Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) sedang menggerakkan perekonomian dari desa. Upaya ini dilakukan agar geliat industri dan mata rantai ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
Kepala Disperindag Provinsi Jawa Timur, Dr. Iwan, S.Hut., M.M., diwakili oleh Lucky, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, menjelaskan program Desa Devisa yang digagas Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Program ini bertujuan membantu desa-desa di Jatim mengembangkan produk lokal sehingga mampu menembus pasar ekspor.
“Contohnya di Malang, ada Desa Anggrek yang ada di daerah Singosari dan Songson Malang. Di sana ada 20 Desa, yang masing-masing memiliki potensi perdagangan. Nah, untuk Desa Anggrek ini kita sudah lepas ekspor sekali ke Taiwan untuk komoditas tanaman hias,” ujar Lucky menambahkan.
Saat ini jumlah Desa Devisa di seluruh Jawa Timur mencapai 313 desa. Ada perbedaan antara Desa Devisa dan desa biasa, salah satunya adalah pengurus desa dan pengurus koperasi desa telah mendapatkan pembinaan intensif dari Disperindag Jatim.
“Berbagai program seperti Coaching Program for New Exporter (CPNE) kami intensifkan untuk para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang ada di Desa Devisa.
Selain itu, Disperindag Jatim juga secara aktif membuka peluang perdagangan baru dan mencarikan pasar baru bagi pelaku IKM di Jatim. Untuk itu Disperindag berkoordinasi dengan LPEI dan Kementerian Perdagangan RI guna membuka akses pasar baru.
“Diantaranya kami terus melakukan koordinasi dengan Atase Perdagangan (Atdag) yang merupakan perwakilan diplomatik Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di luar negeri untuk membuka peluang ekspor bagi pelaku IKM yang ada di Jatim,” urai Lucky.
Desa Devisa memiliki berbagai komoditas unggulan berkelas ekspor. Lucky memberikan contoh beberapa wilayah dan komoditasnya, antara lain Desa Wedani di Gresik dengan Batik Tenun, serta Desa Srowo di Gresik dengan produk kerupuk.
“Artinya, produk-produk yang ada di Desa Devisa memiliki kualitas yang siap ekspor,” pungkasnya menutup. [aya.kt]


