Pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebelum APBN 2026 benar-benar tekor. APBN secara langsung terdampak penutupan selat Hormuz, berkait perang Amerika Serikat-Israel vs Iran. Sebagai pintu gerbang tangker distribusi minyak global, penutupan Hormuz berdampak ke seluruh dunia. Karena sebagai pintu gerbang 20% distribusi minyak. Termasuk jalur ke Indonesia. Memicu kenaikan harga minyak global. Subsidi BBM yang ditanggung APBN akan membengkak. Pertamina telah mengumumkan kenaikan harga BBM non-subsidi.
Kenaikan serentak juga dilakukan swasta penyedia BBM, yakni, Shell Indonesia, BP-AKR dan PT Vivo Energy Indonesia. Penyesuaian harga BBM non-subsidi patut dilakukan, karena setiap kenaikan US$ 1,- harga minyak global, dapat menyebabkan penambahan belanja negara sebesar Rp 10,3 trilyun. Pada tahun 2026, subsidi energi diprediksi rawan membengkak hingga Rp150 triliun akibat dinamika geopolitik global. Selama 17 tahun terakhir pemerintah menetapkan harga BBM sesuai asas kejujuran, dan ke-ekonomi-an.
Jujur, karena harga BBM dalam negeri ditentukan berdasar fluktuasi harga minyak global. Saat ini harga acuan minyak dunia, Brent dan West Texas Intermediate (WTI), yang murah mencapai harga tertinggi sepanjang 2026, US$ 78 per-barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent (yang mahal) melampaui US$80 per-barel,. Sebenarnya masih di bawah harga tahun 2023. Dalam sepekan harga keduanya naik masing-masing sekitar 8% dan 7%. Namun para analis memprediksi kenaikan harga minyak global bisa mencapai US$ 100,-
Rata-rata kenaikan BBM Indonesia, diumumkan berlaku di Jawa, Pertamax (RON 92): Rp 12.300 (dari Rp 11.800), naik Rp 500,-, setara 4,23%. Pertamax Green 95: Rp 12.900 (dari Rp 12.450), naik Rp 450,-, setara 3,6%. Pertamax Turbo (RON 98) Rp 13.100 (dari Rp 12.700), naik Rp 400,- setara 3,14%. Jenis Dex juga naik. Dexlite (CN 51) sekarang Rp 14.200 (dari Rp 13.250) Pertamina Dex (CN 53) menjadi Rp 14.500 (dari Rp 13.500). Sedangkan di luar Jawa ditambah lagi sekitar Rp 300,- per-liter.
Kecuali di kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zona, FTZ) harga BBM lebih murah rata-rata 6%. Yakni, harga Pertamax di Sabang seharga Rp 11.550,- per- liter, dan Dexlite Rp 13.250,-. Serta di FTZ Batam Pertamax seharga Rp 11.750, dan Pertamax Turbo seharga Rp 12.400. Sedangkan Dexlite seharga Rp 13.450,-, dan Pertamina Dex Rp 13.800,-.
Kenaikan BBM non-subsidi akan berlaku bagai “subsidi silang BBM.” Harga Pertalite tetap, dibanderol Rp 10.000 per-liter, dan Biosolar tetap Rp 6.800 per-liter. Kenaikan harga BBM non-subsidi, akan menjadi “berkah” di corong Pertalite. Karena sebelumnya sangat sepi, terkena isu tercampur air. Terjadi mesin berebet masif setelah diisi Pertalite. Sampai Pertamina Patra Niaga menurunkan tim penyelidikan, dan minta maaf.
Laporan masyarakat berkait performa mesin (rusak), bisa jadi berbeda dengan kasus blending yang ditangani Kejaksaan Agung, sejak Pebruari (2025) lalu. Namun terdapat modus yang hampir sama. Yakni pencampuran BBM dengan bahan lain. Mengubah spec (spesifikasi) BBM bermutu rendah. Bahkan sangat merugikan, karena bersifat merusak. Banyak laporan masyarakat meng-indikasi-kan BBM tercampur air. Penampakan memperlihatkan air berada di bawah, sedangkan BBM Pertalite di atas.
Kenaikan harga BBM global bisa jadi menghambat tekad pemerintah menghapus BBM RON rendah, seperti Partalite. Sehingga hanya akan diproduksi RON (Research Octane Number) minimal 92. Terutama komitmen Indonesia mengurangi emisi gas buang. Prosesnya tidak sulit, hanya menambah etanol sebesar 7% pada Pertalite. Namun berkonsekuensi menambah sedikit subsidi lagi.
——— 000 ———


