Surabaya, Bhirawa – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Surabaya menggelar serangkaian kegiatan yang sarat akan nilai kebangsaan, persatuan, dan kekayaan budaya di Lapangan Upacara AMN Surabaya, Rabu (28/10).
Mengusung semangat patriotisme, kegigihan, dan empati, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan diawali dengan upacara bendera yang berlangsung khidmat. Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Direktur Eksekutif AMN Surabaya, Dhian Satria Yudha Kartika, S.Kom., M.Kom. Upacara ini diikuti oleh seluruh elemen AMN Surabaya, mulai dari jajaran pegawai hingga mahasiswa penghuni asrama, dengan total 442 peserta.
Suasana upacara tampak istimewa karena seluruh peserta dan jajaran pegawai mengenakan pakaian adat khas dari berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman busana yang dikenakan menghadirkan gambaran miniatur Indonesia di lingkungan AMN Surabaya, mencerminkan kekayaan suku, budaya, dan tradisi yang berpadu dalam semangat persatuan.
Dalam amanatnya, Pembina Upacara menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Kemajemukan yang ada di lingkungan AMN Surabaya menjadi cerminan bahwa perbedaan budaya bukanlah pemisah, melainkan kekayaan dan kekuatan yang harus dijaga bersama.
Hal tersebut sejalan dengan semangat peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini yang tidak hanya menumbuhkan patriotisme dan kegigihan, tetapi juga memperkuat empati antarsesama.
Direktur Eksekutif AMN Surabaya, Dhian Satria Yudha Kartika, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada tahun 2026 memiliki makna tersendiri melalui nilai patriotisme, kegigihan, dan empati yang diusung.
“Hari ini kita menyelenggarakan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di tahun 2026 ini dengan tema patriotik, gigih, dan juga empati. Hal ini menjadi sebuah peringatan Sumpah Pemuda yang berbeda dari tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan pakaian adat oleh seluruh peserta merupakan bentuk nyata untuk menunjukkan keberagaman yang hidup di lingkungan AMN Surabaya. Dengan mahasiswa yang berasal dari 38 provinsi di Indonesia, AMN Surabaya menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang suku dan budaya yang dipersatukan oleh Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Seluruh peserta di AMN Surabaya ini menggunakan baju adat sesuai dengan daerahnya. Jadi di AMN Surabaya ini ada 38 provinsi, sehingga mereka bisa menunjukkan keberagaman, berbeda suku budaya, akan tetapi kita dipersatukan dalam Pancasila dan kebinekaan di Indonesia ini,” ungkapnya.
Selain menjadi simbol pelestarian budaya, penggunaan pakaian adat dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda kali ini juga membawa pesan kemanusiaan. Dhian mengenakan pakaian adat Dayak dari Kalimantan sebagai bentuk empati dan dukungan kepada masyarakat di wilayah tersebut, khususnya mereka yang tengah menghadapi bencana kebakaran hutan.
“Saat ini saya menggunakan baju adat Dayak dari Kalimantan. Ini sebagai bentuk empati kami yang ada di Asrama Mahasiswa Nusantara kepada masyarakat atau rakyat yang ada di Kalimantan, secara khusus mungkin saat ini sedang menghadapi adanya bencana kebakaran hutan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa semangat persatuan yang diwariskan melalui Sumpah Pemuda tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan seremonial, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kondisi dan tantangan yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah.
