanya memosisikan diri sebagai guru di kelas, melainkan juga sebagai orang tua, sahabat, dan teladan yang penuh kasih bagi para siswa selama merantau.
“Jarak geografis tidak boleh menjadi jarak kesempatan. Pendidikan harus menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi anak-anak Papua dengan masa depan Indonesia. Jawa Timur siap menyambut dengan hati dan mendidik dengan dedikasi,” pungkasnya. [mut.wwn]


