Festival Pesisir Pantai Ke-5 di Pulau Mandangin (Pulau Kambing), Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026).
Ssmpang, Bhirawa. — Husky CNOOC Madura Limited (HCML) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Pemerintah Kabupaten Sampang sukses menggelar Festival Pesisir Pantai ke-5 di Pulau Mandangin (Pulau Kambing), Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026).
Gelaran tahunan ini bukan sekadar perayaan seni budaya, melainkan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) industri hulu migas. Kegiatan ini dirancang sebagai langkah mitigasi sosial, ekonomi, dan budaya guna memperkuat kemandirian warga pesisir sekaligus mendukung kelancaran operasional hulu migas di wilayah Madura.
Manager Regional Office and Relation HCML, Hamim Tohari, menjelaskan bahwa penyelenggaraan Festival Pesisir ke-5 ini memiliki makna tersendiri karena kembali dilaksanakan di tempat awal mula festival ini digagas, yakni Pulau Mandangin. Ia menegaskan bahwa Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) HCML senantiasa berfokus pada program-program yang memberikan dampak ekonomi nyata serta berkelanjutan.
”Dalam rangka melakukan program pemberdayaan masyarakat agar bisa terus berkelanjutan dan ada gemanya secara terus-menerus, program-program kami berfokus pada kegiatan yang sifatnya generating income. Kami langsung masuk pada program yang sekiranya dapat meningkatkan pendapatan serta kemandirian masyarakat lokal,” ujar Hamim Tohari.
Tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, Hamim juga menekankan besarnya kontribusi festival ini terhadap pelestarian tradisi dan budaya maritim setempat. Dalam pelaksanaannya, HCML menggandeng para tokoh dan pegiat adat di Madura, khususnya Kabupaten Sampang, untuk menggali kembali legenda serta hikayat lokal Pulau Mandangin yang sempat tersembunyi.
”Cerita-cerita atau hikayat yang tersembunyi di Pulau Mandangin ini digali kembali dan dituangkan dalam sebuah aksi seni dan budaya. Luar biasanya, seluruh pesertanya adalah masyarakat nelayan sendiri. Merekalah yang menari dan bermain peran dalam pementasan drama tersebut,” ungkap Hamim.
Bupati Sampang, H. Slamet Junaidi, menyambut positif kontribusi nyata keberadaan industri hulu migas bagi masyarakat pesisir. Dalam sambutannya, Slamet Junaidi mengungkapkan langkah strategis Pemkab Sampang yaitu berharap agar warga pulau Mandangin tidak hanya menjadi penonton melainkan harus berperan aktif membangun kemandirian ekonomi.
“Saya ingin Pulau Mandangin menjadi jujukan wisata sehingga tercipta kemandirian ekonomi dan pengembangan UMKM lokal. Warga Pulau Mandangin tidak boleh hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” tegas Slamet Junaidi.
Sekedar diketahui, salah satu magnet utama Festival Pesisir ke-5 adalah pertunjukan drama musikal kolosal bertajuk Mandangin Bergema yang mengangkat cerita legenda lokal Bangsacara – Ragapatmi. Pertunjukan ini dibawakan oleh 400 warga lokal yang terdiri dari para nelayan dan perempuan pesisir Pulau Mandangin di atas panggung megah berukuran 20 meter x 4 meter.
Proses persiapan pertunjukan berlangsung secara intensif selama tiga bulan. Para nelayan dan warga menyempatkan diri berlatih gerak, pendalaman peran, hingga pemantapan dialog di sela-sela kesibukan melaut.
Aksi kolosal ini mendapat pujian langsung dari Bupati Sampang yang mengaku kagum saat menyaksikan pertunjukan secara langsung.
“Saya tidak tahu seperti apa konsep awalnya. Tahu-tahu melihat penampilannya barusan, luar biasa. Mengendalikan 400 orang dalam satu panggung itu susahnya luar biasa, tetapi warga Mandangin mampu membawakannya dengan sangat apik untuk mengangkat sejarah pulau ini,” puji Slamet Junaidi.
Tidak hanya pagelaran drama kolosal yang disajikan kepada warga Mandangin sehari sebelumnya banyak kegiatan sosial lainya diantaranya.
Penyerahan bantuan untuk 50 siswa (25 siswa berprestasi dan 25 siswa dari keluarga kurang mampu) yang menjangkau 9 SD, 3 MI, 3 MTs, dan 1 SMP. Data peserta dihimpun langsung oleh Dinas Pendidikan dan Kemenag Kabupaten Sampang.
Program HCML untuk ‘Masa Depan’ menyasar 50 balita yang didasarkan pada pendataan Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang melalui Puskesmas Mandangin.