“Kami ingin menunjukkan sebuah empati. Empati ini kita berikan agar masyarakat yang ada di Kalimantan tidak sendirian. Kami yang ada di Nusantara ini memberikan support, baik dari dukungan doa, dukungan, kemudian support yang lain bahwasanya ya kita tetap bisa saling berempati,” tambahnya. Pesan tersebut menegaskan bahwa solidaritas dan kepedulian merupakan bagian penting dalam menjaga persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Setelah pelaksanaan upacara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Lomba Fashion Show Baju Adat Nusantara yang berlangsung meriah. Sebanyak 13 kelompok perwakilan peserta tampil anggun dan gagah mengenakan beragam busana tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap kelompok didampingi seorang narator yang bertugas menyampaikan filosofi, keunikan, serta sejarah pakaian adat yang diperagakan. Kompetisi berlangsung dengan penuh antusiasme, dengan penilaian berdasarkan keharmonisan peragaan busana serta kejelasan dan kedalaman penyampaian narasi oleh narator. Sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan penampilan peserta, panitia menetapkan pemenang kategori Juara 1, Juara 2, dan Juara 3 Pakaian Adat Terbaik, serta penghargaan Best Narrator.
Lebih dari sekadar perlombaan, fashion show pakaian adat Nusantara menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Melalui peragaan busana yang disertai penjelasan mengenai filosofi dan sejarahnya, peserta diajak memahami bahwa setiap pakaian adat memiliki nilai budaya dan identitas yang patut dihargai. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa, memperkuat toleransi, serta membangun pemahaman bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang mempersatukan Indonesia.
Semangat Hari Sumpah Pemuda juga dirasakan oleh Zulfan Anugrah Tohopi, mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur asal Provinsi Gorontalo yang merupakan penghuni AMN Surabaya. Menurutnya, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk memahami arti persatuan dengan menghargai perbedaan dan keberagaman yang ada di Indonesia. Ia menilai bahwa perbedaan latar belakang suku, budaya, dan daerah asal tidak seharusnya menjadi penghalang bagi pemuda untuk membangun kebersamaan sebagai satu bangsa.
“Jadi untuk Sumpah Pemuda sendiri bagi saya itu adalah gimana cara kita sebagai pemuda Indonesia untuk menghargai perbedaan dan juga keberagaman yang ada di Indonesia,” ujar Zulfan.
Lebih lanjut, Zulfan berpesan agar generasi muda Indonesia terus mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara. Menurutnya, pemuda memiliki peran penting sebagai generasi penerus yang tidak hanya dituntut untuk memiliki semangat kebangsaan, tetapi juga mampu menunjukkan kontribusi nyata melalui potensi dan kemampuan yang dimiliki.
“Pesan saya kepada pemuda-pemuda yang ada di Indonesia yaitu tetap berkreasi dan juga tetap berkarya yang kemudian berorientasi pada kemajuan bangsa dan juga negara,” tambahnya.
Pengalaman Zulfan sebagai mahasiswa asal Gorontalo yang menempuh pendidikan di Jawa Timur sekaligus menjadi bagian dari lingkungan AMN Surabaya mencerminkan semangat kebinekaan yang dihidupkan melalui kehidupan sehari-hari di asrama. Pertemuan mahasiswa dari berbagai daerah memberikan kesempatan untuk saling mengenal budaya, bertukar pengalaman, dan membangun persaudaraan tanpa memandang perbedaan asal daerah. Semangat tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai toleransi dan persatuan, baik selama menempuh pendidikan maupun ketika kembali berkontribusi di tengah masyarakat.
Melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini, AMN Surabaya berharap semangat persatuan, nasionalisme, dan empati terus tumbuh dalam diri seluruh mahasiswa. Perpaduan upacara bendera, penggunaan pakaian adat Nusantara, dan lomba fashion show menjadi wujud nyata bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan. Sementara itu, pesan empati terhadap masyarakat yang menghadapi bencana mengingatkan bahwa persatuan juga harus diwujudkan melalui kepedulian dan solidaritas.
Dengan semangat patriotisme, kegigihan, dan empati, AMN Surabaya berharap dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia untuk saling mengenal, menghargai, dan mendukung satu sama lain. Melalui nilai-nilai tersebut, generasi muda diharapkan mampu melestarikan warisan budaya, mempererat persaudaraan antarsuku, serta berkontribusi aktif dalam mewujudkan Indonesia yang harmonis, berdaya saing, dan bersatu. [gat]


