28.7 C
Sidoarjo
Wednesday, May 6, 2026
spot_img

UMSURA Kukuhkan Dua Guru Besar Baru, Soroti Isu Kesehatan Mental dan Pendidikan

Surabaya, Bhirawa
Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) kukuhkan dua guru besar baru di Auditorium lantai 13 At-Tauhid Tower Umsura, Surabaya. Kedua guru besar antara lain Prof. Dr Mundakir SKep Ns MKep Guru besar bidang keperawatan dan Prof Dr Dra Lina Listiana MKes Guru Besar dalam Bidang Pembelajaran Metakognitif. Kamis, (30/4).

Ketua Senat Umsura, Prof Dr dr H Sukadiono MM mengatakan, optimismenya atas peningkatan jumlah guru besar pada lingkungan Kampus Sejuta Inovasi ini dalam beberapa tahun ke depan.

”Setiap tahun kita guru besar yang mendapat SK dari Menteri Pendidikan Tinggi Sainte, capaian tersebut jangan sampai berhenti di sini, kita berkeinginan dosen-dosen mengejar jabatan fungsional akademiknya,” jelasnya.

Prof Sukadiono mengukapkan, Umsura sekarang memiliki cukup banyak dosen dengan jabatan lektor kepala yang berpotensi naik menjadi guru besar.

”Berharap nantinya lektor-lektor kepala di Universitas Muhammadiyah Surabaya bisa segera melakukan akselerasi naik jabatan menjadi guru besar,” ujarnya.

Guru besar bidang keperawatan, Prof Dr Mundakir SKep Ns MKep membawakan orasi ilmiah bertajuk Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi, dimana berisi sebuah paradoks yang menggugah di tengah kemajuan teknologi kesehatan yang pesat, kebutuhan emosional, sosial, dan spiritual pasien justru semakin terabaikan.

”Masalah psikososial tidak hanya berkaitan dengan gangguan jiwa berat, melainkan tekanan mental yang dialami masyarakat sehari-hari, seperti stres, depresi, merasa kesepian, hingga mudah marah, masalah itu sebenarnya banyak di masyarakat, namun tidak terdeteksi atau tidak dianggap serius,” tuturnya.

Berita Terkait :  Enam Tersangka Berhasil Diamankan, Polresta Malang Kota Amankan 163,58 Kilogram Ganja

Prof Dr Mundakir juga sebagai Rektor Umsura periode 2024-2028 menjelaskan, secara global, satu dari tujuh penduduk dunia hidup dengan gangguan mental, sementara satu dari enam orang muda mengalami kesepian kronis, merujuk data WHO 2025.

”Indonesia kondisi ini tak kalah mengkhawatirkan dimana 46 juta remaja menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks, dan 5,5 persen remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental berdasarkan data I-NAMHS 2023, yang lebih memprihatinkan, 61% remaja yang mengalami depresi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya, hanya 10,4% benar-benar mencari bantuan medis, kesenjangan tersebut tidak sekadar statistic, tapi kegagalan sistem yang mendeteksi dan menjangkau manusia yang paling rentan,” tandas Mundakir.

Sementara itu, Guru Besar dalam Bidang Pembelajaran Metakognitif, Prof Lina Listiana, pada paparannya tentang pentingnya pembelajaran metakognitif sebagai pilar utama transformasi pendidikan abad ke-21, pendidikan sekarang tidak lagi cukup berfokus pada transfer pengetahuan.

”Perubahan paradigma menuntut peserta didik memiliki kompetensi abad 21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif, realitas pendidikan nasional menghadapi berbagai problematika, mulai dari pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru hingga rendahnya kemampuan reflektif peserta didik,” ungkap Prof Lina.

Prof Lina menambahkan, refleksi akademik metakognitif harus dipandang sebagai fondasi epistemologis dalam pendidikan, pergeseran paradigma diharapkan membentuk budaya belajar yang lebih reflektif dan mandiri. [ren.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!