“Saya sangat yakin, Pantai Panduri merupakan wisata alam yang bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Bagi kami, dengan didukung pelestarian alam maka Pantai Panduri sangat potensial sekali untuk jadi tempat wisata. Untuk itu kami ingin merawat dan melestarikan lingkungan demi masa depan anak cucu,” tutur Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Asri, Sumaji selaku pengelola Pantai Panduri di Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Achmad Tauriq Imani – Harian Bhirawa
Memiliki pemandangan Sunset terindah, suara debur ombak yang syahdu dan pasir putih, pantai Panduri dengan luas enam hektare berlokasi di Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menjadi daya tarik wisata bagi warga kota Tuban maupun kota lainnya.
Bersebelahan dengan wisata religi Makam Syekh subakir, tokoh wali pertama yang datang ke tanah jawa serta menyebarkan islam di tanah jawa. Pantai Panduri juga menyediakan tempat berkemah, ayunan di pohon dan spot foto yang sangat menarik pengunjung.
Namun, melestarikan pantai Panduri ini tidaklah tergolong mudah. Disisi lain kurang adanya kepedulian dari warga bahkan untuk merubah pantai menjadi destinasi yang layak untuk dikunjungi oleh wisatawan. Namun, menjaga kelestarian Pantai Panduri agar bisa dinikmati anak cucu kelak menjadi tanggungjawab bersama.
Baru pada tahun 2022, mulai ada sentuhan dari beberapa warga sekitar yang peduli terhadap pantai Panduri salahsatunya adalah Sumaji. Hatinya tergerak ketika merasakan angin laut yang datang disetiap bulan tertentu ini banyak merobohkan genteng rumah.
“Pada awalnya ditahun 2011 pantai ini sudah lama ada dan pada tahun 2011 itu lah ada program penanaman hutan pantai yang diinisiasi oleh Dinas Perkebunan Kehutanan hingga pada tahun 2017. Sesudah itu timbulah gagasan untuk di inovasikan menjadi tempat wisata,” ujar Sumaji yang merupaka Local Hero dari Pertamina Patra Niaga.
Sepanjang perjalanan tersebut, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Memberikan edukasi kepada warga sekitar hingga mencari pendampingan yang dapat turut membangun pantai Panduri. Memandang jauh kedepan untuk anak cucu itulah yang akhirnya memperkuat semangatnya merubah Pantai Panduri.
“Selama empat tahun merehabilitasi pantai Panduri tidaklah mudah. Yang kita bangun pertama kali adalah rasa peduli warga sekitar terutama anak-anak muda, untuk bersama-sama membangun pantai ini. Selanjutnya adalah mencari pendampingan dan Alhamdulillah dari Pertamina Patra Niaga menerima proposal kami dan berjalan hingga kini,” tandasnya.
Bagi Sumaji, dengan adanya pendampingan ini memiliki dampak yang sangat besar bagi Pantai Panduri, baik dari pengelolaannya hingga UMKM. “Selama empat tahun pendampingan, wajah pantai Panduri sudah mengalami banyak perubahan. Dari awalnya tidak banyak yang melihat hingga kini sudah mulai jadi destinasi wisata,” tuturnya.
Kini, Pokdarwis Tanjung Asri sudah bisa mendapatkan penghasilan dari pantai Panduri dari para pengunjung yang ingin berkunjung ke pantai sampai dengan ngecamp. “Kalau di weekend (Sabtu-Minggu) pantai Panduri lumayan ramai terutama yang ingin ngecamp. Kami belum berlakukan tiket masuk hanya untuk tiket parkir saja dan dalam satu minggu bisa sampai 600-700 pengunjung dapat memperoleh pendapatan Rp1,5 juta,” jelasnya.
Sementara untuk pengunjung yang ingin ngecamp, menurut Sumaji bisa sampai 2.500 hingga 3.000 pengunjung perbulannya. “Yang mudah kami deteksi atau kita hitung itu dari yang kampingnya, kalau pengunjung kita hitung dari tiket parkirnya,” katanya.
