“ Rugi Berjalan Rp750 Juta Dinilai Wajar di Fase Awal, BTT Optimistis Setor PAD Rp200 Juta pada 2027 “
Kota Probolinggo, Bhirawa – Komisi II DPRD Kota Probolinggo melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan operasional Badan Transfusi dan Transportasi (BTT) Perseroda Kota Probolinggo. Dari hasil pemantauan tersebut, dewan menilai kinerja perusahaan daerah yang baru beroperasi sekitar enam bulan itu menunjukkan perkembangan positif dan sesuai dengan ekspektasi.
Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo menyampaikan, monitoring dilakukan sebagai bentuk pengawasan terhadap penyertaan modal yang telah diberikan Pemkot kepada BTT Perseroda. Sebab, DPRD sebelumnya telah menyetujui pemisahan penyertaan modal melalui Peraturan Daerah (Perda) yang nilainya mencapai Rp18,45 miliar.
“Komisi II memiliki kewajiban untuk terus memonitor perkembangan BTT. Dari laporan yang kami terima, perkembangannya cukup baik dan sesuai ekspektasi,” ujarnya usai kegiatan monitoring, Rabu (18/6).
Menurutnya, hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan DPRD terkait skema pencairan penyertaan modal berikutnya. Apakah penyertaan modal akan dipercepat atau tetap dilakukan secara bertahap sesuai perencanaan.
Ia menjelaskan, dari total modal yang telah disalurkan, masih terdapat lebih dari Rp2 miliar yang belum digunakan. Namun kondisi tersebut bukan karena minimnya aktivitas usaha, melainkan karena penggunaan anggaran harus mengikuti tahapan regulasi yang berlaku.
“Ini menjadi dasar bagi kami untuk mendorong pemerintah kota dan DPRD agar mendukung percepatan pengembangan usaha BTT,” katanya.
Meski secara laporan keuangan masih mencatat rugi berjalan sekitar Rp750 juta, Komisi II menilai kondisi itu masih wajar mengingat usia operasional perusahaan yang masih sangat muda.
“Baru beroperasi sekitar enam bulan. Yang menarik, pada awal 2027 nanti BTT diproyeksikan sudah bisa menyumbangkan PAD hampir Rp200 juta. Menurut saya itu cukup bagus untuk perusahaan daerah yang baru berjalan,” tambahnya.
DPRD pun optimistis kinerja perusahaan akan semakin meningkat pada 2027. Apalagi manajemen yang saat ini menjalankan BTT dinilai bekerja secara profesional dan tidak terpengaruh kepentingan politik praktis.
Sementara itu, Direktur BTT Perseroda Kota Probolinggo, Noviyadi menjelaskan bahwa operasional perusahaan baru berjalan penuh sejak Juni 2026. Sebelumnya, manajemen masih fokus menyelesaikan berbagai regulasi dan persiapan usaha.
Saat ini BTT telah memiliki lima unit kendaraan operasional yang terdiri atas dua unit baru dan tiga unit bekas. Menurutnya, kerugian yang tercatat dalam laporan keuangan merupakan konsekuensi normal pada fase awal pembentukan perusahaan.
“Rugi berjalan sekitar Rp700 juta itu wajar karena di awal perusahaan banyak melakukan pembelanjaan dan investasi. Itu akumulasi dari awal berdiri hingga bulan keenam ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, beban operasional perusahaan relatif efisien dengan nilai sekitar Rp68 juta per bulan yang mencakup gaji pegawai, listrik, air, internet, dan kebutuhan operasional kantor lainnya.
Untuk pendapatan, BTT mulai mencatat pemasukan signifikan pada Juni 2026. Dari empat unit kendaraan yang telah beroperasi, perusahaan berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp80 juta dalam satu bulan.
“Karena operasional penuh baru berjalan bulan Juni, maka pendapatan baru bisa terlihat sekarang. Dari empat kendaraan yang aktif, pendapatannya sudah sekitar Rp80 juta,” katanya.
Noviyadi optimistis target kontribusi PAD sebesar Rp200 juta pada tahun pertama dapat tercapai. Nilai tersebut merupakan laba bersih setelah dikurangi pajak dan pembagian keuntungan kepada pemerintah daerah.
Sumber pendapatan BTT berasal dari layanan transportasi yang dikelola perusahaan, pengelolaan publikasi, serta usaha penyediaan air bersih yang ditargetkan mulai menghasilkan pendapatan pada Agustus mendatang.
“Kami optimistis target PAD sekitar Rp200 juta bisa tercapai. Selain dari sektor transportasi dan publikasi, mulai Agustus nanti kami juga akan memperoleh pendapatan dari layanan suplai air bersih,” pungkasnya. [fir.kt]


