28 C
Sidoarjo
Thursday, May 28, 2026
spot_img

Ibadah Kurban Supremasi Kemanusiaan


Oleh :
Syafiuddin Syarif
Guru SMAN 1 Sumenep

Cinta tidak hanya kata-kata. Tapi, butuh pembuktian. Membuktikan cinta harus melalui sebuah ujian. Inilah ujian cinta yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Tidak hanya bukti cinta, tapi didalamnya terdapat ajaran supremasi kemanusiaan.

Ibrahim adalah nabi sekaligus rasul. Beliau salah satu nabi yang sangat dicintai oleh Allah. Saking dicintainya, dia diberi gelar khalilullah, kekasih Allah. Diberi julukan demikian karena beliau mendahulukan atau mengutamakan perintah Allah di atas segalanya. Selain itu, beliau sabar dalam menghadapi ujian, serta memiliki tauhid yang murni.

Nabi Ibrahim memiliki istri bernama Sarah. Sekian tahun membina keluarga tidak memperoleh anak keturunan. Beliau sangat mengharapkan sekali kehadiran keturunan sebagai penyemangat dalam hidup sekaligus penerus perjuangan dakwah risalah kenabian.

Sebab tidak kunjung memiliki keturunan, beliau memutuskan menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hajar. Tak lama menikah dengan Hajar, akhirnya Nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Anak yang sangat diharapkan dan dinantikan kehadirannya.

Ismail adalah anak semata wayang. Ia sangat dicintai dan disayangi. Kehadirannya menjadikan hari-hari nabi Ibrahim penuh dengan kebahagiaan dan semakin semangat dalam menjalani hidup. Ismail sering diajak bermain dan diajak jalan layaknya anak kecil.

Pada sebuah malam ujian cinta datang. Dalam tidurnya Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya Ismail. Nabi Ibrahim bimbang sekaligus ragu, Mimpi ini adalah wahyu perintah atau hanya bunga tidur? Hari-hari Nabi Ibrahim penuh dengan kegalauan. Beliau tidak yakin harus menyembelih anak semata wayang yang sangat ia cintai.

Pada malam kedua, Nabi Ibrahim bermimpi hal yang sama. Beliau semakin galau. Hingga malam ketiga, mimpi itu hadir dan terulang lagi. Akhirnya, Nabi Ibrahim berkesimpulan bahwa mimpi yang sama berturut-turut selama tiga malam tidak sekedar bunga tidur, melainkan wahyu berisi perintah dari Allah SWT menyembelih anak satu-satunya yang sangat ia cintai.

Berita Terkait :  MK Hapus Syarat Capres

Untuk melaksanakan perintah yang sangat berat dan sangat tidak masuk akal, Nabi Ibrahim mencoba mengajak anaknya berdiskusi. Beliau sampaikan bahwa telah mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa perintah menyembelih Ismail. Sungguh di luar dugaan jawaban anak kecil bernama Ismail. Ia katakan, “Kalau itu perintah Allah SWT, laksanakanlah. Inshaallah saya sabar menghadapinya”. Tidak ada kata-kata penolakan atau bahkan memberangkatkan. Sehingga Nabi Ibrahim akan melaksanakan perintah itu dengan tulus ikhlas sebagai pembuktian cinta kepada Allah SWT.

Hingga pada suatu pagi, Nabi Ibrahim meminta Hajar memandikan Ismail sampai betul – betul tampak bersih. Kemudian, Ismail dikenakan pakaian baru, rapi, dan indah. Lalu, Nabi Ibrahim mengajak Ismail pergi keluar dari rumah atau jalan-jalan menuju sebuah tempat.

Tiba di sebuah tempat, Nabi Ibrahim mengajak Ismail duduk. Secara pelan dan halus dkatakan bahwa saat ini, dan di tempat ini akan melaksanakan perintah Allah menyembelih Ismail. Ismail tidak berontak, bahkan dengan secara sadar dan sabar mengatur posisi nyaman, tidur terlentang dengan bagian leher sedikit lebih tinggi. Harapannya, Nabi Ibrahim akan leluasa saat menggorok lehernya, serta sebisa mungkin dilakukan dengan cepat menghindari rasa kasihan.

Namun, sungguh ajaib. Ketika Nabi Ibrahim menempelkan mata pisau tajam ke leher Ismail dan siap menggoroknya, seketika itu Allah SWT mengganti dengan seekor domba (kambing). Maka yang terpotong bukan leher Ismail, melainkan leher seekor domba. Kisah ini merupakan awal mula diwajibkannya perintah ibadah kurban.

Nabi Ibrahim AS telah membuktikan cintanya kepada Allah SWT. Ujian cinta berupa perintah menyembelih anak semata wayangnya dilakukan dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Nabi Ibrahim berhasil melalui ujian iman dengan tulus ikhlas.

