24.2 C
Sidoarjo
Sunday, October 18, 2026
spot_img

25 Tahun Kota Batu Semakin Matang Bangun mBATU SAE Berkelanjutan

Melalui CooSAE pengelolaan hasil pertanian Kota Batu semakin tertata dan berdaya saing.

Pemkot Batu,Bhirawa. – Menjalani tahun kedua kepemimpinan Wali Kota Batu, Nurochman (Cak Nur) dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto (Cak Heli) memiliki komitmen untuk melanjutkan pembangunan dari pinggiran. Mereka berkomitmen melanjutkan pembangunan desa dimana 100 persen desa di Kota Batu kini berstatus Desa Mandiri.

Nurochman menyebutkan bahwa kemandirian desa diraih dari hasil sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Kota dan Pemerintah Desa dalam mengelola potensi secara inovatif. “Kita membangun dari pinggiran. Saat desa-desa kita mandiri, maka struktur ekonomi kota akan kuat secara organik,” ujar Cak Nur, panggilan akrabnya.

Ia menjelaskan semua desa yang kini menyandang status mandiri ini menjadi bukti semangat visi misi ‘Mbatu Sae’. Artinya, visi misi Kepala Daerah ini telah diimplementasikan hingga tingkat akar rumput.

Di bawah kepemimpinan Cak Nur- Cak Heli, Kota Batu mencatatkan capaian signifikan pada indikator kesejahteraan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan angka kemiskinan yang berhasil ditekan dari 3,06 persen pada 2024 menjadi 2,86 persen tahun 2025. Pada 2025, realisasi investasi daerah menembus angka Rp2,33 triliun. Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada pada kategori sangat tinggi di skala 80,35.

Kemudian dalam sektor ekonomi, pembangunan Kota Batu juga menunjukkan ketangguhan dengan pertumbuhan sebesar 4,85 persen. Hal ini berdampak pada meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat menjadi Rp105,20 juta per tahun.

I.Transformasi TORA Jadi Kawasan Produktif
Pembangunan dari pinggiran ini mulai terlihat dari keberhasilan program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). Di Kota Batu program ini telah bertransformasi menjadi kawasan produktif. Salah satunya lahan di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo yang telah dikelola Koperasi Produsen Merah Putih Puthuk Sejahtera melalui unit usaha Giri Murti.

Dan Giri Murti adalah contoh nyata bahwa jika alam dirawat, maka alam akan bisa memberikan kehidupan atau menghidupi masyarakat. “Pemerintah Kota Batu berkomitmen untuk terus mendukung, terutama dalam penguatan infrastruktur jalan dan fasilitas pendukung agar akses ke pusat edukasi kopi ini semakin mudah,” tegas Cak Heli.

Dan dengan adanya program TORA di Kota Batu, petani di Dusun Gangsiran Putuk, Desa Tlekung, Kota Batu bisa mendapatkan kepastian hukum. Kepastian status atas tanah yang telah dinanti bertahun-tahun tersebut kini berbuah dan memberikan kesejahteraan nyata.

II. UMKM Masuk Pasar Ekspor
Cak Nur dan Cak Heli memberikan perhatian besar bagi UMKM untuk bisa tumbuh berkembang. Targetnya pasti, UMKM Kota Batu bisa naik kelas dan bisa merambah pasar internasional. Mereka melakukan upaya percepatan UMKM Kota Batu bisa naik kelas.

Hal ini dengan menggelar ‘Scale Up Business Kota Batu’ yang bertujuan bisa meningkatkan akses dan kualitas produk UMKM. Produk UMKM Kota Batu mulai memasuki pangsa pasar ekspor.

Salah satunya keripik buah dan sayur yang dibuat UMKM Arjuna 999. Pangsa ekspor ini menjadi peluang bagi produk olahan lokal Kota Batu untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku UMKM Kota Batu.

