Surabaya, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus mengintensifkan upaya membuka pasar luar negeri bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) setempat melalui program Misi Dagang.
Setelah misi ke Malaysia pada April lalu, kini Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Provinsi Jawa Timur menyiapkan misi lanjutan menuju Hongkong yang diproyeksikan membuka akses baru bagi produk-produk lokal dari Jatim.
Persiapan menuju Hongkong menempuh beberapa tahapan sistematis yang menggabungkan kurasi produk, presentasi secara daring, dan koordinasi yang erat dengan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri.
Saat ini, proses seleksi IKM untuk mengikuti business matching di Hongkong telah memasuki tahap pitching produk di hadapan Konsulat Perdagangan Hongkong secara online. Pitching merupakan presentasi singkat dan persuasif untuk memperkenalkan ide, produk, layanan, atau bisnis kepada pembeli atau mitra potensial.
“Jadi dari situ nanti akan dipilih lima pelaku IKM oleh Bapak Konsulat Perdagangan yang akan diikutkan dalam kegiatan business matching yang akan dilakukan di bulan depan,” terang Kepala Disperindag Provinsi Jawa Timur Dr. Iwan, S.Hut., M.M., yang diwakilkan yang kali ini diwakilkan Ika Devi Hardianti, Ketua Tim Pengembangan Ekspor Disperindag Jatim, saat dikonfirmasi Kamis, (28/5/2026).
Langkah awal persiapan sebenarnya sudah dimulai sejak April. Menurut Ika Devi Hardianti, persiapan Pra Misi Dagang ke Hongkong ini dilakukan pihaknya sejak Bulan April yang lalu. Penjajakan dan koordinasi dilakukan dengan Rapat Webinar via digital. Lalu pada awal Bulan Mei yang lalu Disperindag Jatim melakukan kurasi bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Jatim.
Kurasi produk menjadi kunci dalam memastikan IKM yang terlibat memiliki daya saing dan kesiapan ekspor. Disperindag menyaring produk berdasarkan kategori komoditas serta kesiapan standar mutu dan pengemasan.
“Kurasi ini untuk 6 komoditas. Diantaranya, makanan minuman, olahan produk perikanan, kerajinan, tas sepatu kulit, produk perawatan tubuh dan buah-buahan. Kurasi ini dilakukan oleh Disperindag untuk memilih produk IKM yang layak untuk dikerjasamakan,” tegas Ika.
Enam kategori yang dikurasi mencerminkan kekuatan komparatif Jawa Timur: sektor makanan dan minuman khas daerah, olahan hasil laut yang kaya akan variasi, serta kerajinan tangan dan aksesori berdesain lokal yang punya peluang pasar di segmen gaya hidup. Produk perawatan tubuh dan buah-buahan juga disorot karena permintaan konsumen Hongkong terhadap produk alami dan kesehatan relatif tinggi.
Proses pitching daring memungkinkan penilaian cepat dan efisien oleh pihak konsulat, sekaligus memberi kesempatan bagi pemilik IKM yang belum pernah berinteraksi langsung dengan buyer asing. Platform digital juga memperkecil hambatan biaya perjalanan dan mempercepat pengambilan keputusan seleksi.
Setelah lima peserta dipilih oleh Konsulat Perdagangan, mereka akan mengikuti rangkaian business matching yang dijadwalkan pada bulan berikutnya, sebuah peluang untuk bertemu importir, distributor, atau buyer ritel di Hongkong.
Kaitan erat dengan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri menjadi aspek penting dari strategi ini. Disperindag menekankan koordinasi intensif agar misi dagang tidak sekadar memamerkan produk, tetapi juga mengarah pada kontrak, penempatan produk di pasar, dan tindak lanjut pengurusan sertifikasi atau regulasi yang diperlukan.
Setiap pelaksanaan Misi Dagang ini, Disperindag Jatim terus koordinasi dengan perwakilan dagang di luar negeri. Kalau dengan Hongkong ini kami koordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, khususnya dengan Konsulat Perdagangan Hongkong.
Salah satu isu strategis yang dibahas dalam persiapan adalah kebutuhan sertifikasi produk. Ika menyinggung pentingnya sertifikasi halal untuk beberapa produk, yang berpotensi meningkatkan daya terima produk Jatim di pasar Hongkong, mengingat komunitas pekerja migran dari Indonesia yang tinggal di sana.
“Terkait sertifikasi halal, saat kita konsultasi ke Konsulat perdagangan di Hongkong itu kemarin jika memang diperlukan serfikasi tertentu, maka jika sudah tersertifikasi halal lebih bisa diterima, karena disana banyak pekerja migran yang tinggal di Hongkong,” cetus Ika menutup.
Implikasi dari fokus pada sertifikasi dan kurasi ini lebih luas. Bagi IKM, persiapan untuk ekspor bukan hanya soal meningkatkan volume produksi, melainkan juga memperbaiki standar mutu, dokumentasi, pengemasan, pelabelan, dan kepatuhan terhadap persyaratan impor negara tujuan. Disperindag memberi sinyal dukungan melalui pelatihan, bimbingan teknis, dan fasilitas kurasi yang bisa meningkatkan peluang IKM memenangkan akses pasar global.
Ke depan, misi dagang ke Hongkong dapat menjadi pintu masuk bagi produk Jatim ke rantai ritel modern maupun jaringan distribusi di Asia Timur. Jika berhasil mengamankan kemitraan dan pesanan, pengalaman tersebut bisa menjadi model bagi misi dagang selanjutnya ke pasar lain.
Selain itu, keberhasilan ini juga berpotensi mendorong pengembangan produk yang lebih berorientasi ekspor di tingkat IKM, memperkuat ekosistem usaha mikro dan kecil di Jawa Timur.
Dengan pendekatan yang menggabungkan kurasi selektif, pemanfaatan platform digital untuk pitching, serta sinergi dengan perwakilan dagang luar negeri, Pemprov Jatim berharap misi dagang ke Hongkong tak hanya menjadi agenda protokoler, melainkan langkah konkret membuka peluang pasar dan meningkatkan kapasitas ekspor IKM Jawa Timur. [aya.kt]