Berita Terkait :  Memutus Rantai Rasisme Madura di Media Sosial

Peristiwa penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim merupakan sebuah konfirmasi atas kepercayaan sesat umat terdahulu. Akidah atau keyakinan salah menyebabkan mereka melakukan kebiasaan mengorbankan anak manusia. Mereka membunuh anak manusia sebagai persembahan kepada dewa atau pun berhala yang diyakini sebagai tuhan.

Satu jiwa anak manusia dipersembahkan sebagai penebus atas kemurkaan tuhan dewa atau berhala. Mereka menganggap tuhan marah, akhirnya terjadi kemarau panjang. Untuk itu, tuhan perlu di-service dengan disajikan persembahan berupa seorang anak manusia. Serangan wabah dan penyakit yang membunuh ratusan hingga ribuan umat manusia, diyakini sebagai akibat dari murka dewa. Kemurkaan dewa hanya bisa diredam dengan persembahan korban satu nyawa manusia.

Sebuah pilihan keyakinan yang salah. Keyakinan sesat ini akibat tidak ada pembimbing atau tindakan penolakan atas petunjuk ke arah yang lurus dan benar. Mereka tenggelam dalam persepsi dan khayalan terhadap zat maha penguasa kehidupan dengan ritual pengorbanan manusia. Sebuah keyakinan yang berakibat merendahkan bahkan menihilkan nilai kemanusiaan.

Menggantikan Ismail dengan seekor domba adalah sebuah afirmasi bahwa seorang anak manusia tidak bisa dan sangat tidak pantas dijadikan sebagai kurban dipersembahkan kepada dewa atau berhala. Manusia merupakan makhluk paling mulia daripada makhluk ciptaan lainnya. Saking mulianya iblis dan malaikat pun diperintahkan bersujud pada awal penciptaannya.

Hewan atau binatang derajatnya jauh di bawah manusia. Maka makhluk inilah yang paling pantas dijadikan sebagai kurban persembahan. Secara syariat, domba, kambing, unta, sapi, kerbau dan lainnya adalah binatang yang direkomendasikan sebagai hewan kurban.

Selanjutnya, syariat itu disempurnakan pada masa kenabian Muhammad SAW. Kurban dilakukan dengan niat semata-mata karena Allah SWT. Bukan untuk dipersembahkan kepada dewa, berhala, atau pun makhluk penunggu lainnya. Kemudian, daging hewan kurban diberikan kepada fakir miskin serta golongan lain yang berhak. Selain itu, ibadah kurban sunnah bagi yang mampu saja.

Berita Terkait :  Waspada Fenomena Resistensi Obat

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa membunuh satu manusia, sejatinya pembunuhan terhadap seluruh umat manusia. Dan menjaga kehidupan seorang umat manusia, hakekatnya telah menjaga kehidupan semua umat manusia. Begitu mulianya kedudukan seorang manusi. Ia harus dijaga dan diselamatkan dari berbagai hal yang menggangu terhadap keberlangsungan hidupnya.

Kemudian, jika peristiwa penggantian Ismail dengan domba kita tarik secara linier ke dalam ruang budaya (manusia dan kehidupannya), hal ini mengandung ajaran supaya kita konsisten menjaga dan menegakkan nilai kemanusiaan. Keselamatan jiwa harus dijamin, harga diri dan kehormatan harus ditegakkan, harta kekayaan harus aman, bahkan suasana batin kebahagiaan dan keceriaan seseorang harus diutamakan. Jangan dirampas atau dirusak dengan berbagai tindakan apapun, sebab hal itu berarti merusak dan menurunkan kemuliaan manusia.

Pun juga, kita tidak boleh mengorbankan orang lain demi tercapainya sebuah ambisi pribadi. Nafsu sekadar memperoleh validasi dalam kehidupan sosial harus dibangun dengan kompetensi diri sehingga bermartabat dan berdaulat. Tindakan mengorbankan orang lain demi meraih ambisi sebuah cara hina dan merendahkan nilai kemanusiaan. Jangan sampai memakan daging saudara sendiri demi meraih ambisi atau nafsu pribadi.

Nabi Ibrahim diuji cintanya oleh Allah SWT dengan perintah menyembelih anak semata wayangnya. Digantikannya Ismail dengan seekor domba sebuah afirmasi bahwa manusia sangat tidak pantas dijadikan sebagai kurban persembahan. Manusia adalah makhluk paling mulia yang harus dijaga jiwa, raga, harta, harkat, martabat, hingga suasana hatinya. Berkurban sejatinya menegakkan supremasi kemanusiaan. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!