Berita Terkait :  Jelang Pilkada, Polres Gresik Gelar Rakor Eksternal OMP Semeru 2024

Pendampingan yang dilakukan Pemkot Batu mengantarkan produk UMKM bisa menembus pangsa ekspor.

UMKM Arjuna 999 merupakan salah satu UMKM Kita Batu yang berada di kawasan Ruko Pendem, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo. UMKM ini dirintis oleh Hari Mastutik dan terus berkembang secara konsisten. UMKM ini fokus pada pembuatan keripik dengan berbahan dasar buah dan sayur.

Konsistensi Hari Mastutik untuk mengembangkan keripik buah dan sayur ini mendapatkan respon positif dari konsumen dalam negeri. Dan akhirnya, produk keripik produk UMKM Arjuna 999 ini mulai dilirik pasar ekspor.

Akhirnya UMKM Arjuna 999 berhasil mengekspor produknya ke Singapura. Bahkan di bulan Oktober ini mereka baru saja mengirimkan 6.000 kilogram keripik buah dan sayur senilai Rp 370 juta ke Singapura.

“Dengan adanyan produk lokal beruapa keripik buah dan sayur yang memasuki pasar ekspor ini, manfaatnya bisa turut dirasakan petani, tenaga kerja, dan masyarakat Kota Batu,” ujar Cak Nur.

III.Kesempatan Ikut Program 1000 Sarjana Semakin Luas
Kuota peserta Program 1.000 Sarjana Pemkot Batu pada tahun 2026 adalah sekitar 400 peserta. Angka ini meningkat dari 273 peserta pada tahun 2025. Dengan jumlah pendaftar yang sempat menembus angka lebih dari 700, akhirnya di tahun 2026 tercatat 603 pelajar yang terdaftar mendapat beasiswa 1000 Sarjana.

Program 1000 Sarjana merupakan salah satu program unggulan dari visi misi mBatu Sae. Dan Pemkot Batu terus aktif memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda melalui orogram ini

Dan untuk memperluas kesempatan pelajar Kota Batu ikut program 1000 Sarjana, Cak Nur- Cak Heli terus menjalin kerja sama dengan Pergùruan Tinggi (PT) dalam merealisasikan program unggulan yang dibuatnya. Dengan banyaknya PT yang terlibat dalam Program 1000 Sarjana maka semakin besar pula kesempatan Pelajar Kota Batu untuk melanjutkan pendidikannyà ke jenjang sarjana.

Salah satu bentuk komitmen terhadap Pŕogram 1000 Sarjana ini diwujudkan dengan menjalin kerja sama dengan Universitas Kepànjen. Kerja sama ini telah diresmikan dengan penandatanganan naskah kerja sama antara Pemerintah Kota Batu dan pihak universitas di Balai Kota Among Tani.

“Kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan Program 1.000 Sarjana yang telah dijalankan Pemerintah Kota Batu dengan menggandeng berbagai perguruan tinggi,” ujar Cak Nur. Dan melalui kolaborasi ini masyarakat Kota Batu memiliki semakin banyak pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui program beasiswa yang disiapkan Pemerintah Daerah.

Program 1000 Sarjana ini, katanya, menjadi upaya Pemkot Batu untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kota Wisata Batu. Dan program ini sekarang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.

IV. Beri Kepastian Hukum Kepemilikan Tanah.
Di tahun 2026, Pemkot Batu membuktikan komitmennya untuk memberikan kepastian hukum atas kepemilikan tanah di kota ini. Hal ini ditandai dengan telah diserahkannya seratus sertifikat tanah dari program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) kepada masyarakat yang berhak.

Diketahui, program PTSL Kota Batu di tahun 2026 menargetkan sebanyak 500 sertifikat. Dan sebanyak 100 sertifikat diserahkan pada momentum Hantaru, kemarin. “Dari sebanyak 100 sertifikat PTSL yang kita bagikan, terdiri dari 70 sertifikat untuk warga Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo, dan 30 sertifikat bagi warga Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji,” ujar Cak Nur.

