Kota Mojokerto, Bhirawa
Riuh tabuhan gamelan, aroma dupa yang menguar perlahan, serta langkah khidmat para peserta kirab menyelimuti tepian Sungai Ngotok, Sabtu (18/4). Di tengah suasana yang sarat nuansa budaya itu, Mojotirto Festival 2026 kembali digelar sebagai peristiwa tahunan bukan sekadar tontonan, melainkan ruang perenungan tentang air, kehidupan dan warisan Peradaban Majapahit.
Festival yang telah menjadi agenda budaya Kota Mojokerto ini menghadirkan makna mendalam. Di balik prosesi adat, doa-doa yang dipanjatkan, dan penyatuan air dari berbagai sumber mata air, tersimpan pesan penting tentang rasa syukur atas karunia alam sekaligus ajakan menjaga keseimbangan lingkungan untuk masa depan.
Puncak acara ditandai dengan prosesi Larung Tirta Amerta, ritual melarung air suci ke Sungai Ngotok. Sebelum itu, masyarakat terlebih dahulu mengikuti rangkaian Umbul Dungo, sebuah prosesi spiritual yang menghadirkan suasana hening dan penuh penghormatan terhadap alam semesta.
Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta Arisandi dalam sambutannya menegaskan, Kota Mojokerto memiliki kekayaan alam yang istimewa. Secara geografis, wilayah ini dikelilingi tujuh aliran sungai yang sejak dahulu menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat.
Sungai Sadar, Sungai Ngrayung, Sungai Brangkal, Sungai Ngotok, Sungai Brantas, Sungai Watudakon, dan Sungai Cemporat bukan hanya bentang alam, tetapi bagian dari sejarah panjang tumbuhnya peradaban di kawasan ini.
”Air adalah sumber kehidupan. Maka Bumi Majapahit ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Kita berharap kekayaan sumber daya air ini menjadi sumber kesejahteraan dan pendorong pertumbuhan ekonomi rakyat, sekaligus menjadi identitas Kota Mojokerto sebagai kota berbasis sejarah, budaya dan pariwisata,” ujarnya.
Ucapan itu terasa relevan ketika menatap Sungai Ngotok yang menjadi pusat prosesi. Air mengalir tenang, membawa refleksi langit sore dan harapan masyarakat yang berkumpul di tepinya. Di kota yang mewarisi jejak kejayaan Majapahit, air selalu menjadi unsur penting: menghidupi sawah, menggerakkan ekonomi, hingga menjadi simbol kesucian dalam tradisi.
Mojotirto Festival memang lahir dari kesadaran akan pentingnya air. Setiap tahun, perayaan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, namun di Kota Mojokerto peringatannya dikemas dengan pendekatan budaya yang khas. Air tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan fisik, melainkan juga amanah yang harus dijaga.
Tahun ini, makna persatuan terasa semakin kuat melalui prosesi penyatuan air dari berbagai daerah. Air-air itu dibawa dari sejumlah titik bersejarah di kawasan Trowulan dan sekitarnya, wilayah yang dikenal sebagai pusat kejayaan Majapahit.
Dari Sumur Upas di Candi Kedaton, Siti Inggil Trowulan, Situs Hayam Wuruk, Klinterejo Tribhuwana Tunggadewi, Sumur Sakti Gajah Mada di Jatirejo, Situs Damar Wulan, hingga Sumber Towo Jatirejo, seluruhnya dihimpun menjadi satu. Tak hanya itu, para duta wisata dari berbagai daerah di Jawa Timur juga turut membawa air dari wilayah masing-masing.
Setetes demi setetes air dari tempat berbeda itu lalu dipersatukan dalam satu wadah. Sebuah simbol sederhana namun kuat: bahwa perbedaan asal-usul dapat berpadu dalam tujuan bersama.
”Semalam kita telah menyatukan air dari berbagai kota dan kabupaten. Kita berdoa bersama agar air tetap menjadi anugerah bagi kita semua, dan tidak menjadi musibah,” tutur Rachman. [oky.hel]


