Kab Malang, Bhirawa – Kabupaten Malang salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur (Jatim) merupakan pengirim Pekerja Migran Indonesia (PMI) terbesar. Berdasarkan data Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) per 30 Juni 2026, totalnya sebanyak 2.276 warga kabupaten setempat mencari keberuntungan untuk memperbaiki ekonominya di luar negeri. Dari jumlah tersebut, tertinggi PMI berasal dari wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan sebanyak 216 orang, jika dibanding kecamatan lainnya di Kabupaten Malang.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, Yudhi Hindarto, Kamis (2/7), kepada wartawan mengatakan selain PMI asal Kecamatan Sumbermanjing Wetan jumlahnya tertinggi, kedua disusul Kecamatan Kalipare yakni sebanyak 194 orang. PMI yang bekerja di luar negeri paling sedikit di wilayah Malang Barat, Kecamatan Pujon, yakni hanya enam orang, yang jumlahnya tidak sebanyak PMI asal Malang Selatan.
“Dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang hampir masing-masing kecamatan warganya menjadi PMI di luar negeri,” terangnya.
Menurutnya, hampir seluruh wilayah di kawasan Malang Selatan mengirimkan ratusan pekerja migran. Dan hanya sebagian kecil kecamatan di wilayah tersebut yang angka PMI di bawah seratus orang. Diantaranya wilayah Kecamatan Ampelgading yang tercatat 93 orang, Sumberpucung 95 orang, dan Kepanjen 70 orang. Sedangkan dengan tingginya angka PMI dari wilayah Sumbermanjing Wetan, hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan kondisi geografis. Sehingga karakteristik wilayah Sumbermanjing Wetan cenderung panas dan gersang membuat sektor lapangan kerja lokal menjadi terbatas. Dari kondisi itulah, maka mayoritas masyarakat hanya mengandalkan pendapatan sebagai buruh tani dan nelayan.
Sementara, kata Yudhi, cara pandang mereka bekerja di luar negeri itu agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan meningkatkan taraf hidup ekonomi. Sedangkan para PMI asal Kabupaten Malang tersebut mayoritas memilih negara Asia Timur., seperti Hongkong dan Taiwan, menjadi negara tempat bekerja yang paling favorit. Berdasarkan data Disnaker, tercatat ada 933 warga yang bekerja di Hongkong, disusul, lalu Taiwan sebanyak 844 orang.
“Tapi ada juga yang memilih negara tujuan di Asia Tenggara, seperti Malaysia sebanyak 137 orang dan Singapura 79 orang,” paparnya.
Perlu diketahui, para PMI asal Kabupaten Malang yang bekerja di luar negeri, rata-rata faktor ekonomi yang menjadi pendorong utama. Mengapa Kabupaten Malang konsisten berada di jajaran teratas wilayah pengirim PMI, baik di tingkat Jatim maupun nasional dengan rata-rata keberangkatan mencapai belasan ribu PMI setiap tahunnya, fenomena ini didorong oleh beberapa realitas ekonomi di lapangan.
Seperti keterbatasan lapangan kerja melawan pertumbuhan angkatan kerjasebagai wilayah terluas kedua di Jatim. Sementara, Kabupaten Malang memiliki jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar. Namun, ketersediaan lapangan kerja lokal di sektor formal sering kali tidak sebanding dengan ledakan jumlah pencari kerja baru setiap tahunnya. Faktor selanjutnya, selisih pendapatan yang signifikan bagi banyak warga, seperti Upah Minimum Regional (UMR) atau penghasilan dari sektor pertanian lokal dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat.
Selain itu, dorongan kesejahteraan keluarga yang sebagian besar motif utama warga untuk memutuskan bekerja ke luar negeri adalah mencari investasi jangka panjang keluarga. Seperti biaya pendidikan anak hingga ke jenjang perguruan tinggi, membangun atau merenovasi rumah tinggal yang layak, dan untuk modal usaha mandiri ketika nanti kembali ke tanah air purna PMI. [cyn.kt]