Berita Terkait :  Haul Sunan Bonang ke-517, Pemkab Tuban Berkomitmen Mendukung Pelestarian Nilai-nilai Sejarah

Penyerahan sertifikat PTSL bukti kehadiran Pemkot Batu beri kepastian hukum kepemilikan tanah.

Ia menegaskan bahwa dengan adanya sertifikat PTSL yang telah dibagikan, memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan terhadap aset masyarakat. Untuk itu Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus memperkuat sinergi dengan Kantor Pertanahan agar pelayanan pertanahan semakin mudah, cepat, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi warga.

“Dengan sertifikat ini, masyarakat memperoleh kepastian hukum atas tanah yang dimiliki. Ini penting untuk memberikan perlindungan dan kepastian bagi masyarakat,” jelas Cak Nur.

Pemkot Batu juga menjadikan momen HUT Kemerdekaan RI untuk membagikan sertifikat tanah PTSL sebagai kado bagi masyarakat. Momen ini menjadi wujud hadirnya Negara di tengah masyarakat, dengan diterimanya sertifikat PTSL bagi warga yang berhak. Dan juga menjadi wujud kepastian hukum dan rasa aman atas aset tanah yang dimiliki.

Langkah strategis ini sekaligus menjadi bagian dari percepatan penguatan tertib administrasi pertanahan di Kota Batu. Hal ini juga untuk meminimalkan potensi sengketa lahan, serta mendorong kemandirian ekonomi warga berbasis legalitas kepemilikan tanah.

V. CooSAE Jadi Korporasi Rakyat Lawan Tengkulak
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus berupaya menyelamatkan warganya terutama petani dari aktivitas rentenir dan tengkulak. Untuk itu mereka mengoptimalkan keberadaan dan fungsi Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) sebagai Korporasi Rakyat Kota Batu.

Wali Kota Batu, Nurochman menginstruksikan penguatan lembaga CooSAE agar bisa tumbuh sebagai Korporasi Rakyat yang mampu mengendalikan pasar dan melindungi nilai jual hasil pertanian. “CooSAE ini lahir dari sebuah komitmen dan masalah bagaimana dunia pertanian yang harus mendapatkan ruang kebijakan yang baik,” ujarnya.

Diketahui, selama ini petani seringkali berjuang sendirian melawan fluktuasi pasar. Untuk itu dibùtuhkan korporasi rakyat sebagai media bagi pemkot dalam membangun kekuatan kolektif agar bisa menjawab sekaligus melawan tantangan tersebut secara nyata.

Dan sebagai langkah kongkret, pemkot berupaya meningkatkan profesionalitas pengelolaan CooSAE. Hal penting agar korporasi rakyat mampu memutus mata rantai tata niaga yang merugikan petani lokal. “Dan semangat pemberdayaan ini harus dibarengi manajemen modern agar petani benar-benar mandiri,” tegas Cak Nur.

Untuķ itu, Pemkot mengajak seluruh petani di Kota Batu bersatu dalam wadah Koperasi Rakyat ini untuk membangun kekuatan ekonomi yang kuat. Dan diyakini bahwa CooSAE akan mampu menjadi korporasi rakyat dalam memberdayakan petani Kota Batu.

Cak Nur juga menegaskan bahwa keberadaan CooSAE harus mampu menjawab persoalan klasik masyarakat terutama yang berkecimpung di dunia pertanian. Karena mereka membutuhkan ruang kebijakan yang berpihak pada produsen. Dan CooSAE bukan sekadar organisasi tempat berkumpul, melainkan instrumen kebijakan untuk mengembalikan kejayaan pertanian Kota Batu.

Keberadaan CooSAE mampu menjawab tantangan di dunia pasar. Di antaranya, implementasi standar operasional produksi yang lebih optimal, membenahi keterbatasan infrastruktur seperti packing house, dan sistem rantai pasok yang masih dalam tahap pengembangan dan digitalisasi.

