Kab Malang, Bhirawa
Akibat kondisi ekonomi di negeri ini tidak stabil, hal ini berdampak turunnya daya beli masyarakat, yang langsung pada sepinya pasar-pasar tradisional di wilayah Malang Raya, termasuk di Kabupaten Malang, yang menjadi tantangan serius bagi para pedagang lokal belakangan ini.
Kondisi lesu ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang saling berkaitan, seperti adanya kenaikan harga kebutuhan pokok dari sisi suplai. Meski daya beli masyarakat sedang lemah, harga beberapa komoditas pangan utama justru mengalami lonjakan.
Kenaikan harga barang-barang, salah satunya beras premium dan minyak goreng yang membuat masyarakat semakin memperketat anggaran belanja mereka. Penurunan daya beli masyarakat di pasar tradisional tersebut juga adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dari sisi permintaan. Sehingga untuk menyiasati situasi ekonomi yang sulit ini, konsumen kini cenderung mengubah perilaku belanja mereka secara ekstrem.
Demikian yang disampaikan, salah satu pelaku usaha UMKM, yang juga sebagai dosen fakultas ekonomi di salah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang Imron Rosidin, Minggu (24/5), kepada Bhirawa.
Menurutnya, masyarakat kini cenderung memprioritaskan dan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan paling dasar, serta mengurangi pembelian lauk-pauk yang mahal, misalnya beralih dari daging ayam ke telur ayam.
Selain itu, masyarakat mencari alternatif untuk membeli yang murah, dan sebagian masyarakat mulai beralih ke komoditas pengganti yang lebih murah demi menghemat pengeluaran dapur.
Selain faktor murni ekonomi, dia melanjutkan, para pedagang di pasar tradisional juga merasakan dampak tidak langsung dari mekanisme program bantuan sosial, seperti program pangan atau Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena pasokan program tersebut seringkali diambil langsung dalam skala besar dari penggilingan atau distributor utama, rantai distribusi pasar tradisional berskala eceran (karungan) kehilangan sebagian pangsa pasar rutinnya.
“Tren perpindahan konsumen ke toko modern serta platform belanja online juga terus mengikis jumlah kunjungan harian ke lapak-lapak fisik di pasar tradisional,” tuturnya.
Sehingga dengan adanya keluhan para pedagang tradisional di Kabupaten Malang, kata Imron, harus ada upaya pemerintah daerah dalam penyelamatan dan solusi dengan keluhan para pedagang pasar tradisional. Dan ada beberapa langkah taktis dan strategis yang perlu dan sedang didorong oleh berbagai pihak.
Seperti pemerintah daerah menyelenggarakan pasar murah secara berkala melalui operasi pasar murah di berbagai titik, hal ini untuk membantu menstabilkan harga sekaligus memicu kembali perputaran uang di masyarakat. Karena saat ini para pedagang berharap bantuan sosial atau program pemenuhan gizi juga dapat melibatkan ekosistem pasar tradisional, misalnya dalam bentuk voucher atau pelibatan komoditas pasar.
Dan agar dampaknya bisa dirasakan langsung oleh pedagang kecil, dia menjelaskan, karena di beberapa area urban di Kabupaten Malang, daya beli di pasar tradisional sudah mulai kelihatan ada penurunan pembeli. Dan ada sebagian kini mulai menata ulang untuk disiapkan menjadi pusat kuliner atau sentra UMKM kreatif guna menarik kembali minat kunjungan masyarakat non-belanja harian.
“Kondisi ini memerlukan sinergi kuat antara kebijakan perlindungan ekonomi dari pemerintah daerah dan adaptasi dari para pedagang agar pasar tradisional tidak semakin kehilangan perannya sebagai urat nadi ekonomi rakyat,” pungkas Imron.
Hal ini juga dibenarkan, salah satu pedagang Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang Muhammad Arifin, dengan melemahnya daya beli masyarakat berkaitan dengan kondisi ekonomi yang membuat warga lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
“Masyarakat sekarang lebih memilih membeli kebutuhan pokok yang paling mendasar. Karena untuk membeli lauk atau kebutuhan tambahan dengan harga lebih mahal mulai dikurangi. Sehingga dirinya kini kehilangan omzet penjualan dan mengalami penurunan dibandingkan hari-hari biasa,” ujarnya. [cyn.kt]


