31 C
Sidoarjo
Tuesday, August 25, 2026
spot_img

Bupati Rio Apresiasi Perolehan Rekor MURI Ancak Agung Jember

Situbondo, Bhirawa – Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo hanya tersenyum ketika ditanya soal Kabupaten Jember yang memperoleh rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk penyelenggaraan kirab Ancak Agung beberapa hari lalu.

“Bagus, kita apresiasi,” ujar Bupati yang karib disapa Mas Rio itu sambil tersenyum saat dikonfirmasi di Situbondo, Senin (24/8/2026).

Respons Mas Rio tidak menunjukkan sikap keberatan ataupun menganggap rekor yang diraih Jember sebagai sebuah persaingan antar daerah.

Menurutnya, setiap daerah memiliki tradisi dan kekhasan masing-masing. Pengakuan MURI, menurut dia, tidak seharusnya membuat tradisi budaya ditempatkan dalam konteks perlombaan.

“Setiap daerah punya ciri khas. Yang penting bagaimana budaya itu terus hidup dan memberikan manfaat untuk masyarakat,” katanya.

Ia  juga menegaskan sudut pandangnya terhadap tradisi Ancak Agung yang selama ini berkembang di Situbondo.

“Bagi saya yang penting ngereng lampanah kiai (mengikuti dawuh kiai-red),” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Mas Rio lebih menekankan nilai keagamaan dan keberlanjutan tradisi dibandingkan persoalan rekor. Apalagi, Ancak Agung bukan tradisi baru bagi masyarakat Situbondo.

Tradisi yang identik dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu telah lama berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Situbondo.

Sementara itu Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Setdakab Situbondo, Iwan Subhakti, menjelaskan Pemkab Situbondo mulai menggelar Ancak Agung secara resmi sejak tahun 2011 pada masa pemerintahan Bupati Dadang Wigiarto.

Berita Terkait :  Perumdam Tirta Kencana Jombang Sabet Golden Awards Ajang Top BUMD Awards 2026

“Pemkab menggelar Ancak Agung pertama kali pada tahun 2011 saat Bupati Situbondo dijabat oleh Pak Dadang,” ujar Iwan.

Pada awal penyelenggaraannya, kata Iwan, peserta Ancak Agung didominasi organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Situbondo. Namun, konsep tersebut berkembang dari tahun ke tahun.

Menurut Iwan, penyelenggaraan ancak agung tahun 2026 ini melibatkan lebih banyak unsur masyarakat. Tidak hanya OPD, tetapi juga BUMN, BUMD, hingga masyarakat sekitar.

“Kalau dulu pesertanya OPD, sekarang semua lapisan masyarakat ikut. Termasuk BUMN, BUMD, dan dari berbagai organisasi masyarakat. Total jumlah ancak untuk tahun 2026 ini sekitar 2.400,” kata Iwan.

Iwan menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan Ancak Agung tahun ini juga semakin beragam. Bukan hanya dari kelompok muslim, tetapi sejumlah komunitas keagamaan dan masyarakat lainnya turut ambil bagian.

“Partisipasi juga datang dari keturanan Arab, termasuk ada dari non-muslim seperti umat Hindu dan lain-lain,” ujar Iwan.

Keterlibatan berbagai kelompok tersebut membuat Ancak Agung di Situbondo tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang kebersamaan lintas komunitas.

Gambaran mengenai panjangnya tradisi ancak di Situbondo juga disampaikan Kepala Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, Asykur Hasan.

Menurut Asykur, ancak di Situbondo sudah dikenal masyarakat sejak dekade 1990-an. Pada masa tersebut, tradisi ancak bahkan digelar di masing-masing desa di Situbondo.

“Kalau yang saya tahu, ancak di Situbondo itu sudah ada sejak tahun 1990-an. Dulu digelar di setiap desa,” kata Asykur.

Berita Terkait :  Banjir Air Bercampur Lumpur Kota Batu Rusak Jalan dan Rendam Rumah Warga

Menurut dia, tradisi tersebut pada masa lalu tidak sekadar dilaksanakan berdasarkan keputusan masyarakat desa. Pelaksanaannya juga mengikuti dawuh atau petunjuk para kiai sepuh yang menjadi panutan masyarakat setempat.

“Semasa saya kecil dulu itu mengikuti dawuh atau nasihat para kiai yang kemudian juga disikapi sebagai penghormatan terhadap tradisi,” ucapnya.

Informasi yang berhasil dihimpun Bhirawa menyebutkan, wadah ancak dibuat dari pelepah pisang yang disusun dan dirangkai sedemikian rupa. Pelepah tersebut menjadi tempat untuk menata berbagai hasil bumi yang akan dibawa dalam arak-arakan.

Di atas wadah itu kemudian diletakkan aneka buah-buahan serta nasi. Berbagai hasil bumi tersebut ditata sedemikian rupa sehingga membentuk ancak yang menarik untuk diarak.

Bahan-bahan tersebut bukan sekadar pelengkap. Buah-buahan dan nasi menjadi simbol hasil bumi sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan.

Proses pembuatan ancak dianggap mencerminkan semangat gotong royong. Warga biasanya terlibat sejak menyiapkan bahan, merangkai pelepah pisang, menata buah dan nasi, hingga membawa ancak dalam kirab.

Oleh karena itu, nilai ancak tidak hanya terletak pada bentuk akhirnya. Tetapi ada proses kebersamaan masyarakat yang berlangsung sejak tahap persiapan hingga diarak ke lokasi gelaran di masing-masing tempat.  [awi.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!