Tuban, Bhirawa – Dalam rangka mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen dan mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya Jurusan Gizi melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengabmas) di Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban.
Pengabmas mengangkat tema ‘Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Keluarga Untuk Meningkatkan Konsumsi Protein Keluarga Stunting melalui Program TETAS (Telur Tingkatkan Gizi, Atasi Stunting)’.
Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Surabaya dikoordinatori, Dr Dian Shofiya SKM MKes, dengan anggota Ani Intiyati SKM MKes, Mujayanto SKM MPH, Devi Eka Ratnasari SST MGz, Aulia Miladitiya SGz MGz, Mujayanto SKM MPH, Nuning Marina Pengge Teresia Retna P SKep Ns MKes, Yasin Wahyurianto SKep Ns MSi, Atika Nuswantari SST MGz, Khristine Saputri SST MGz, Husnul Halimah SGz, Aulia Miladitiya SGz MGz. Varisha Souhayla Sekar Ayu Saputro Asisten Ahli (JP). Serta dibantu beberapa mahasiswa diantaranya, Vira Julianti, Eksar Agus Heines, Jeny Ria Rahmawati, Hana Fauziyah Kholifia, Adrian Eka Putra N, Manda Athaillah R, Lasya Billa Zahwa Putri Lubianto, Ananda Aulia Putri.
Menurut Koordinator Pengabmas Poltekkes Kemenkes Surabaya, Dr Dian Shofiya SKM MKes, stunting menjadi masalah kesehatan nasional hingga sekarang tetap dilakukan berbagai intervensi untuk menurunkan angka stunting, termasuk di Desa Bogorejo dan Desa Sukolilo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Program berlangsung mulai Maret hingga Oktober 2026.
Dr Dian menjelaskan, Tim Pengabmas terdiri dari 13 dosen dan delapan mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Surabaya.
”Rendahnya pengetahuan gizi khususnya tentang peran protein dalam pertumbuhan bayi dan Balita, Kurangnya tingkat konsumsi protein. Belum adanya sumber pangan khususnya protein hewani dalam skala rumah tangga secara berkelanjutan dengan baik dan terus menerus guna mencukupi kebutuhan protein setiap rumah tangga,” kata Dr Dian.
Dr Dian menjelaskan, solusi yang diusulkan untuk masalah ini yaitu Program TETAS (Telur Tingkatkan Gizi, Atasi Stunting) dengan memanfaatkan pekarangan rumah, pendekatan komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, tim pengabdi, pemerintah daerah, kader, tenaga kesehatan, dan sasaran (bayi/balita, ibu hamil, ibu menyusui).
”Maka Tim Pengabmas mengusulkan Program TETAS untuk menyediakan sumber protein hewani dalam skala rumah tangga yang secara terus menerus dan berkelanjutan. Dalam rangka mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang permasalahan yang ada, maka dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pihak.
”FGD menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi permasalahan, serta menjadi sarana untuk pengambilan keputusan yang nanti akan dilaksanakan,” jelas Dr Dian.
Dr Dian menegaskan, terdapat dua kali FGD yang pertama dengan Pemerintah Daerah Tuban dan Dinas 6terkait seperti Dinas Kesehatan serta Dinas Peternakan.
FGD selanjutnya dengan tenaga kesehatan dan kader posyandu dan karang taruna, guna menentukan tim pendamping Program TETAS yang paling tepat.
”Program TETAS bertujuan memberdayakan pekarangan rumah warga untuk beternak ayam petelur,” ujarnya.
Sehingga keluarga memiliki sumber protein hewani mandiri dari telur yang dapat dikonsumsi rutin oleh Balita dan keluarga berisiko stunting.
”Melalui program ini kami ingin meningkatkan konsumsi protein keluarga sekaligus memberikan edukasi gizi seimbang. Tentunya dengan harapan dapat berkontribusi menurunkan angka stunting di wilayah Bancar,” tandas Dr Dian.
Dalam Pengabmas ini, Pihak Poltekkes Surabaya membuat Program Petelur Skala Rumah Tangga dan memberikan paket (dua ekor ayam, kandang sederhana dan paket awal), serra mengkampanyekan konsumsi telur berupa gerakan ‘Satu Hari Satu Telur’, lomba masak berbahan dasar telur, dan melakukan pemantuan pertumbuhan anak, serta keberlanjutan budidaya ayam petelur.
Sedangkan untuk Kader Posyandu dan Karang Taruna sebagai pendamping sasaran utama yaitu bayi/Balita, ibu hamil, ibu menyusui baik dari penyuluhan hingga keberlanjutan budidaya ayam petelur di setiap rumah tangga. Dinas kesehatan, tim peneliti, dan tenaga kesehatan berperan dalam memberikan edukasi dan sosialisai terkait gizi, serta konsumsi protein.
Sementara itu, Dinas peternakan memberikan pelatihan pemeliharaan ayam petelur. Pihak pemerintah daerah dan desa memberikan perizinan terhadap terlaksananya kegiatan program Pengabmas melalui implementasi kegiatan dalam Program TETAS, sehingga diharapkan konsumsi protein sasaran meningkat dan angka stunting di wilayah sasaran menurun.
Kegiatan ini merupakan skema Program Kemitraan Wilayah PKW dan menjadi bentuk nyata kontribusi Poltekkes Kemenkes Surabaya dalam penanganan stunting di Jawa Timur. [fen.kt]



