30 C
Sidoarjo
Wednesday, May 27, 2026
spot_img

Dari Masjid Al Akbar ke Peternak Desa: Kurban, Ketahanan Pangan, dan Ekosistem Digital yang Menguatkan Jawa Timur

Surabaya, Bhirawa

Suasana khidmat Salat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya tidak hanya menegaskan nilai-nilai keimanan, pengorbanan, dan keteladanan nabi, tetapi juga memperlihatkan benang merah antara kebijakan pemerintah, peran peternak lokal, dan transformasi digital dalam penyediaan hewan kurban untuk ketahanan pangan masyarakat Jawa Timur.

Salat yang dimulai tepat pukul 06.08 WIB dipimpin Imam besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya KH Abdul Hamid Abdullah, sementara khutbah disampaikan Ketua Umum MUI Jatim Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar dengan tema Belajar dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk membina generasi unggul. Selaras dengan pesan khutbah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak umat meneladani keimanan, ketakwaan, keikhlasan, serta pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

“Keimanan dan ketakwaan yang diteladankan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS merupakan bentuk kepatuhan total kepada perintah Allah SWT. Keduanya memberikan pelajaran tentang ketakwaan dan keikhlasan serta pengorbanan dalam menjalankan perintah-Nya,” ujarnya.

Dalam konteks ketahanan pangan, momentum Idul Adha menjadi momen distribusi daging yang signifikan bagi masyarakat menengah ke bawah. Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi pada masyarakat yang menyalurkan hewan kurban untuk dibagikan kepada yang membutuhkan, serta mendoakan pelaksanaan ibadah haji agar berjalan lancar dan para jamaah kembali dengan predikat haji mabrur.

“Kita doakan saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kelancaran hingga kembali ke Tanah Air dengan predikat haji yang mabrur dan Hajjah mabruroh,” katanya.

Berita Terkait :  Dinkop UKM Jatim Serahkan Bantuan Alat Produksi, Tingkatkan Kapasitas Produksi BUMDes Bintang Jaya Sampang

Salah satu aspek menarik dari penyerahan hewan kurban di Al Akbar adalah kombinasi antara sapi lokal dan sapi hasil seleksi genetik impor yang menunjukkan keberagaman sumber protein hewani.

Gubernur Khofifah menyerahkan sapi kurban jenis Belgian Blue sebagai hewan kurban pribadinya, sementara secara simbolis juga menyerahkan sapi dari Presiden RI Prabowo Subianto berjenis Peranakan Ongole (PO).

Sapi Peranakan Ongole (PO) Presiden Prabowo berumur 6 tahun, tinggi 155,5 cm, panjang badan 174 cm, dan berat 1,1 ton; hasil ternak Akhmad Ritaudin asal Ds. Bluri, Kec. Solokuro, Kab. Lamongan.

“Sapi peranakan ongole ini merupakan sumber daya genetik hewan asli Indonesia atau plasma nutfah dengan keunggulan sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan panas, pakan limbah pertanian dan memiliki daya tahan terhadap penyakit,” jelasnya.

Kehadiran sapi PO ini menegaskan peran penting peternak lokal dan konservasi plasma nutfah dalam menjaga ketahanan produksi daging di wilayah yang memiliki tantangan iklim tropis.

Di sisi lain, sapi Belgian Blue yang diserahkan Gubernur Khofifah, berumur 4 tahun, tinggi 145 cm, panjang 200 cm, dan berat 1 ton, mewakili upaya peningkatan produktivitas daging melalui teknologi pemuliaan dan inseminasi buatan.

“Sapi ini memiliki ciri khas tubuhnya yang padat dengan otot bertumpuk atau yang dikenal sebagai “Double Muscles” atau otot ganda yang tidak dimiliki bangsa sapi lain. Tingkat pertumbuhan sapi ini cepat dan produksi daging yang lebih padat dan rendah lemak,” terangnya.

