Surabaya, Bhirawa – Kegiatan Isoplus Marathon di Kota Surabaya menghasilkan perputaran aktivitas ekonomi sebesar Rp74,78 miliar selama tiga hari pelaksanaan.
Perhitungan tersebut didasarkan pada penelitian Lembaga Penelitian dan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (LPEP FEB Unair) yang mengolah data primer dan sekunder menggunakan analisis input-output.
Atik Purmiyati, Kepala Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPEP FEB Unair mengatakan, aktivitas ekonomi tersebut tersebar di sejumlah sektor, mulai dari perdagangan, jasa, pariwisata hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dari total perputaran tersebut, kegiatan ISOPLUS Marathon diperkirakan memberikan kontribusi sebesar Rp41,42 miliar terhadap perekonomian Kota Surabaya.
“Jadi di sini adanya multiplier effect kepada masyarakat Surabaya, terutama dia yang bekerja pada sektor-sektor yang dikaitkan dengan kegiatan marathon,” katanya dalam konferensi pers di Balai Kota Surabaya, Minggu (4/10/2026).
Penelitian Unair juga mencatat sejumlah pengeluaran peserta selama berada di Surabaya yang ikut menggerakkan ekonomi lokal. Rata-rata pengeluaran untuk akomodasi hotel mencapai sekitar Rp772 ribu per orang per hari, sedangkan pengeluaran untuk transportasi lokal sekitar Rp250 ribu per orang per hari.
Sementara untuk pembelian suvenir atau produk UMKM, rata-rata pengeluaran peserta mencapai sekitar Rp725 ribu per orang per hari.
Dari sektor pariwisata, pengeluaran peserta yang mengunjungi sejumlah destinasi di Surabaya seperti kawasan Ampel, Kota Lama, dan Monumen Kapal Selam diperkirakan mencapai sekitar Rp882 ribu per orang per hari.
Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya mengatakan, dampak kegiatan lari terhadap sektor pariwisata dan perhotelan juga terlihat dari tingkat okupansi hotel yang meningkat hingga 80 sampai 90 persen.
“Dampaknya sangat luar biasa. Tadi saya sampaikan, uang yang berputar saja ketika saya sudah mengecek data di perhotelan, di pariwisata, itu sangat naik signifikan. Ada perputaran kenaikan okupansinya. Okupansinya sampai dengan 80 persen sampai 90 persen,” ucapnya
Ia mengatakan, dampak ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kota Surabaya terus mendorong penyelenggaraan kegiatan olahraga, khususnya lari, sebagai bagian dari pengembangan sport tourism.
Ia berharap kegiatan tersebut bisa terus digelar di Surabaya dengan jumlah peserta yang lebih besar sehingga memberikan dampak ekonomi dan pariwisata yang semakin luas.
Sementara itu, Joshua Gunawan Head of RTD Beverages WINGS Group Indonesia mengatakan Surabaya dipilih kembali karena merupakan salah satu pusat ekonomi dan bisnis di Jatim serta memiliki dukungan yang baik terhadap penyelenggaraan kegiatan.
Ia mengatakan, ajang lari tersebut juga membawa konsep “complete running experience”, yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan lomba, tetapi juga memberikan pendampingan kepada peserta melalui edukasi di media sosial yang dikurasi oleh pelatih dan dokter spesialis gizi.
Untuk mendukung keselamatan peserta, ia mengatakan bahwa penyelenggara juga menyediakan Running Doctors yang salah satu penguatan dalam penyelenggaraan tahun ini.
“Kita benar-benar mengutamakan keselamatan dan kesehatan dari para pelari, karena pada akhirnya kan kita pengin semua hidup sehat,” ucapnya.
Seperti diketahui, ajang marathon tersebut, tahun ini diikuti oleh hampir 11 ribu peserta. Selain dari Surabaya dan sekitarnya, terdapat juga pelari dari mancanegara seperti Australia, Jepang, hingga India. [iin.kt]




