Surabaya, Bhirawa — Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga Jawa Timur saat ini melakukan pemeliharaan jaringan jalan provinsi dengan menerapkan metode Cold Milling Machine (CMM).
Langkah ini ditempuh untuk meratakan permukaan jalan yang mengalami jembul (peninggian lokal) dan kerusakan permukaan lain, sehingga keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan tetap terjaga.
Kepala Bidang Pembangunan & Peningkatan Jalan dan Jembatan DPU Bina Marga Jatim, Ahmad Faathir Wicaksono, mengatakan pemilihan metode CMM bertujuan menjaga elevasi jalan sekaligus mempercepat proses perbaikan.
“Melalui metode CMM dan dengan bantuan alat ini, elevasi jalan akan tetap meskipun dilakukan overlay sehingga tidak mengganggu akses dan kondisi bangunan di sekitar jalan. Selain itu proses perbaikan jalan menjadi lebih cepat,” jelas Faathir saat dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).
Cold Milling Machine adalah alat yang digunakan untuk memotong dan mengangkat lapisan aspal lama secara mekanis sebelum dilakukan overlay atau pengaspalan ulang.
Proses ini memungkinkan perbaikan permukaan jalan tanpa memanaskan material aspal secara signifikan, sehingga lebih ramah lingkungan dan mengurangi emisi bila dibandingkan metode pengupasan tradisional yang menggunakan pembakaran.
Menurut dia, selain pengaplikasian yang cepat, bahan CMM ini dapat disimpan sekitar satu tahun dengan catatan jika disimpan dengan cara yang benar.
“Selain itu, CMM ini mampu menghilangkan lapisan yang tidak rata secara presisi sehingga elevasi jalan dapat disesuaikan sesuai desain. Untuk penerapannya metode ini di gunakan untuk sapu lubang dan penerapan respon cepat lain 1×24 jam,” cetus dia.
Kemampuan mempertahankan elevasi jalan menjadi aspek penting terutama di kawasan yang padat bangunan dan infrastruktur pendukung, seperti akses masuk keluar rumah, drainase, dan saluran utilitas.
Jika elevasi berubah signifikan setelah perbaikan, itu bisa menyebabkan genangan air, mengganggu akses rumah warga, atau bahkan merusak sambungan ke trotoar dan selokan.
Dengan CMM, tim teknik dapat memastikan permukaan yang rata sehingga fungsi drainase dan akses tetap optimal.
Selain aspek teknis, penggunaan CMM juga diharapkan mempercepat ritme pekerjaan lapangan. Pemotongan dan pengangkatan lapisan aspal lama dilakukan lebih cepat dan rapi, sehingga waktu penutupan jalan dapat diminimalkan dan dampak terhadap arus lalu lintas berkurang.
“Proses yang lebih cepat berarti gangguan bagi pengguna jalan juga lebih singkat, dan biaya operasional di lapangan bisa lebih efisien karena waktu dan tenaga kerja terpangkas,” pungkas dia.
Dengan penerapan teknologi seperti Cold Milling Machine, DPU Bina Marga Jawa Timur menunjukkan pendekatan lebih modern dan terukur dalam pemeliharaan jalan provinsi.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengatasi masalah jembul dan kerusakan permukaan secara teknis, tetapi juga meminimalkan gangguan sosial-ekonomi bagi pengguna jalan dan masyarakat sekitar. [aya.kt]


