Surabaya, Bhirawa – Persaingan meraih juara di Turnamen Salonpas Let’s Move CLS International Cup 2026 Series 2 bakal berlangsung seru, selain diikuti tim basket dari Indonesia beberapa tim basket luar negeri juga turun di event tersebut. Kompetisi yang digelar Yayasan Cahaya Lestari Surabaya (CLS) ini juga menjadi ajang pembinaan atlet muda sekaligus mengasah mental, strategi, dan kekompakan tim.
Turnamen tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan 80 tahun berdirinya CLS. Peserta dari berbagai kelompok usia, mulai kategori usia (KU) 12 hingga KU 25, tampil menunjukkan kemampuan terbaik untuk memperebutkan piala dan medali bergengsi.
Pelatih Kepala Pelatda DKI Jakarta, Tondy, mengatakan keikutsertaan timnya dalam turnamen ini bukan sekadar mengejar kemenangan. Kompetisi juga dimanfaatkan untuk membangun chemistry antarpemain yang nantinya dipersiapkan menghadapi ajang yang lebih besar.
“Pemain yang kami bawa terdiri atas siswa SMA hingga mahasiswa sesuai kategori usia. Turnamen seperti ini sangat penting untuk membangun chemistry dan mental bertanding. Setiap pertandingan menjadi bahan evaluasi agar mereka semakin siap menghadapi PON 2028,” ujarnya usai laga melawan NS Matrix Malaysia.
Menurutnya, pengalaman bertanding melawan tim dari berbagai daerah dan negara menjadi bekal penting bagi para pemain untuk meningkatkan kualitas permainan sekaligus kemampuan beradaptasi di lapangan.
Ketua Yayasan Cahaya Lestari Surabaya (CLS), Ming Soedarmono, menilai bola basket tidak hanya melatih kemampuan teknik, tetapi juga membentuk karakter serta kerja sama tim. “Komunikasi adalah kunci. Dari komunikasi, setiap pemain memahami peran masing-masing meskipun berasal dari usia yang berbeda. Itulah yang membuat tim menjadi solid di lapangan,” katanya, Rabu (1/7).
Pria yang akrab disapa Ko Ming itu mengaku bangga melihat perkembangan atlet binaan CLS. Menurutnya, penyelenggaraan turnamen secara rutin menjadi sarana untuk mengukur peningkatan kemampuan para pemain sekaligus memberi pengalaman bertanding yang lebih luas.
“Potensi mereka sangat besar. Kompetisi menjadi wadah untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan pertandingan. Karena itu, turnamen seperti ini penting digelar setiap tahun agar perkembangan mereka dapat terus dipantau,” tambahnya.
Kesuksesan penyelenggaraan Salonpas Let’s Move CLS International Cup 2026 Series 2 juga didukung berbagai sponsor, salah satunya Salonpas, yang menghadirkan layanan fisioterapi bagi para atlet setelah pertandingan.
Layanan tersebut dimanfaatkan pemain untuk membantu meredakan ketegangan otot maupun sendi akibat aktivitas intens selama bertanding. “Saya merasa bagian pinggang jauh lebih lega setelah mendapatkan treatment. Tadi sempat mengalami benturan saat pertandingan,” ujar Steven, salah satu peserta turnamen.
Fisioterapis Salonpas, Rafi Akbar, mengatakan keluhan yang paling banyak dialami pemain, khususnya atlet usia muda, berada di area pinggang akibat banyaknya lompatan dan pergerakan cepat selama pertandingan.
“Area pinggang memang perlu mendapat perhatian. Sebelum bertanding, pemanasan harus dilakukan secara maksimal. Jika masih ada otot yang tegang, jangan dipaksakan bermain karena dapat meningkatkan risiko cedera,” jelasnya.
Melalui ajang internasional ini, para atlet muda tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding, tetapi juga edukasi mengenai pentingnya menjaga kondisi fisik agar mampu tampil optimal sepanjang kompetisi. [wwn]


