27.2 C
Sidoarjo
Tuesday, October 27, 2026
spot_img

Pemuda Spirit Negeri

Kata Bung Karno, Presiden RI pertama, “Beri aku seribu orang yang sudah tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Pemuda selalu menjadi pengharapan sebagai agen perubahan (berupa reformasi total, sampai revolusi). Disebabkan pemuda tidak memiliki banyak kepentingan. Kecuali perjuangan membela rakyat (bangsa) memperoleh hak yang sering diabaikan rezim penguasa. Walau kejuangan pemuda terasa tidak mudah. Kadang harus melawan rezim otoriter.

Pernyataan agitatif Bung Karno, bisa dianggap sebagai potret spirit pemuda menghadapi setiap zaman. Tak jarang harus digelorakan. Seperti pidato agitatif Bung Karno yang dinyatakan pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1964, di Jakarta. Semangat pemuda tak bisa dibendung walau harus melawan tantara Sekutu (AFNEI, (Allied Forces Netherlands East Indies, Tentara Sekutu Nederland India Timur). Tentara gabungan Sekutu AFNEI memiliki senjata modern, baru saja me-menang-kan Perang Dunia II.

Tetapi pemuda (Arek-arek Surabaya) tidak gentar. Lebih lagi kesadaran ber-kebangsa-an Indonesia, telah tumbuh subur sejak Kongres Pemuda II. Yakni pada hari kedua, 28 Oktober 1928, dinyatakan “ikrar” kebangsaan, sekaligus untuk pertama kali dikumandangkan instrumen lagu “Indonesia Raya,” dengan biola oleh WR Supratman.

Isi “ikrar” yang dibacakan bersama, dinyatakan, “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air air Indonesia // Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia // Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Berita Terkait :  281 Ribu Batang Rokok di Sidoarjo Diamankan GEMPUR Rokok Ilegal

“Ikrar” di gedung Indonesische Clubgebouw (Balai Pertemuan, sekarang Museum Sumpah Pemuda di Jakarta), bagai mem-bangkit-kan kesadaran kebangsaan yang ber-martabat. Realitanya, pada tahun 1928, bangsa Indonesia belum ber-martabat, belum berdaulat, karena masih dalam kolonialisasi. Masih dijajah Belanda. Sehingga organisasi kemasyarakatan betekad untuk mendirikan berbagai lembaga pengajaran (sekolah). Juga mendirikan lembaga perekonomian (pasar, dan koperasi).

Pasca momentum Sumpah Pemuda, pemerintah kolonial Belanda, mulai bersikap ekstra hati-hati terhadap pribumi. Karena khawatir terjadi demo (pemogokan). Bahkan pemberontakan bersenjata seperti dilakukan PKI. Namun dampak dari krisis ekonomi dunia (Malaise) tahun 1929, memukul perekonomian Hindia Belanda. Berbagai serikat buruh kereta api, pegadaian, dan guru melakukan aksi pemogokan dan perlawanan politik. Belanda meresponsnya dengan melarang hak berkumpul secara ketat.

Pemua selalu menjadi “obor” (spirit) yang selalu berkobar, tidak mudah memillih peran “melawan” rezim. Sampai perlawanan dalam bentuk seni budaya, juga membawa risiko. Seperti dialami WR Supratman, hasil karya tulisnya, sebuah buku berisi kritikan pada Belanda, “Perawan Desa,” dilarang berdedar, dan disita Belanda. Kondisi yang sama dihadapai aktifis pemuda peranakan. Misalnya, Sie Kong Liong, yang rumahnya digunakan sebagai tempat Sumpah Pemuda, tahun 1926, dan 1928.

Sampai akhir hayat, Sie Kong Liong, berpesan kepada anak cucu, agar tidak menjual rumah bersejarah berkait nasionalisme kebangsaan. Rumah tempat Sumpah Pemuda, dihibahkan kepada negara. Begitu pula pemuda keturunana Arab, tak kalah peran menumbuhkan ke-Indonesia-an. Dalam konferensi pemuda Indonesia keturunan Arab membuat sumpah: “Tanah Air kami satu, Indonesia. Dan keturunan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri (isolasi).” Tampil seorang tokoh asal kampung (Arab) Ampel Surabaya, Abdurrahman Baswedan.

Berita Terkait :  Realisasikan Transparansi Keuangan Daerah, Bupati Mojokerto Serahkan LKPD 2025 Unaudited

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, memasuki era algoritma (digital). Dilukiskan dengan logo berkonsep “Besi yang Menjadi Cahaya.” Setiap pemuda patut memperkuat diri sekuat baja, sekaligus bisa menjadi obor mengobarkan kesalehan digital sosial. Serta tetap bersikap kritis terhadap rezim sebagai keseimbangan partai politik yang makin tidak dipercaya.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!