Surabaya, Bhirawa – Sebanyak 11 Tim SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Pucang Surabaya sukses memborong gold medal atau medali emas di ajang kompetisi inovasi internasional dan nasional. Ajang kompetisi riset dan inovasi bernama World Youth Innovation and Invention Award (WYIIA) serta National Youth Innovation and Invention Award (NYIIA) digelar Indonesian Young Scientist Association (IYSA) di Universitas Brawijaya (UB) Malang pada 2-18 November 2026.
Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Ustadz Eddy Susanto SPd MPd menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi kepada 65 siswa yang tergabung dalam 11 Tim Little Inventor SD Mudipat. ”Alhamdulillah, 11 Tim Mudipat semuanya meraih gold medal (medali emas) dan jumlah muridnya ada 65 anak,” ujar Ustadz Eddy, Jumat (6/11).
Ustadz Eddy menjelaskan, tak hanya sukses meraih medali emas, para siswa Mudipat juga berhasil membawa pulang dua penghargaan khusus (special award) dalam ajang bergengsi ini. Salah satu inovasi unggulan yang ditampilkan para siswa dalam kompetisi ini ramuan herbal pengusir semut.
Ustadz Edy mengakui meski tim-tim lawan yang dihadapi memiliki kualitas yang sangat bagus, baik persaingan di tingkat nasional maupun internasional. Namun, berkat persiapan matang serta kerja keras anak-anak, dewan juri memutuskan seluruh Tim SD Muhammadiyah 4 Pucang layak keluar sebagai peraih medali emas.
“Keberhasilan ini tak lepas dari pembinaan melalui kegiatan ekstrakurikuler Little Inventor yang telah berjalan selama dua tahun di sekolah. Ini bagian dari ekstrakurikuler tahun kedua. Little Inventor kami sudah tahun kedua dan Alhamdulillah dari tahun ke tahun prestasinya luar biasa,” katanya.
Sebagai bentuk apresiasi, pihak sekolah memberikan ucapan penghargaan secara khusus kepada para siswa berprestasi. Ke depan, pihak sekolah berkomitmen untuk terus mendorong para siswa agar tetap berlatih, menyiapkan tim pembina yang berkualitas, serta mempersiapkan diri menghadapi kompetisi-kompetisi di masa mendatang. ”Kami dorong untuk tetap berlatih, kami siapkan tim pembina yang bagus dan berkualitas, karena untuk persiapan kompetisi-kompetisi di masa yang akan datang,” terangnya.
Sementara itu, salah satu inovasi dari siswa SD Mudipat yang berhasil meraih medali emas, yakni Spice-Tag: Kantong Aroma Rempah Lokal Berpori sebagai Bio-Repellent untuk Mengurangi Aktivitas Semut.
Qaisarah Sareefa Salmahira mengatakan, ia bersama empat siswi lainnya menciptakan inovasi Spice-Tag ini karena dilatarbelakangi semut yang kerap mengganggu di area rumah hingga mengancam kebersihan serta kenyamanan. Dan Spice-Tag merupakan kantong berpori berisi rempah-rempah lokal yang dirancang khusus untuk mengusir aktivitas semut tanpa harus membunuh atau menggunakan bahan kimia berbahaya.
Penelitian memakan waktu sekitar dua bulan ini, Sarah bersama gurunya mengembangkan prototipe kantong berpori yang mengombinasikan tiga jenis rempah pilihan, yakni cengkeh, kayu manis, dan serai. ”Spice-Tag berbentuk kantong berpori. Pori-porinya memungkinkan aroma rempah keluar, sedangkan bahan rempahnya tertahan di dalam kantong,” jelasnya.
Berbeda dari penelitian sebelumnya yang banyak menggunakan minyak atsiri semprot, Sarah memilih memadukan rempah kering kedalam kantong berpori agar aroma yang dihasilkan dapat bertahan lebih lama dan mengusir semut secara efektif. Berdasarkan pengamatannya hingga hari ke-14 penempatan di dekat area makanan, semut terbukti memilih untuk menghindari area itu tanpa mengalami kematian.
Ide awal pembuatan Spice-Tag ini datang dari gurunya di sekolah. Meski awalnya menggunakan kantong teh celup biasa, desain ini terus disempurnakan hingga menjadi bentuk kantong berpori fungsional seperti sekarang. Selama proses penelitian dua bulan, Sarah mengaku sempat menemui beberapa kendala, salah satunya adalah mencari umpan yang tepat untuk menarik perhatian semut ke area pengujian.
“Kadang susah cari umpan yang buat semutnya ke sini. Pakai gula semutnya enggak mau, tapi setelah kita menggunakan alternatif daging ayam, ternyata semutnya mau,” katanya.
Atas keberhasilan inovasi ini, Sarah mengaku puas dan berniat untuk mematangkan serta memproduksi Spice-Tag secara massal di masa mendatang setelah melakukan penyempurnaan kualitas. Tak hanya berhenti pada semut, siswi yang bercita-cita menjadi dokter ini juga membuka peluang meneliti dan menguji efektivitas rempah-rempah terhadap jenis serangga lainnya. [fen.wwn]


