Kota Probolinggo, Bhirawa. – Kabar rencana pembubaran sempat beredar sebelum Dialog Publik bertema “Pancasila Menjaga Arah Indonesia” digelar di Gedung Graha Mina Samudera, Kota Probolinggo, Rabu (24/6) malam.
Namun forum itu tetap berlangsung hingga selesai, justru diwarnai kritik tajam terhadap kondisi demokrasi dan kebijakan negara.
Mahasiswa, aktivis organisasi kepemudaan, pegiat NGO, dan masyarakat sipil memadati forum tersebut. Berbagai isu mengalir dalam diskusi – dari kebebasan berpendapat, evaluasi kebijakan pemerintah, hingga makna Pancasila dalam konteks kekinian.
Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto, yang tampil sebagai narasumber utama mendorong peserta membaca Pancasila secara kritis, bukan sekadar hafalan.
“Saya sering bertanya, kenapa kata keadilan disebutkan berulang dalam nilai-nilai Pancasila? Apakah para pendiri bangsa melihat bahwa keadilan akan selalu menjadi pekerjaan rumah bangsa ini?” ujar Tiyo.
Isu pembubaran langsung direspons aktivis Samsuddin dari podium. Ia menegaskan upaya membubarkan forum diskusi terbuka merupakan ancaman nyata terhadap demokrasi.
“Kalau ada orang yang mau membubarkan acara diskusi publik seperti ini, selama tidak rusuh, seharusnya difasilitasi. Ini negara demokrasi. Kalau diskusi adik-adik mahasiswa dibubarkan, lalu demokrasi itu berpihak kepada siapa?” tegasnya.
Samsuddin juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh dijawab dengan tekanan. “Tidak boleh ada gerakan premanisme seperti itu. Perbedaan pendapat harus dijawab dengan diskusi, bukan intimidasi,” katanya.
Mantan Ketua Badko HMI Jawa Timur 2013-2016, Khairul Anam, menilai forum semacam ini penting untuk merawat nalar kritis generasi muda. Ia juga menyebut Pancasila harus difungsikan sebagai alat ukur, bukan sekadar slogan.
“Pancasila harus menjadi alat ukur untuk menilai apakah negara masih berjalan sesuai amanat rakyat atau tidak,” ujar Khairul.
Diskusi berlangsung sekitar satu jam secara dinamis. Meski sempat dihantui isu pembubaran, forum itu akhirnya berjalan aman dan kondusif hingga selesai. [fir.dre]
Dialog Publik di Kota Probolinggo Diwarnai Kritik Tajam Kondisi Demokrasi Negara


