32.3 C
Sidoarjo
Monday, November 2, 2026
spot_img

MUI Jatim–DMC Dompet Dhuafa Hadirkan Edukasi dan Simulasi Bencana untuk Komunitas Strategis

Surabaya, Bhirawa – Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi (PDUF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggandeng masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Melalui rangkaian edukasi dan simulasi mitigasi bencana serta perlindungan komunitas pada 28–30 Oktober 2026, kedua lembaga menjangkau masjid, sekolah, dan pesantren.

Kegiatan tiga hari itu dilaksanakan di tiga lokasi, Kantor MUI Jawa Timur, kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur di Sidoarjo dan SMP Maryam Surabaya, serta Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Peserta memperoleh materi edukasi sekaligus praktik langsung mengenai langkah mitigasi dan perlindungan komunitas.

Ketua Komisi PDUF MUI Jawa Timur, KH. Miftah Jauhari, menekankan bahwa lembaga keagamaan memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

“Masjid, musala, sekolah, dan pesantren memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, edukasi mitigasi bencana dan perlindungan terhadap kelompok rentan perlu menjadi bagian dari penguatan kapasitas umat,” kata KH. Miftah Jauhari, dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026) malam.

Dari sisi Dompet Dhuafa, kolaborasi menjadi kunci agar edukasi kebencanaan tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi menjangkau lebih banyak komunitas. KH. Son Haji dari Dompet Dhuafa menilai kerja sama antara lembaga filantropi, lembaga keagamaan, dan pemangku kepentingan lain dapat memperkuat gerakan kemanusiaan.

“Dompet Dhuafa terus mendorong kolaborasi agar manfaat edukasi kebencanaan dan perlindungan masyarakat dapat menjangkau lebih banyak komunitas,” tutur KH. Son Haji.

Berita Terkait :  Kemenag Tuban Gelar Jalan Sehat Lintas Agama

Sementara itu, Perwakilan BPBD Jawa Timur, Dadang, mengingatkan bahwa pengetahuan tentang bencana perlu diiringi latihan nyata. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus terbiasa bertindak ketika situasi darurat terjadi.

“Pengetahuan tentang kebencanaan perlu diikuti dengan latihan dan simulasi. Masyarakat harus mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Dengan latihan yang berulang, respon masyarakat menjadi lebih tepat dan tidak mudah panik ketika menghadapi situasi darurat,” ungkap Dadang.

Bagi peserta dari unsur pengurus masjid dan musala, kegiatan ini memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar memperoleh informasi melalui berita atau media sosial. Salah seorang peserta, Sunarto, mengatakan pelatihan tersebut membuka pemahaman baru mengenai tindakan yang perlu dilakukan saat gempa bumi terjadi.

“Selama ini kita mungkin hanya mengetahui informasi tentang gempa bumi dari berita atau media sosial. Namun, melalui kegiatan ini kami mendapatkan pemahaman dan pengalaman langsung mengenai apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi,” ujar Sunarto.

Kegiatan ini melibatkan jajaran Komisi PDUF MUI Jawa Timur, yaitu Ketua Komisi KH. Miftah Jauhari, Sekretaris Komisi Moch Rizzqi Aladib, dan Wakil Ketua Komisi Gus M. Syafi’i.

Dari DMC Dompet Dhuafa, tim fasilitator yang terlibat meliputi Lukman, M. Syaiban, serta dr. Nurul. Mereka mendampingi peserta di setiap lokasi melalui edukasi dan praktik simulasi kebencanaan.

Berita Terkait :  Bupati Kediri Salurkan Alsintan dan Benih Padi

Kehadiran masjid, musala, sekolah, dan pesantren dalam kegiatan ini menegaskan posisi lembaga keagamaan sebagai ruang strategis untuk membangun kesiapsiagaan komunitas. Melalui kolaborasi MUI Jawa Timur, DMC Dompet Dhuafa, dan BPBD Jawa Timur, edukasi mitigasi bencana diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga membentuk kesiapan nyata di lapangan. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!