27.2 C
Sidoarjo
Sunday, July 12, 2026
spot_img

Peternakan Ayam Skala Kecil, Kesepian di Tengah Keramaian Aksi Penyelamatan

Oleh :
M Chairul Arifin
Penulis Senior Purnabakti Kementan ; Alumni Unair

Kembali aksi peternak ayam petelur yang pernah mandiri di kawasan Blitar Raya dan sekitarnya menghebohkan masyarakat. Jika pada aksi sebelumnya mereka membagikan telur secara gratis, kali ini mereka memilih menjual telur langsung kepada konsumen dengan harga yang menurut mereka masih memberikan keuntungan yang wajar.

Fenomena ini sesungguhnya bukanlah kejadian baru. Sejak lama peternak ayam petelur menghadapi persoalan yang berulang setiap kali harga telur jatuh. Pilihan menjual langsung kepada konsumen menunjukkan semakin menurunnya kepercayaan peternak terhadap saluran distribusi pasar yang selama ini ada. Mereka mengambil alih fungsi pemasaran karena merasa sistem yang berjalan belum mampu melindungi kepentingan mereka.

Bahkan, tidak sedikit yang menilai bahwa tata niaga yang ada, termasuk hubungan antarpelaku usaha dan peran pemerintah, belum mampu mencegah anjloknya harga telur di tingkat peternak.

Keadaan seperti ini seharusnya tidak terus berulang. Saluran distribusi pasar semestinya menjadi mitra peternak dalam menyalurkan produk secara adil dan berkelanjutan. Namun yang sering terjadi justru langkah-langkah jangka pendek, seperti imbauan kepada konsumen atau perusahaan untuk menyerap telur pada harga tertentu sesuai kesepakatan pemerintah dan pelaku usaha.

Kebijakan semacam itu memang dapat meredakan gejolak untuk sementara waktu. Akan tetapi, dalam jangka panjang persoalan mendasarnya tetap tidak terselesaikan. Ibarat api dalam sekam, masalah tersebut terus membesar dan pada akhirnya kembali membebani peternak ayam skala kecil yang tetap merasa kesepian di tengah berbagai aksi penyelamatan.

Berita Terkait :  Memasuki Bulan Ramadan, Ketersediaan Bahan Pokok di Kabupaten Malang Aman

Ada satu hal mendasar yang tampaknya masih terlupakan, yaitu absennya kelembagaan ekonomi peternak yang kuat dan berkelanjutan. Padahal, kelembagaan inilah yang seharusnya menjadi pelindung ketika peternak berhadapan dengan struktur pasar yang bersifat oligopolistik, monopolistik, maupun persaingan yang sangat ketat.

Pengalaman menunjukkan bahwa kelembagaan seperti KPBS Pangalengan pada usaha sapi perah, ZEN-NOH di Jepang, maupun Fonterra di Selandia Baru dapat menjadi penyangga utama dalam menghadapi dinamika pasar. Melalui kelembagaan yang kuat, peternak memahami bahwa mereka sesungguhnya berada dalam suatu sistem industri yang terintegrasi. Dengan demikian, risiko kerugian tidak semata-mata ditanggung oleh jatuhnya harga telur, melainkan dapat disebarkan dan dikelola di sepanjang rantai usaha yang terintegrasi.

Pada akhirnya, peternak akan semakin menyadari bahwa efisiensi usaha memang penting, tetapi tidak cukup. Tanpa kelembagaan ekonomi yang kokoh dan berkelanjutan, peternak ayam skala kecil akan terus menghadapi persoalan yang sama dan tetap merasa kesepian di tengah berbagai upaya penyelamatan. Sebaliknya, dengan kelembagaan yang kuat, mereka akan mampu membedakan mana langkah strategis yang bersifat sesaat dan mana pembangunan usaha yang benar-benar menciptakan ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

Masalah utama peternak ayam skala kecil bukan sekadar harga telur, melainkan ketiadaan kelembagaan ekonomi yang mampu menjadi “penyangga” ketika pasar bergejolak. Pesan inilah yang membuat penjelasanl memiliki sudut pandang yang berbeda dibanding sekadar tulisan tentang fluktuasi harga telur.

Berita Terkait :  Peringati HUT RI, Pemdes Karang Rejo Gresik Gelar Lomba Volly Dasteran

Menjadi penyangga berarti kelembagaan eknominya itu lebih efisien dalam arti terintegrasi yang mampu diperkenankan fungsi sebagai profit sharing systems. Menjadikan usaha budi daya unggas kecilnya tu hanyalah bagian kecil dari upaya yang terintegrasi yang lebih besar.

———— *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!