Akhir-akhir ini, dinamika hubungan antara mahasiswa dan pemerintah kembali menjadi sorotan publik. Muncul berbagai perdebatan di masyarakat mengenai batas antara kebebasan berekspresi dan etika dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Sebagai bagian dari masyarakat intelektual, sikap kritis mahasiswa sejatinya merupakan sebuah keniscayaan, bukan sekadar hiasan almamater.
Sikap kritis yang dibangun di atas landasan akademis berfungsi sebagai alarm pengingat bagi pemangku kebijakan. Ketika pemerintah merumuskan sebuah kebijakan, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai iron stock dan agent of change untuk menelaah dampak kebijakan tersebut bagi masyarakat luas. Kritik yang dilayangkan bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan perwujudan kepedulian terhadap nasib bangsa. Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh diabaikan: kritis harus selalu diiringi dengan etika dan berbasis pada data yang akurat. Ruang demokrasi yang sehat menuntut adanya keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan kesantunan dalam berdialog. Aksi turun ke jalan memang dijamin oleh konstitusi, tetapi penyampaian aspirasi akan jauh lebih efektif dan bermartabat jika diwujudkan melalui kajian ilmiah, diskusi konstruktif, serta tawaran solusi alternatif yang solutif.
Pemerintah sendiri didorong untuk senantiasa akomodatif dan terbuka terhadap masukan dari kaum intelektual. Sebaliknya, mahasiswa juga harus mampu menempatkan diri sebagai mitra kritis yang objektif. Menjadi kritis bukan berarti menentang segala bentuk kebijakan tanpa argumen yang jelas, melainkan mengapresiasi hal yang sudah berjalan baik sembari meluruskan hal yang dirasa keliru.
Mari kita jaga marwah kampus sebagai pusat nalar yang objektif dan rasional. Jangan biarkan nalar kritis mahasiswa tergerus oleh sikap apatis maupun kepentingan politik praktis tertentu. Dengan sinergi yang baik antara mahasiswa yang kritis, cerdas, dan pemerintah yang akomodatif, kita dapat mengawal arah pembangunan bangsa menuju ke arah yang lebih adil dan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.
Adinda Putri Salsabila
Keputih, Sukolilo – Surabaya


