Kabupaten Probolinggo, Bhirawa
Ribuan warga Tengger memadati kawasan Pura Luhur Poten dan kawah Gunung Bromo pada puncak perayaan Yadnya Kasada 1948 Saka, Senin (1/6) dini hari. Di tengah suasana sakral yang diselimuti kabut tebal dan udara pegunungan yang menusuk, tiga calon Dukun Pandita resmi dikukuhkan menjadi pemimpin spiritual baru masyarakat Tengger.
Pengukuhan tersebut menjadi salah satu rangkaian penting dalam perayaan Kasada tahun ini. Ketiga Dukun Pandita baru berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura dan Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Prosesi pengukuhan berlangsung di Pura Luhur Poten dan dipimpin langsung oleh Romo Dukun Pandita Sutomo. Ribuan umat yang hadir mengikuti jalannya ritual dengan khidmat, termasuk jajaran Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang turut menyaksikan momen sakral tersebut.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menjelaskan bahwa pengukuhan Dukun Pandita tidak dilakukan secara instan.
“Sebelum resmi menyandang status tersebut, para calon harus melalui berbagai tahapan pembinaan dan ujian adat sebagai bentuk kesiapan menjalankan tugas keagamaan di tengah masyarakat Tengger” Ujarnya saat ditemui di prosesi resepsi kasada, Sabtu (31/6) malam.
Menurutnya, keberadaan Dukun Pandita memiliki peran penting karena tidak hanya memimpin upacara keagamaan, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Setelah prosesi mulunen selesai, rangkaian Yadnya Kasada dilanjutkan dengan ritual labuh sesaji ke kawah Gunung Bromo.
Masyarakat membawa aneka hasil bumi, buah-buahan, sayuran hingga hasil peternakan untuk dipersembahkan sebagai bentuk syukur atas berkah dan rezeki yang diterima selama setahun terakhir.
“Larung atau labuh sesaji ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Tengger atas berkah hasil bumi yang diberikan. Karena itu setiap Bulan Kasada, hasil pertanian dan berbagai persembahan harus dilabuhkan ke kawah Gunung Bromo,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, Kasada bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana memperkuat hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta.
“Harapannya kerukunan masyarakat tetap terjaga. Keharmonisan dengan Tuhan dan alam juga harus terus dipelihara agar kehidupan masyarakat Tengger senantiasa damai dan sejahtera,” katanya.
Rangkaian Kasada sendiri diawali dengan kirab ancak yang berisi sesaji dari masing-masing desa. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sejarah Kasada, pengukuhan Dukun Pandita, doa bersama, hingga pelarungan sesaji ke kawah Bromo yang menjadi puncak ritual.
Sementara itu, Romo Dukun Pandita Agung Hudoyo berharap pelaksanaan Yadnya Kasada tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Tengger. Ia mendoakan agar hasil pertanian dan peternakan semakin melimpah serta kehidupan umat senantiasa diliputi kedamaian dan keharmonisan.
Usai prosesi pemujaan berakhir, arus masyarakat Tengger perlahan bergerak meninggalkan Pura Luhur Poten menuju kawah Gunung Bromo. Dengan memanggul ongek berisi aneka hasil panen dan persembahan lainnya, mereka menapaki lautan pasir menuju titik pelaksanaan ritual labuh sesaji.
Di tengah dinginnya udara pegunungan bromo dan tebalnya kabut yang menyelimuti, persembahan itu kemudian dihaturkan sebagai simbol rasa syukur atas berkah kehidupan yang diterima selama setahun terakhir.
Meski kawasan Bromo diselimuti kabut tebal sejak malam hingga dini hari, seluruh rangkaian ritual berlangsung lancar. Kondisi alam tersebut justru menambah suasana khusyuk dalam pelaksanaan salah satu tradisi spiritual terbesar masyarakat Tengger yang terus lestari hingga kini. [fir.kt]