Berita Terkait :  Bupati Sumenep Serahkan Ribuan SK PPPK Paruh Waktu di GOR A Yani

Distribusi hewan kurban di Masjid Nasional Al Akbar tahun ini akan melibatkan penyembelihan 23 ekor sapi dan 49 ekor kambing, kegiatan pemotongan dan pendistribusian dijadwalkan dilaksanakan esok hari. Penyerahan hewan kurban dari Wakil Gubernur Emil Dardak dan Sekda Provinsi juga dilakukan kepada takmir masjid setempat, menunjukkan koordinasi antar-pemangku kepentingan untuk memastikan distribusi tepat sasaran.

Secara makro, data menunjukkan kesiapan Jawa Timur dalam menghadapi kebutuhan kurban tahun ini. Pada 2025 tercatat pemotongan qurban sebanyak 397.336 ekor, proyeksi kebutuhan 2026 meningkat menjadi 427.060 ekor.

“Alhamdulillah di Idul Adha 1447 Hijriyah 2026 Masehi ini stok hewan kurban di Jawa Timur sangat cukup, aman, dan sehat, itu dari berbagai kunjungan kami ke berbagai sentra sentra peternakan, sudah dilakukan vaksinasi, biosecurity dan pengobatan ternak di seluruh wilayah Jawa Timur,” tegasnya.

Dukungan sumber daya manusia dan infrastruktur juga menjadi faktor penting: 5.000 petugas pemeriksa kesehatan hewan disiagakan, terdiri dari 2.670 petugas pemerintah dan 2.400 dari perguruan tinggi serta organisasi profesi. Tersedia 2.318 lapak penjualan hewan kurban, 208 pasar hewan, 133 Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R), dan 25.140 lokasi pemotongan terdaftar di luar RPH-R.

Perkembangan pasar juga menunjukkan stabilitas harga kambing/domba dibanding akhir 2025, awal 2026. Harga yang paling diminati untuk qurban berada di kisaran Rp 3–5 juta per ekor. Lebih penting lagi, digitalisasi penjualan hewan kurban mulai menopang akses pasar bagi peternak.

Berita Terkait :  Ketahanan Pangan, Polres Situbondo Ajak Ponpes Manfaatkan Lahan Ditanami Jagung

“Yang juga cukup membahagiakan bahwa yang kita kunjungi rata-rata mereka menyampaikan penjualannya jauh lebih signifikan dibanding dengan tahun lalu, artinya bahwa semangat beribadah masyarakat Jawa Timur ini luar biasa dan peternak-peternak bisa membawa proses ini dengan sangat update karena banyak diantara mereka menjual secara digital jadi digital ekosistem itu sangat membantu baik bagi peternak maupun bagi pembeli,” pungkasnya.

Pernyataan itu menyorot bagaimana adopsi platform digital memperpendek rantai distribusi, membuka peluang pasar lebih luas, dan meningkatkan pendapatan peternak, khususnya di sentra-sentra seperti Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban yang mengembangkan sapi PO. Selain meningkatkan efisiensi transaksi, digitalisasi juga memudahkan transparansi informasi kesehatan hewan, harga, dan logistik distribusi daging qurban.

Dari sudut pandang ketahanan pangan, kombinasi faktor berikut menjadi catatan penting: keberlanjutan plasma nutfah lokal, penerapan teknologi peternakan untuk meningkatkan produktivitas, kesiapan infrastruktur pemotongan dan distribusi, serta integrasi pasar melalui ekosistem digital. Sinergi antara pemerintah provinsi, peternak, institusi akademik, dan pengelola masjid seperti Al Akbar menunjukkan bahwa momentum keagamaan juga dapat menjadi penguat sistem pangan dan ekonomi lokal.

Dengan semangat berbagi dan penguatan kapasitas produksi, Jawa Timur menatap Idul Adha sebagai momen ibadah sekaligus bagian dari strategi yang lebih luas untuk memastikan ketersediaan pangan hewani yang sehat, terjangkau, dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!