30 C
Sidoarjo
Sunday, May 24, 2026
spot_img

Pentingnya Adaptasi dan Penggunaan Teknologi Digital bagi Nahdlatul Ulama

Suasana Lailatul Ijtima’ MWC NU Kecamatan Benowo, di Kelurahan Kandangan.
Lailatul Ijtima’MWC NU Kecamatan BenowoBerlangsung Sukses dan Khidmat

Pentingnya Adaptasi dan Penggunaan Teknologi Digital bagi Nahdlatul Ulama

Oleh: Choirul Anam Djabar, Surabaya

Acara Lailatul Ijtima’Majelis Wakil Cabang (MWC)Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Benowo yang digelar di Kelurahan Kandangan, Jumat (22/5/26)berlangsung sukses dan khidmat. Acara ini menjadi ajang silaturahim dan penguatan organisasi bagi para pengurus Nahdlatul Ulama setempat.Acara diawali dengan salat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan salat Ghaib, pembacaan surat Yasin, dan Tahlil bersama.
“Sambutan-sambutan merupakan rangkaian acara berikutnya, di antaranya disampaikan oleh jajaran pengurus MWC NU Benowo yang membahas pentingnya pengaktifan kembali ranting-ranting, pengelolaan kas organisasi, serta pembentukan badan otonom seperti IPNU dan IPPNU, Anshor, Muslimat Jam’iyatul Qurra wal Hufadz, dan sebagainya untuk mengkader generasi muda.

“Ceramah Agama (Maudhatul Hasanah) fisampaikan oleh Direktur TV9, Dr. H. Ahmad Hakim Jayli, M.Si.. yang lebih akrab dengan panggilan Gus Hakim. Dalam ceramahnya, beliau menekankan beberapa poin penting. Di antaranya peran pemuda, yakni pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk tampil di kegiatan keagamaan dan mengelola aspek digital organisasi. “Strategi agar NU tetap relevan dengan kebutuhan zaman, NU termasuk aktif dalam penggunaan media sosial dan teknologi untuk dakwah,” kata Gus Hakim.

Lebih lanjut dikatakan, terdapat beberapa pesan kunci mengenai pemanfaatan teknologi untuk Dakwah. “Masyarakat saat ini, terutama generasi muda, sangat lekat dengan dunia digital. Oleh karena itu, dakwah tidak lagi bisa hanya mengandalkan metode konvensional, melainkan harus mulai merambah ke platform digital dan media sosial agar tetap relevan,” tegas Gus Hakim.

Berita Terkait :  Gelapkan Uang Tersangka Perjudian, Oknum Kades Pagak Kabupaten Malang Dibui

“Terkait pentingnya kaderisasi digital, ia mengungkapkan, pengurus organisasi didorong untuk memberikan ruang dan kepercayaan kepada generasi muda (kader muda) untuk mengelola aspek digital, seperti media sosial dan pembuatan konten kreatif. “Hal ini dikarenakan generasi muda lebih memahami dinamika teknologi masa kini,” ujar Gus Hakim.

“Strategi menghadapi perubahan zaman, transformasi digital dipandang sebagai kebutuhan untuk menjangkau masyarakat perkotaan. Sebagai contoh, inisiatif untuk mengelola masjid secara modern atau menyediakan akses digital di tempat ibadah adalah bagian dari cara agar NU dapat memberikan manfaat yang nyata di tengah perubahan pola hidup masyarakat.Secara keseluruhan, pesan utamanya adalah agar pengurus NU tidak gagap teknologi dan mampu mengoptimalkan alat digital sebagai sarana untuk syiar serta menyebarkan nilai-nilai keagamaan yang moderat.

Menurut Gus Hakim, organisasi perlu melakukan pengkaderan karena beberapa alasan mendasar. Di antaranya keberlangsungan organisasi. “Pengkaderan penting agar organisasi dapat terus berjalan dan melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pendiri atau pengurus sebelumnya, sehingga organisasi tidak mati di tengah jalan,” tegas Gus Hakim.

Menghindari kehilangan potensi, jika tidak dilakukan pengkaderan sejak dini, anak-anak muda yang memiliki potensi bisa diambil atau bergabung dengan organisasi lain, yang dianggap dapat membahayakan eksistensi organisasi utama. “Kita harus menyesuaikan dengan realitas zaman, mengingat lebih dari 60% penduduk Indonesia saat ini adalah anak muda.”Organisasi harus melakukan pengkaderan agar tetap relevan dan tidak hanya diisi oleh generasi tua saja,” tandas Gus Hakim.

Berita Terkait :  Bawaslu Kota Probolinggo Perkuat Jalan Menuju Satker

“Persiapan pemimpin masa depan, sesuai dengan pepatah syubbanul yaum rijalul ghad, pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Oleh karena itu, mereka perlu diberi ruang dan dilatih sejak dini agar siap memimpin organisasi di masa mendatang.

“Gus Hakim mengakui, terdapat beberapa kendala yang dihadapi remaja atau generasi muda dalam berpartisipasi di organisasi NU, di antaranya kurangnya ruang partisipasi. “Generasi muda sering kali tidak diberi ruang untuk tampil atau dilatih memimpin, sehingga mereka hanya diposisikan sebagai pendengar atau bahkan sering dimarahi, yang membuat mereka enggan untuk aktif,” ujar Gus Hakim.

“Selain itu, adanya ketidaksesuaian metode kegiatan. Banyak kegiatan organisasi yang dirasa kurang relevan dengan minat anak muda masa kini, seperti musik, olahraga, film, atau teknologi informasi (IT), sehingga mereka merasa tidak nyaman atau tidak tertarik untuk ikut serta. Di samping itu, juga belum adanya wadah spesifik.

“Di beberapa ranting, wadah seperti IPNU dan IPPNU belum terbentuk atau belum aktif, sehingga anak-anak muda tidak memiliki tempat untuk berkumpul dan berekspresi sesuai dengan usianya.Kurangnya pendampingan. Sering kali pengurus yang lebih senior tidak melakukan upaya jemput bola atau pendampingan yang tepat untuk mengarahkan potensi anak muda tersebut ke dalam organisasi,” tutur Gus Hakim.[ca.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!