Surabaya, Bhirawa
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar wisuda ke 119 di Graha Unesa, Surabaya. Pada wisuda Unesa kali ini memberikan apresiasi terhadap prestasi akademik kepada mahasiswa S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang berhasil lulus dalam waktu singkat selama tujuh semester, Rabu (29/4).
Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., mengatakan bahwa tidak boleh ada mahasiswa yang berhenti kuliah akibat ketidak mampuan membayar pendidikan. “Kami selalu memberitahu para mahasiswa kami bahwa tidak boleh ada yang drop out (do) hanya karena ketidakmampuan membayar biaya pendidikan dengan alasan menghadapi kendala ekonomi mendadak seperti orang tua yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga pihak kampus telah menyiapkan skema beasiswa khusus bagi mereka yang terdampak masalah finansial,” jelasnya.
Lanjut Nurhasan menjelaskan bahwa komitmennya untuk tidak menaikkan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi seluruh mahasiswa. “Unesa pada tahun ini tidak menaikan UKT kepada semua jurusan,” ucapnya.
Pada cara tersebut Rektor Unesa memberi hadia kepada mahasiswa mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) berupa menjadi menjadi pegawai tetap di lingkungan UNESA. Nurhasan menambahkan UNESA kini mulai mengintegrasikan materi kecerdasan buatan (AI) ke dalam berbagai program studi guna mencetak lulusan yang adaptif dan kompetitif.
“Kampus terus melakukan evaluasi serta kajian mendalam terkait relevansi program studi dengan kebutuhan industri agar tercipta keselarasan antara dunia pendidikan dan lapangan kerja,” Imbuhnya
Ia menargetkan lulusannya tidak hanya tangguh sebagai pencari kerja, tetapi juga dibekali kemampuan wirausaha agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Sementara itu, Mahasiswa S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB), Elpanta Tarigan menceritakan menyelesaikan studi S1 dengan skripsi mengenai peran Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) di Lamongan.
“Saya ingin lebih mendalami inklusi itu sebenarnya apa, dimana inklusi tidak hanya soal fasilitas, tapi bagaimana masyarakat menerima dan bersosial dengan teman-teman disabilitas,” Pungkasnya.
Tarigan menyampaikan tantangan mulai dari sering terbentur benda di atas kepala hingga kesulitan mencari pakaian dan alas kaki yang harus dipesan secara khusus. “Saya ingin menjadi guru atau dosen di Medan, karena di Sumatera Utara setahu saya belum ada jurusan Pendidikan Luar Biasa di kampus negeri dan ingin membangun Medan,” Tuturnya.
Tarigan berpesan dengan kemauan yang kuat, semua hambatan tidak ada bisa di lalui, walaupun keterbatasan fisik maupun budaya, terpenting bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat. [ren.wwn]


