33.3 C
Sidoarjo
Monday, May 4, 2026
spot_img

Prevalensi Stunting di Kabupaten Malang Tekan Angka Capai 5,85 Persen

Kab Malang, Bhirawa

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatatkan tren positif dalam  penanganan gangguan pertumbuhan kronis pada anak atau stunting. Berdasarkan data di Bulan Timbang Februari 2026, angka prevalensi stunting di kabupaten setempat berhasil ditekan hingga menyentuh angka 5,85 persen. Meski secara persentase mengalami penurunan, jumlah balita yang teridentifikasi stunting secara akumulatif masih tergolong tinggi, yakni mencapai 8.198 anak.

Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo, Senin (4/5), kepada wartawan menjelaskan, bahwa angka tersebut diperoleh dari hasil pengukuran terhadap 140.137 jiwa bayi dibawah umur lima tahun (balita). Jika dibandingkan dengan periode Agustus 2025 yang berada di angka 6,52 persen, terdapat penurunan prevalensi sebesar 0,67 persen.

“Pengukuran ini merupakan rekapitulasi dari 39 Puskesmas di seluruh Kabupaten Malang. Target kami pada Bulan Timbang Agustus 2026 mendatang, prevalensi ini bisa terus menurun,” ujarnya.

Meskipun rata-rata daerah menunjukkan perbaikan, kata dia, Dinkes Kabupaten Malang mencatat masih ada beberapa wilayah kerja Puskesmas yang memiliki angka prevalensi di atas 10 persen. Diantaranya, Puskesmas Sumbermanjing Wetan 15,9 persen

Puskesmas Pujon 12,3 persen, Puskesmas Karangploso 12,0 persen, Puskesmas Bululawang  10,6 persen. Selain memantau melalui Bulan Timbang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang kini tengah bersiap menghadapi Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan di tahun ini.

Berbeda dengan Bulan Timbang yang bersifat menyeluruh, SSGI akan menggunakan metode pengambilan sampel. Sedangkan pada dua tahun lalu, hasil SSGI kita masih di atas 20 persen. Dan untuk tahun ini, pihaknya menargetkan hasil survei SSGI bisa berada di bawah angka 20 persen.

Berita Terkait :  Mendorong Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Mewarnai

“Sebagai langkah konkret untuk menekan angka stunting, Dinkes mengandalkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bersumber dari anggaran Puskesmas maupun Alokasi Dana Desa (ADD),” terang Wiyanto.

Menariknya, dia menyampaikan, ada beberapa desa mulai mengedepankan inovasi kudapan bergizi agar lebih disukai anak-anak. Salah satu contohnya adalah di Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung yang memproduksi kue kering berbahan dasar tepung kelor dan tepung lele.

Hal ini dibuat agar anak-anak tertarik, kue dibuat dengan bentuk karakter monster berwarna kuning untuk varian lele, dan varian kelor diberi topping coklat.

“Inovasi seperti ini diberikan sepekan sekali untuk mencukupi kebutuhan gizi balita. Untuk itu, kami berkomitmen untuk terus memantau pelaksanaan PMT di tingkat desa guna memastikan intervensi gizi tepat sasaran bagi ribuan balita yang terdampak,” pungkas dia. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!