Berita Terkait :  Pacific Caesar Surabaya Target Lolos Playoff IBL

Banyaknya kegiatan berlatar pangan lokal membuat UMKM yang ada di Kota Batu semakin berkembang

VI. Strategi Benahi Persampahan
Pemerintah Kota Batu terus berkomitmen melakukan pembenahan tata kelola persampahan secara menyeluruh. Untuk itu mereka membuat strategi mulai dari pengurangan sampah dari sumber sampah, penguatan fasilitas pengolahan, hingga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap budaya pilah sampah.

Pemkot melakukan penguatan sistem pengelolaan persampahan melalui program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP). “Pemkot Batu ingin membangun sistem pengelolaan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga mampu menjawab tantangan lingkungan di masa depan,” ujar Cak Heli.

Ia menjelaskan bahwa rencana pembenahan sekaligus pengembangan sistem persampahan dilakukan melalui pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). TPST yang berkapasitas 50 ton per hari yang dibangun di kawasan Tlekung.

Selain itu pemkot juga akan segera merevitalisasi TPS3R komunal, dan penguatan regulasi pengelolaan sampah dan retribusi. Semua langkah dan pengembangan ini akan ditunjang dengan adanya kampanye “Batu Pilah Sampah” secara masif, serta transformasi kelembagaan pengelola persampahan menuju sistem yang lebih profesional dan berkelanjutan.

“Dengan demikian upaya peningkatan kualitas layanan persampahan dan pemulihan lingkungan dapat berjalan lebih optimal,” harap Heli. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan ini dilakukan Pemkot Batu unruk mewujudkan zero waste city di Batu sebagai Kota Wisata.

Di sektor hulu, DLH memproyeksikan pembangunan tiga unit TPS3R komunal baru. TPS3R yang akan direalisasikan pada tahun 2027 dibangun di Kelurahan Sisir, Kelurahan Temas, dan Pasar Induk Among Tani.

Adapun setiap fasilitas baru ini dirancang memiliki kapasitas olah hingga 10 ton sampah per hari. Dan khusus di Pasar Induk Among Tani, sistem pengolahan akan menggunakan teknologi canggih Bio-Digester. “Teknologi ini akan mengubah limbah organik pasar menjadi biogas sebagai energi alternatif, sekaligus menghasilkan pupuk cair dan padat berkualitas tinggi,” jelas Dian.

VII.Batu Kota Gastronomi Masuk Seleksi Nasional
Dalam upaya memperkuat Batu Kota Gastronomi, Pemkot Batu membuat Konsep Batu Agrocreative . Konsep ini masuk dalam Seleksi Nasional Tahap II Pengusulan Nominasi UCCN (UNESCO Creative Cities Network) bidang Gastronomy tahun 2027.

Dengan mengusung konsep From Mountain Agriculture to Global Gastronomy, Kota Batu menawarkan ekosistem gastronomi yang bertumpu pada pertanian dataran tinggi. Konsep gastronomi ini ditunjang dengab warisan budaya pangan, kreativitas masyarakat, dan pariwisata.

“Bagi Batu, gastronomi bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga siklus kehidupan, sumber penghidupan, serta tradisi yang tumbuh dari tanah hingga diwariskan antargenerasi,” ujar Cak Nur.

Ia menjelaskan ada lima kekuatan yang menjadi pembeda yakni, mountain agriculture, living food heritage, community-based food system, tourism as a market, dan farm-to-experience. Potensi tersebut tercermin dari komoditas apel, jeruk, stroberi, sayuran, kopi, dan susu. Dan potensi ini terhubung dengan petani, UMKM, hotel, restoran, hingga desa wisata yang memperkuat langkah Kota Batu menuju jejaring kota kreatif dunia.(adv,nas)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!