Kediri, Bhirawa
Momentum perubahan nama Koesno menjadi Soekarno kembali dikenang melalui gelaran budaya “Ruwat Agung Soekarno” di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (14/6).
Tempat tersebut menjadi saksi sejarah ketika nama Soekarno disematkan kepada sosok yang kelak menjadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Prosesi budaya ini digelar untuk mengenang perjalanan Bung Karno sejak masa kecil sekaligus meneguhkan kembali nilai-nilai jati diri bangsa.
Kegiatan yang diinisiasi pengelola Situs Ndalem Pojok bersama Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) itu dihadiri Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG Brigjen Pol. Langgeng Purnomo, jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, tokoh lintas agama, serta budayawan.
Ketua Panitia Pelaksana R.M. Kushartono mengatakan, Ndalem Pojok memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Bung Karno. Di rumah tersebut, nama Soekarno diberikan oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo.
“Melalui Ruwat Agung ini, kami ingin memulihkan kembali karakter dan mentalitas jati diri bangsa yang mulai memudar. Harapannya, semangat Soekarno dapat kembali hidup dalam sanubari generasi muda menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Rangkaian acara diawali dengan doa pangruwatan bangsa oleh tokoh lintas agama, kemudian dilanjutkan kirab jati diri dengan membawa tumpeng keselamatan. Prosesi berikutnya berupa panglukatan atau penyucian patung Soekarno, peresmian monumen papan nama perubahan Koesno menjadi Soekarno, penandatanganan prasasti, hingga pementasan teatrikal “Kembang Jagad”.
Dalam kesempatan tersebut, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo menyampaikan pesan kebangsaan terkait pentingnya menjaga jati diri bangsa sebagai bagian dari cita-cita Bung Karno melalui konsep Tri Sakti, yakni berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurutnya, tantangan global saat ini menuntut bangsa Indonesia memperkuat kemandirian, terutama melalui semangat gotong royong nasional.
“Untuk mewujudkan kedaulatan politik agar bebas dari pengaruh asing, pekerjaan rumah bangsa Indonesia saat ini adalah mau dan mampu bergotong royong nasional dalam mewujudkan berdikari di bidang ekonomi,” kata Langgeng.
Ia juga mengingatkan bahwa penguatan ekonomi harus berjalan seiring dengan karakter bangsa. Menurutnya, kemajuan tidak cukup hanya dibangun melalui aspek material, tetapi juga membutuhkan penguatan budaya dan moral masyarakat.
“Bangun jiwa dan bangun badannya Bangsa Indonesia. Kembali kepada jati diri bangsa adalah kunci utama agar Indonesia mampu melangkah menjadi bangsa yang berdaulat,” pungkasnya. [van.kt]


