33 C
Sidoarjo
Sunday, May 24, 2026
spot_img

Isu Ekspor Satu Pintu Tekan IHSG, Investor Dinilai Salah Pahami Kebijakan

Kab Malang, Bhirawa

Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia sempat terjadi saat muncul isu kebijakan ekspor satu pintu dipicu oleh kesalahpahaman pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah. Sejumlah investor sebelumnya merespons negatif kabar tersebut,  karena muncul anggapan bahwa pemerintah akan mengendalikan harga komoditas hingga berada pada level rendah.

Persepsi itu, kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Malang Dr R Djoni Sudjatmoko, SE, MM, Minggu (24/5), kepada Bhirawa, memicu aksi jual dan penarikan dana oleh sebagian pelaku pasar, sehingga memberi tekanan terhadap pergerakan indeks saham. Namun dirinya menegaskan bahwa kebijakan ekspor satu pintu sejatinya tidak dimaksudkan untuk menekan harga komoditas.

“Kebijakan tersebut justru diarahkan untuk memperbaiki tata kelola perdagangan ekspor, khususnya dalam mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing, yang selama ini dinilai merugikan negara maupun pemegang saham publik,” paparnya.

Menurutnya, melalui mekanisme tersebut, pelaporan nilai ekspor perusahaan  diharapkan menjadi lebih transparan dan akurat. Dengan demikian, potensi pendapatan perusahaan dapat tercatat sesuai nilai sebenarnya dan tidak lagi disembunyikan melalui praktik manipulasi harga maupun volume ekspor. Sehingga membuat pasar sempat salah memahami kebijakan ini seolah-olah pemerintah ingin mengendalikan harga komoditas menjadi rendah.

Padahal, tujuan utamanya adalah meningkatkan transparansi dan mencegah kebocoran. Dalam kebijakan tersebut justru berpotensi menjadi sentimen positif bagi investor publik. Sebab, peningkatan transparansi dinilai dapat memperkuat fundamental perusahaan serta meningkatkan kepercayaan pasar terhadap laporan keuangan emiten.

Berita Terkait :  Silatnas IIBF Kota Batu Perkuat Jejaring Bisnis Nasional

“Meski sempat memicu gejolak di pasar modal, pelaku industri berharap pemerintah dapat memberikan penjelasan yang lebih komprehensif agar tidak terjadi kembali kesalahpahaman yang memicu kepanikan investor,” tutur Djoni.

Menariknya, kata dia, para analis dan pelaku pasar menilai bahwa penurunan tersebut lebih disebabkan oleh salah paham (miskonsepsi) dari para investor, bukan karena kebijakan itu sendiri berdampak buruk secara fundamental. Dan dalam isu tersebut banyak investor gelisah, karena mengira kebijakan satu pintu ini akan memperpanjang jalur birokrasi, memperlambat proses ekspor, atau bahkan membatasi volume ekspor komoditas andalan Indonesia.

Sentimen negatifnya telah memicu aksi jual jangka pendek (panic selling), terutama pada saham-saham sektor komoditas dan logistik, yang akhirnya menyeret turun IHSG. Padahal, tujuan utama dari sistem satu pintu (single window) atau integrasi sistem ekspor ini adalah kebalikannya.

Di kesempatan itu Djoni juga menyampaikan, bahwa implikasi birokrasinya, yakni  menyatukan berbagai pengurusan dokumen dari Kementerian dan lembaga yang  berbeda ke dalam satu platform digital. Sedangkan dalam transparansi dan kepastian untuk menekan biaya logistik siluman dan memperjelas waktu proses (dwelling time).

Sehingga dengan sistem kebijakan ekspor satu pintu bertujuan untuk pemberantasan ekspor ilegal dan memastikan seluruh komoditas yang keluar tercatat dengan benar, meningkatkan penerimaan negara, dan menjaga stabilitas harga domestik.

“Dampak terhadap IHSG dalam jangka pendek ini akan terjadi market shock. Karena pasar saham sering kali bereaksi negatif terhadap ketidakpastian atau regulasi baru sebelum mereka benar-benar memahami mekanisme penerapannya,” terang Djoni.

Berita Terkait :  58 Anak Perusahaan Balad Grup Siap Kembangkan Budidaya Lobster di Vietnam dan Indonesia

Sedangkan untuk jangka panjangnya, lanjut dia, begitu investor mulai menyadari bahwa kebijakan tersebut justru memangkas biaya operasional emiten dalam jangka panjang, pasar yang biasanya akan melakukan koreksi teknis (rebound) dan kembali menguat.

Catatan penting untuk investor, bahwa situasi seperti ini sering kali menjadi buying opportunity (kesempatan membeli) bagi investor, baik lokal maupun asing.

“Ketika harga saham-saham berfundamental bagus turun hanya karena sentimen salah paham, di situlah valuasi saham menjadi murah,” pungkasnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!