Surabaya, Bhirawa – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Timur maupun Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan II Surabaya terus memperkuat sinergi antar lembaga keuangan dan pemerintah guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan memperkuat ketahanan ekonomi Jawa Timur.
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK, Horas V. M. Tarihoran, mengungkapkan sektor jasa keuangan Jawa Timur tetap menunjukkan ketahanan yang kuat dan menjadi penopang penting perekonomian daerah di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Hingga April 2026, intermediasi perbankan masih tumbuh positif dengan penyaluran kredit mencapai Rp628,02 triliun dan penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp840,77 triliun, didukung permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta kualitas kredit yang tetap terjaga.
“Ketahanan sektor jasa keuangan Jawa Timur masih sangat baik. Fungsi intermediasi berjalan dengan baik, risiko kredit terkendali, dan hal ini menjadi modal penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” terangnya, Kamis (2/7).
Bahkan, selain perbankan kinerja pasar modal, industri perasuransian, dana pensiun, serta sektor pembiayaan juga terus menunjukkan perkembangan positif.
Jumlah investor pasar modal Jawa Timur tumbuh menjadi 2,99 juta SID atau terbesar ketiga secara nasional, sementara pembiayaan UMKM tetap terjaga dengan outstanding mencapai Rp230,93 triliun.
Di sisi lain, OJK terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan serta pelindungan konsumen. Hingga Triwulan I 2026, OJK se-Jawa Timur telah melaksanakan 4.170 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 1,02 juta peserta.
Bersama Satgas PASTI dan industri jasa keuangan, OJK juga terus memperkuat peran Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) untuk mempercepat penanganan penipuan keuangan dan meminimalkan kerugian masyarakat.
“OJK berkomitmen menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan melalui penguatan pelindungan konsumen, pemberantasan aktivitas keuangan ilegal, serta penanganan penipuan keuangan secara cepat dan terintegrasi,” jelas Horas.
Selain menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, OJK juga terus mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED).
Pada tahun 2026, OJK bersama berbagai pemangku kepentingan memfokuskan pengembangan ekosistem susu sapi perah di Malang Raya melalui pendekatan closed loop ecosystem, yang ditandai dengan peluncuran sistem enterprise resource planning (ERP) guna mendukung digitalisasi koperasi dan memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
“Ke depan, OJK akan terus memperkuat stabilitas sektor jasa keuangan, pelindungan konsumen, dan akses keuangan agar sektor jasa keuangan mampu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Horas.
Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, perekonomian Jawa Timur tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Diinformasikan bahwa Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terakhir pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan Bl-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%.
Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga target inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2, 5± 1 %.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial, kebijakan sistem pembayaran, pendalaman pasar uang dan kebijakan ekonomi keuangan inklusif dan hijau, tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan (” pro-growth”).
Sejalan dengan ketahanan ekonomi nasional, kinerja perekonomian Jawa Timur pada Triwulan I 2026 juga tercatat tumbuh sebesar 5,96% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,85% (yoy).
Pertumbuhan tersebut didorong oleh akselerasi konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah, terutama pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional, serta didukung oleh peningkatan kinerja sektor perdagangan, pertanian, konstruksi dan akomodasi makan minum.
Di sisi stabilitas harga, inflasi Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,49% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5± 1%.
Terkendalinya inflasi ini didukung terjaganya pasokan pangan di berbagai wilayah dan adanya koordinasi erat Tim Pengendalian lnflasi Daerah (TPID).
Ke depan, perekonomian Jawa Timur diprakirakan tetap tumbuh kuat pada kisaran 4,9%-5,7% (yoy) sepanjang tahun 2026, didukung oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, meningkatnya investasi, berlanjutnya proyek-proyek strategis, serta terjaganya aktivitas perdagangan dan ekspor. lnflasi juga diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran nasional. [riq.gat]