Meskipun, saat ini Pokdarwis Tanjung Asri sudah dikantakan bisa mandiri. Bagi Sumaji peran pendampingan yang memasuki tahun ke empat ini masihlah belum cukup. “Sebenarnya kami masih belum bisa dilepas, karena kami masih butuh pengembangan untuk meluaskan area, juga ada PR yaitu tanggul pengikat pasir supaya pasir yang sudah mengunung tidak kembali ke laut,” harap Sumaji.
Diresmikan Gubernur Jawa Timur
Festival Mangrove Jawa Timur ke-10, yang digelar di Pantai Panduri dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dalam kegiatan tersebut Gubernur Khofifah menandatangani prasasti peresmian Wisata Alam Pantai Panduri dengan melakukan pelepasliaran burung air dan penanaman mangrove jenis Cemara udang dan Pandan Laut serta memberikan sejumlah penghargaan kepada para pihak yang berkontribusi dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove.

Gubernur Khofifah menjelaskan Festival Mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan gerakan berkelanjutan dalam menjaga kawasan pesisir dan memperkuat ketahanan lingkungan. Selain itu, Pemerintah Jawa Timur dalam pengelolaan ekosistem mangrove telah mendapatkan berbagai apresiasi.
“Mangrove tidak hanya berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga menjadi penyerap karbon alami yang berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim,” jelasnya.
Menurutnya, Mangrove adalah investasi lingkungan untuk masa depan. Apa yang di tanam hari ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang. Sehingga, Gubernur Jatim mengajak masyarakat agar menjaga mangrove sebagai ikhtiar menjaga bumi dan menyumbangkan oksigen bagi Ibu Pertiwi.
Untuk itu, Jawa Timur siap menjadi provinsi terdepan pelestarian mangrove untuk mendukung Indonesia sebagai negara pemimpin konservasi mangrove dunia.
“Indonesia memiliki mangrove terbesar di dunia, yakni sekitar 3,45 juta hektare atau 23 persen dari total mangrove dunia. Karena itu, Jawa Timur siap menjadi leading province dalam pelestarian mangrove yang mendorong Indonesia menjadi leading country. Inisiatif-inisiatif pelestarian harus lahir dari kita sehingga Indonesia dapat menjadi kiblat sekaligus role model bagi dunia dalam menjaga ekosistem mangrove,” paparnya.
Kesan Pengunjung
Pemandangan pantainya yang masih alami dan pepohonannya yang membuat suasana dingin disekitar pantai membuat beberapa mahasiswi Poltekkes Tuban jika libiuran sering berkunjung ke Pantai Panduri.

“Area campnya itu strategis buat anak-anak sekolah maupun mahasiswa yang ingin ngecamp bareng-bareng. Apalagi kalau dibuat foto-foto viewnya juga bagus terutama saat sunset jika sore dan sunrisenya kadang juga bisa keliatan,” kata Yela.
Menurut Yela, untuk biaya ke Pantai Panduri juga tidak terlalu mahal cukup dengan membayar parkirnya saja. “Saya bersama teman-teman baru dua kali berkunjung, awalnya tidak menyangka ada Pantai Panduri. Kami penasaran, akhirnya mencoba kesini dan ternyata bagus. Untuk itu jika libur kuliah saya sama teman-teman sering datang kemari, cukup bayar uang parkir saja,” katanya sambil tersenyum.
Selain itu juga, Yela ternyata juga sering mengajak teman kuliahnya yang tidak berasal dari Tuban untuk menikmati Pantai Panduri. “Saya ajak teman-teman yang dari luar Tuban untuk melihat Pantai Panduri, dari pagi hingga sore hari. Ngobrol, bermain dipantai hingga foto-foto,” pungkasnya. [*]


