“ Dikenal Sebagai Tradisi Lama Memohon Turun Hujan kepada Allah SWT, Saat Musim Kemarau Panjang “
Situbondo, Bhirawa – Ritual Hodo tercatat sebagai salah satu tradisi budaya masyarakat Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, yang hingga saat ini masih dipertahankan eksistensinya.
Tradisi turun-temurun ini dikenal sebagai ritual memohon turunnya hujan kepada Allah SWT, terutama ketika musim kemarau melanda. Ritual Hodo rutin digelar setiap tahun pada tanggal 10 Oktober ini. Hal ini bukan sekadar menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat setempat, akan tetapi juga mencerminkan kekayaan seni dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemerintah telah menetapkan Hodo sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019. Budaya Hodo juga pernah diangkat menjadi film dokumenter berjudul “The Hodo-Memanggil Langit Untuk Tanah” berhasil meraih penghargaan dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Bentuk Karya Audiovisual Periode III Kelompok 3 Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Film tersebut merupakan hasil karya enam mahasiswa Program Studi (Prodi) Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Jember (UNEJ). Dua dari enam kreatornya, yakni Ghina Obadiah dan Muhammad Hesa Maulana, adalah mahasiswa asli Kabupaten Situbondo yang memiliki kedekatan langsung dengan tradisi dan masyarakat di balik ritual Hodo.
Pelaksanaan ritual ini memiliki rangkaian prosesi yang sarat makna. Berdasarkan tradisi yang berkembang di masyarakat, prosesi Hodo meliputi ritual pembacaan doa di Puncak Masali atau Gunung Sanuri, kemudian penyucian diri di sumber mata air, dan di Batu Tomang.
Dalam ritual ini, dilakukan semedi atau permohonan kepada Allah SWT disertai tembang tradisional, musik, dan tarian Hodo. Salah satu bagian yang menarik yakni lantunan Pojhian Hodo yang diiringi alat musik tradisional, seperti gong, kendang, suling, dan instrumen seni lainnya. Para pelaku ritual mengenakan busana khas dengan hiasan dari janur, menambah keunikan penampilan budaya tersebut semakin unik.
Dalam prosesi tersebut, nasi tumpeng diarak dan diletakkan di tengah para pelaku ritual. Tetua adat memimpin doa, kemudian tembang dan gerakan tari mengiringi jalannya upacara.
Setelah prosesi selesai, masyarakat berbagi makanan dan menikmati hidangan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Dalam tradisi Hodo juga memperlihatkan perpaduan unsur budaya Islam dan Madura yang berkembang dalam kehidupan masyarakat setempat. Perpaduan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu bertahan dengan tetap menjaga nilai spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Selain itu, tradisi Hodo juga memiliki nilai sosial yang kuat. Tradisi ini menjadi ruang berkumpulnya masyarakat, mempererat persaudaraan, serta memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin canggih, pelestarian Ritual Hodo tetap bertahan hingga saat ini tetap bertahan dan terlaksana setiap tahunnya.
Dokumentasi, pengenalan budaya melalui pendidikan, dan penyelenggaraan kegiatan kebudayaan dapat menjadi upaya untuk menjaga keberlanjutan tradisi Hodo tersebut.
Menurut Haji Muhammad Hariyono, Tetua Pelestari Tradisi Hodo, Padukuhan Pariopo, Dusun Selatan, Desa Battal, Kecamatan Asembagus Situbondo mengatakan, walaupun tidak ada dukungan pemerintah maupun dapat dukungan perintah, tiap tahun pada tanggal 10 bulan 10, ritual hodo tetap dilaksanakan.
“Perlu disampaikan anggota Ritual hodo ada 17 orang. Jumlah ini tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Jadi, tetap yang melakukan ritual hodo sebanyak itu dan tidak boleh dilakukan oleh masyarakat di luar Padukuhan Pariopo,” jelas Muhammad Hariyono.
Lebih lanjut, Muhammad Hariyono menjelaskan, Ritual Budaya Hodo ini dimulai secara turunan. “Kami ini, tinggal meneruskan tradisi Hodo peninggalan leluhur dan setiap tahun kita laksanakan ritual Hodo. Jika ritual Hodo ini dihilangkan atau tidak dilaksanakan, kita takut kena imbas,” kata Hariyono.
Muhammad Hariyono menjelaskan, pada tahun 2022 saat terjadi wabah Covid-19, ritual Hodo tidak dilaksanakan, maka berdampak bencana di padukuhan ini, ada rumah masyarakat hancur terkena angin dan satu anggota Hodo tersambar petir dan beberapa sumber mata air kering. “Diyakini peristiwa ini terjadi, karena masyarakat tidak melaksanakan ritual Hodo,” tuturnya.
Tujuan diadakannya tradisi Hodo ini, kata Muhammad Hariyono, untuk meminta kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan masyarakat mendapat keselamatan dan hasil pertanian tidak gagal panen.
“Sejarahnya Hodo ini sangat panjang dan kami ini hanya mendengarkan ritual Hodo dari para sesepuh. Kami dikumpulkan oleh para sesepuh untuk melanjutkan ritual Hodo di Padukuhan Pariopo ini,” pungkas Muhammad Hariyono.
Sementara itu, mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo, Camat Asembagus Faishol Afandi mengatakan bahwa, Ritual Hodo menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Pedukuhan Pariopo, Dusun Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, patut dijaga kelestariannya dan perlu diperkenalkan kepada masyarakat luas.
“Pemkab Situbondo melalui Pemerintah Kecamatan Asembagus komitmen untuk Lestarikan Budaya Lokal Hodo dan siap mendorong peran generasi muda. Kami komitmen untuk terus melestarikan dan mengangkat kebudayaan Hodo ini agar tidak punah,” kata Faishol Camat Asembagus.
Penggalian budaya tersembunyi ini, lanjut Faishol, pihak Pemerintah Kecamatan Asembagus berupaya terus menggali dan menggalakkan kebudayaan yang masih tersembunyi di berbagai desa wilayah Kecamatan Asembagus agar semakin dikenal luas.
“Meskipun saat ini banyak pemuda yang masih kurang peduli dengan peninggalan budaya para leluhurnya, tetapi kami meyakini minat generasi muda sebenarnya tinggi dan akan bangkit secara turun-temurun ketika tradisi tersebut aktif diangkat,” terang Faishol.
Lebih lanjut, Camat Faishol mengatakan, terkait film dokumenter budaya berjudul “The Hodo: Memanggil Langit Untuk Tanah” yang berhasil meraih penghargaan dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Bentuk Karya Audiovisual Periode III Kelompok 3 Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut, salah satu bukti bahwa Budaya Hodo layak ditampilkan dalam event-event budaya di tingkat regional maupun nasional.
“Sejumlah kesenian tradisional seperti Hodo, Kekek, Mamaca dan lainnya di Wilayah Kecamatan Asembagus, akan kita perhatian dan pihak kecamatan akan minta dukungan langsung dari kepala daerah untuk terus melestarikan budaya dan tradisi di wilayah Kecamatan Asembagus,” jelas Camat Faishol.
Faishol kembali melanjutkan, tahun depan akan dilaksanakan Festival Budaya Hodo yang akan digelar di Taman Kota Asembagus. “Insya Allah, tahun depan kita akan menggelar festival Budaya Hodo,” pungkas Camat Faishol. [awi.kt]






