Surabaya, Bhirawa
Di tengah gempuran teknologi dan dunia digital yang menyita perhatian banyak orang, terutama anak-anak, Kampung Lali Gadget (KLG) hadir sebagai wadah yang membangkitkan kembali memori indah masa kecil tanpa sentuhan layar. Didirikan oleh Achmad Irfandi pada tahun 2018, berlokasi di Wonoayu, Sidoarjo. Komunitas ini menggagas berbagai permainan tradisional, di antaranya yang paling digemari adalah estafet sarung dan lempar sarung.
Permainan estafet sarung mengajarkan pentingnya kerjasama dan koordinasi dalam tim, di mana setiap peserta berdiri berdekatan dan mengoper sarung dari satu sisi ke sisi lainnya tanpa menggunakan tangan. Sementara itu, lempar sarung melibatkan sarung yang dibentuk menyerupai bola, yang kemudian dilempar dan ditangkap menggunakan sarung lain yang direntangkan seperti jaring. Meski tampak sederhana, kedua permainan ini kaya akan manfaat baik secara fisik maupun perkembangan sosial dan emosional.
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya turut andil melalui program magang MBKM BK3S di Kampung Lali Gadget. Tiara Alidra Sampurna, akrab disapa Ara, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi, berkesempatan mengikuti program ini selama satu semester. Ia dibimbing oleh Kun Muhammad, dosen pembimbing magangnya dari Prodi Ilmu Komunikasi Untag Surabaya.
“Dengan permainan seperti ini, anak-anak diajarkan nilai-nilai penting seperti komunikasi yang efektif, kerja sama antar teman, serta sikap sportivitas. Mereka bisa tertawa, bergerak, dan berinteraksi secara langsung, hal yang sulit didapatkan jika hanya bermain dengan gadget,” ujar Ara, yang juga berperan sebagai fasilitator di KLG.
Lebih Dari Sekadar Permainan
Estafet sarung menumbuhkan rasa percaya antar anak dan menekankan betapa pentingnya kerjasama dalam tim. Mereka belajar bahwa kemenangan bukan semata tentang kecepatan, melainkan tentang kekompakan. Sebaliknya, lempar sarung melatih keberanian, ketangkasan, dan kemampuan mengendalikan emosi termasuk belajar menerima kekalahan. Aktivitas-aktivitas ini mengajak anak bergerak aktif seeperti berlari, melempar, dan melompat. Tentu ini jauh lebih menyehatkan daripada berjam-jam terpaku di depan layar.
Dampak Positif pada Orang Tua dan Lingkungan
Para orang tua memberikan tanggapan yang positif, mereka merasa bahagia menyaksikan anak-anak bermain dan tertawa riang tanpa ketergantungan pada gadget. Tak sedikit pula yang terinspirasi untuk membuat permainan sejenis di rumah mereka. KLG bukan hanya menciptakan ruang bermain, tapi juga wadah untuk berkembang, baik bagi anak maupun orang tua. Momen bermain menjadi waktu untuk menjalin kedekatan, belajar bersama, serta menimba pengalaman emosional yang berharga.
Tantangan Menjaga Antusiasme Anak
Meski terlihat mudah, menjadi fasilitator bukanlah perkara sederhana. Ara mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga semangat anak-anak agar tetap menyala. “Kami terus berusaha mencari cara kreatif agar permainan tetap seru dan menarik, tanpa mengesampingkan nilai edukasinya,” ucapnya.
Perubahan sikap anak yang menjadi lebih terbuka, aktif, dan komunikatif menjadi bukti nyata bahwa pendekatan ini berhasil menyentuh esensi masa kecil yang sebenarnya, dimana tawa, gerak, dan interaksi langsung menjadi fondasi pembelajaran yang alami.
Kampung Lali Gadget menunjukkan bahwa masa kecil yang bermakna dan membahagiakan tidak selalu membutuhkan kehadiran teknologi. Lewat cara-cara sederhana namun penuh makna, komunitas ini berhasil menghidupkan kembali nilai-nilai dalam permainan tradisional yang mendukung pembentukan karakter, kebugaran fisik, serta interaksi sosial anak-anak. Kehadiran mahasiswi seperti Ara dari Untag Surabaya dalam program ini menegaskan bahwa KLG bukan sekadar tempat bermain, melainkan juga sarana pembelajaran dan perubahan sosial. Inisiatif ini membuktikan bahwa melalui ide kreatif, kepedulian, dan kolaborasi antargenerasi, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan penuh nilai bagi perkembangan anak-anak Indonesia. [why]
#KomunikasiUntag
#KitaUntagSurabaya
#UntukIndonesia
#UntagSurabayaKeren
#EcoCampus
#Kampus Kompeten