Khitanan Massal diikuti oleh 100 anak Pulau Mandangin berdasarkan data Pemerintah Desa Pulau Mandangin, bekerja sama dengan tim medis RS Moh. Zyn Sampang.
PPM Awards Penganugerahan apresiasi untuk kategori Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan bagi nominator terpilih dari wilayah Kabupaten Sampang dan Kabupaten Sumenep.
Bazar UMKM Melibatkan 15 UMKM binaan HCML dan pedagang kecil lokal Pulau Mandangin, ditambah 1 stand khusus produk unggulan binaan HCML dari wilayah Sumenep dan Pasuruan.
Layanan Adminduk Gratis Solusi Tanpa Perlu Menyeberang Laut Festival ini juga dimanfaatkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Sampang untuk menghadirkan layanan Administrasi Kependudukan (Adminduk) jemput bola selama 1 hari penuh di pulau tersebut.
Plt Sekretaris Disdukcapil Sampang, Rahmawati AG, menjelaskan bahwa layanan mencakup pembuatan Kartu Keluarga (KK) baru, akta kelahiran, hingga perekaman KTP-el serta aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
“Antusiasme warga sangat tinggi, di mana sekitar 80 persen prioritas layanan terserap untuk perekaman KTP-el. Bagi warga yang sakit atau tidak mampu hadir langsung, tim kami melakukan pemrosesan mobile berdasarkan rekomendasi keluarga atau pengajuan warga setempat,” jelas Rahmawati.
Kemudahan ini dirasakan langsung oleh warga Dusun Barat, Khoiril Umam. Ia mengurus pemecahan KK pascanikah dan pembaharuan KTP.
“Biasanya warga Mandangin kalau mau mengurus KTP harus menyeberang laut ke daratan Sampang. Layanan ini sangat menghemat biaya transportasi, waktu, dan biaya menginap,” ungkap Khoiril.
Khoiril juga memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan aspirasi terkait tantangan krisis air bersih di Pulau Mandangin. Warga masih sangat bergantung pada penampungan air hujan untuk kebutuhan minum harian. Ia berharap program CSR perusahaan migas dan pemda terus berlanjut hingga solusi fasilitas air bersih dan adiministrasi pernikahan dapat teratasi secara permanen.
Pj Kepala Desa Mandangin, Choirul Anam juga menyampaikan apresiasi atas sinergi ini. Ia menyebutkan bahwa sekitar 90 persen warga Mandangin menggantungkan mata pencaharian pada sektor kelautan.
Kami dari pihak desa sangat berterima kasih. Festival pesisir ini memberikan manfaat nyata dan berpotensi besar mendongkrak sektor pariwisata serta perekonomian desa kami ke depan,” kata Choirul Anam.
Jejak Rekam Festival Pesisir HCML-SKK Migas (2023–2026)
Perjalanan Festival Pesisir yang digagas SKK Migas-HCML menjadi rekam jejak konsisten dalam merevitalisasi budaya dan potensi maritim di wilayah operasional Madura:
1.Festival Pesisir #1 (Awal 2023 – Pulau Mandangin, Sampang): Embrio awal gerakan dengan tema “Bersih Pantaiku, Indah Lautku”.
2.Festival Pesisir #2 (Akhir 2023 – Pulau Gili Iyang, Sumenep): Mengangkat tradisi lokal Andrenat, ritual adat memohon hujan saat kemarau panjang.
3.Festival Pesisir #3 (2024 – Pantai Matahari, Desa Lobuk, Sumenep): Mengusung tema Taraju, yang melambangkan kebersamaan dan gotong royong nelayan.
4.Festival Pesisir #4 (2025 – Pulau Giligenting, Sumenep): Mengangkat tema Lengghi (diambil dari unsur rangka kayu perahu yang berarti ‘silakan’—simbol keramahtamahan dan rasa hormat).
- Festival Pesisir #5 (2026 – Pulau Mandangin, Sampang): Kembali ke Pulau Mandangin dengan tema Mandangin Bergema, menampilkan legenda Bangsacara-Ragapatmi serta pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat terpadu.
Melalui konsistensi penyelenggaraan Festival Pesisir ini, sinergi antara industri hulu migas, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir terbukti tidak sekadar menjaga kelancaran pasokan energi nasional, tetapi juga memantik kebangkitan ekonomi serta pelestarian budaya lokal. Harapan besar kini tertambat pada keberlanjutan kolaborasi tersebut, termasuk dalam menjawab tantangan kebutuhan infrastruktur dasar seperti air bersih, agar Pulau Mandangin mampu bertransformasi dari sekadar area operasional menjadi destinasi wisata maritim yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing tinggi di masa depan. [lis.hel].


