Kota Malang, Bhirawa
Universitas Negeri Malang (UM) terus menunjukkan komitmennya dalam kancah internasional dengan memperkuat kolaborasi negara-negara berkembang yang tergabung dalam Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS).
Melalui inisiasi bersama International Science, Technology and Innovation Centre for South-South Cooperation under the auspices of UNESCO (ISTIC), UM fokus pada pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang berdampak langsung pada masyarakat.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan bahwa sebagai kaum intelektual, akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan perkembangan teknologi mampu membawa kemajuan bagi bangsa. Juga menyoroti fenomena hubungan negara Selatan-Selatan yang selama ini cenderung tertinggal dibandingkan negara-negara Barat atau Utara.
“Selama ini kerja sama antar negara Selatan-Selatan masih relatif lemah. Untuk itulah, UM menggandeng ISTIC yang merupakan lembaga di bawah naungan UNESCO guna mengembangkan ilmu pengetahuan,” ujar Prof. Hariyono dalam pertemuan yang dihadiri delegasi dari berbagai negara, termasuk Malaysia hingga Tanzania.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menjelaskan lebih teknis mengenai fokus riset yang disepakati. Berdasarkan pertemuan strategis tersebut, terdapat tiga bidang utama yang menjadi prioritas: kesehatan, air, dan energi.
“Tiga bidang ini dianggap paling utama dan menjadi tantangan di setiap negara. UM ditugaskan untuk menjembatani kolaborasi ini karena kita telah memiliki rekam jejak kuat dengan Technology Innovation Center di bawah koordinasi UNESCO melalui ISTIC,” papar Prof. Markus yang telah mengawal inisiasi kerja sama internasional ini selama hampir satu dekade.
Ia menambahkan, meski inisiatif Afro-Asia ini baru diformalkan aturannya pada tahun lalu, antusiasme negara anggota sangat tinggi. Saat ini, terdapat empat negara utama yang menjadi motor penggerak, yakni Indonesia, Malaysia, Tanzania, dan perwakilan Afrika lainnya.
“Rencananya pada tahun 2027 mendatang, akan diadakan kompetisi penelitian bersama yang mencakup 77 negara dalam lingkup South-South Cooperation. Syaratnya, pendaftar harus merupakan kolaborasi dari negara anggota inti agar riset yang dihasilkan benar-benar berdampak luas bagi kemajuan bersama,” pungkasnya. [mut.kt]


