29 C
Sidoarjo
Thursday, May 21, 2026
spot_img

DKPP Kota Kediri Intensifkan Pemeriksaan Hewan Kurban

Kota Kediri, Bhirawa
Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mengintensifkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Pemeriksaan atau ante mortem dilakukan sejak 18 hingga 26 Mei 2026 di berbagai titik penjualan hewan kurban di Kota Kediri.

Pemeriksaan menyasar lapak dadakan di pinggir jalan, Pasar Hewan Muning, hingga pedagang rumahan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat dan bebas penyakit menular, terutama zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Kepala DKPP Kota Kediri, Un Achmad Nurdin, mengatakan pemeriksaan dilakukan oleh dua tim dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP yang terdiri dari 11 personel. Tim I bertugas di Kecamatan Mojoroto, sedangkan tim II melakukan pemeriksaan di Kecamatan Kota dan Pesantren.

“Pemeriksaan dilakukan dengan pengamatan dari luar seperti kondisi mata, bulu, hingga memastikan tidak ada cacat tubuh. Tujuannya memastikan ternak yang diperjualbelikan sehat dan bebas penyakit, terutama zoonosis,” jelasnya, Kamis (21/5).

Menurutnya, hewan kurban yang diperjualbelikan juga harus dipastikan menghasilkan daging ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal. Pada hari ketiga pemeriksaan, Rabu (20/5), petugas menemukan satu ekor ternak mengalami penyakit mata dan satu ekor lainnya terindikasi scabies di wilayah timur Kecamatan Pesantren. “Penyakit mata dan scabies ini menular sehingga harus segera diisolasi dan tidak dicampur dengan ternak sehat karena penularannya cukup cepat,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Berjuang Menerapkan Etika Komunikasi Politik Nasional

Sementara itu, Staf Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Kota Kediri, Indra Sukma Putra, menyebut secara umum kondisi hewan kurban yang diperiksa masih dalam batas aman. Temuan seperti iritasi mata, gatal yang diduga scabies, hingga ternak yang tampak lesu dinilai masih dapat ditangani.

“Secara keseluruhan aman dari penyakit zoonosis yang sangat dikhawatirkan seperti antraks. Untuk penyakit mulut dan kuku (PMK) serta lumpy skin disease (LSD) juga aman karena vaksinasi rutin terus dilakukan,” terangnya.

DKPP juga mengimbau para pedagang menjaga kebersihan kandang dan pola makan ternak. Pedagang diminta menghindari pemberian pakan hijauan muda yang berpotensi menyebabkan diare pada ternak. Selain itu, kandang harus rutin dibersihkan dan kebutuhan minum hewan tetap tercukupi.

Indra menambahkan, pengawasan kesehatan hewan kurban dilakukan melalui dua tahap, yakni ante mortem sebelum penyembelihan dan post mortem setelah penyembelihan dengan pemeriksaan organ-organ hewan. Lapak yang telah diperiksa nantinya akan diberi label sebagai tanda telah melalui pemeriksaan kesehatan.

Di sisi lain, Juni, salah satu pedagang ternak di Banjarmlati, mengaku hewan yang dijualnya didatangkan dari Trenggalek. Selama perawatan, ternak rutin diberi pakan ramban dan air minum yang cukup serta kandang dijaga tetap bersih. “Kalau ada ternak sakit langsung dipanggilkan dokter hewan,” kata Juni.

Ia menyebut permintaan hewan kurban tahun ini meningkat meski harga jual sedikit menurun dibanding tahun lalu. Saat ini harga hewan yang dijual berkisar Rp 2,7 juta hingga Rp 4 juta per ekor. “Semoga hewan-hewan di sini sehat semua supaya bisa dibuat kurban dan dagingnya aman dikonsumsi,” tambahnya.[van.nov.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!