32 C
Sidoarjo
Monday, September 14, 2026
spot_img

Ketua Dekranasda Jatim Ajak Generasi Muda Bangga Pakai Batik Jatim

Pemprov Jatim, Bhirawa – Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak menyerukan agar generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga bangga menggunakan batik dan wastra khas Jatim sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur di Gedung Q Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Arumi, pameran dan edukasi batik menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan batik Jatim kepada generasi penerus. Ia menekankan bahwa upaya pelestarian harus berkelanjutan, sehingga batik tidak hanya hidup di generasi sekarang, tetapi juga tetap relevan bagi generasi mendatang.

“Harapan kami, adik-adik mahasiswa yang saat ini duduk sebagai peserta, suatu saat nanti justru menjadi generasi yang berada di panggung untuk meneruskan dan melestarikan budaya serta wastra batik yang ada di Jawa Timur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan butuh kolaborasi seluruh elemen: perguruan tinggi, komunitas, pemerhati budaya, perajin, hingga masyarakat sebagai konsumen.

“Kalaupun tidak terlibat dalam produksi, tidak apa-apa. Yang penting terlibat dalam membeli dan memakai batik,” katanya.

Arumi menegaskan bahwa batik tidak bisa dipandang sekadar kain atau produk sandang. Di dalamnya terdapat sejarah, filosofi, kearifan lokal, dan identitas bangsa. Apa yang dikenakan seseorang, termasuk batik dan wastra, merupakan bagian dari identitas yang membedakan Indonesia dari bangsa lain.

Berita Terkait :  Kodam V/Brawijaya Kawal Program Luas Tambah Tanam Padi di Jatim

Karena itu, ia berharap perkembangan budaya populer di kalangan anak muda tidak menghilangkan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

“Anak-anak zaman sekarang tentu mengikuti perkembangan zaman. Musiknya bisa K-Pop, tariannya juga berbeda. Tetapi pada momen-momen tertentu, ketika harus memakai batik, harapan kita mereka tidak merasa malu,” tuturnya.

Tren penggunaan wastra di kalangan anak muda kini dinilai sebagai harapan positif. Batik yang dulu identik dengan acara formal atau pernikahan, kini hadir dalam desain busana yang mengikuti tren dan gaya hidup generasi muda. Fenomena ini menunjukkan batik semakin memiliki ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, Arumi mengingatkan bahwa inovasi dalam penggunaan batik harus tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap pakem dan nilai budaya yang melekat.

“Anak-anak muda patut mengikuti perkembangan zaman, tetapi dalam keadaan tertentu tetap harus menghormati dan melestarikan budaya yang kita miliki,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Arumi menyambut baik keberadaan Batik Corner di Perpustakaan UK Petra. Menurutnya, fasilitas ini merupakan bentuk nyata dukungan perguruan tinggi terhadap edukasi dan pelestarian batik.

Batik Corner diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus sumber referensi bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengenal batik lebih dekat, baik dari sisi sejarah, filosofi, motif, maupun perkembangannya.

“UK Petra tidak hanya mendukung melalui kegiatan-kegiatan tertentu, tetapi sudah dibuktikan dengan aksi nyata dengan menghadirkan Batik Corner sebagai ruang untuk belajar langsung tentang batik,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Ke Jombang, Menteri PUPR Cek Digitalisasi Pintu Air Waduk Siman

Ia berharap Batik Corner juga dapat dikembangkan menjadi ruang pengalaman bagi mahasiswa untuk mengenal proses dan kekayaan batik secara lebih mendalam.

Selain aspek budaya, Arumi menegaskan bahwa Dekranasda Jatim terus mendorong agar batik tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki daya saing sebagai bagian dari industri kreatif dan penggerak ekonomi daerah.

Menurutnya, ekosistem batik membutuhkan penguatan tidak hanya dari sisi kemampuan produksi, tetapi juga dari aspek bisnis, pemasaran, pengembangan pasar, hingga kemampuan membaca tren konsumen.

Arumi menyebut, para perajin memiliki kemampuan produksi dan kualitas karya yang sangat baik, namun sebagian masih membutuhkan penguatan dalam kemampuan bisnis dan pemasaran.

“Seni memproduksi dan seni berbisnis itu berbeda. Banyak perajin yang kualitas produksinya sangat baik, tetapi masih membutuhkan kemampuan dalam berbisnis,” jelasnya.

Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan keterampilan pelaku usaha batik, baik keterampilan produksi maupun kemampuan dalam pengelolaan bisnis dan pemasaran.

Dekranasda Jatim, lanjut Arumi, memiliki mandat untuk memfasilitasi para perajin dalam menemukan dan memperluas pasar, salah satunya melalui penyelenggaraan pameran dan berbagai kegiatan promosi.

Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. “Ini bukan pekerjaan satu orang saja, tetapi seluruh pihak dan seluruh lini yang menekuni batik harus bisa berkontribusi,” ujarnya.

Arumi berharap kolaborasi yang terbangun melalui Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi terus berlanjut dalam berbagai kegiatan berikutnya.

Berita Terkait :  Pemkab Lamongan Lakukan Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2026

Menurutnya, keberlanjutan batik tidak hanya berkaitan dengan bagaimana budaya tersebut tetap dikenal dan digunakan, tetapi juga bagaimana ekosistem batik mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para perajin dan seluruh pihak yang terlibat di dalam proses produksinya.

Ia mengajak masyarakat untuk memberikan rasa bangga kepada mereka yang mengenalkan, mempelajari, mendukung, membeli, dan menggunakan produk-produk kerajinan lokal.

“Dari setiap lembar batik ada banyak orang yang terlibat dan menggantungkan hidupnya. Mudah-mudahan kita bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menyejahterakan seluruh orang yang terlibat dalam prosesnya,” tegas Arumi.

Di tengah perkembangan teknologi dan semakin terbukanya interaksi antarbudaya, Arumi menilai generasi muda tidak perlu menutup diri dari budaya dunia. Sebaliknya, generasi muda perlu mengenal berbagai budaya untuk kemudian semakin percaya diri memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia.

“Harapannya bukan memberhentikan generasi muda untuk melihat budaya lain. Justru dengan mengenal budaya orang lain, kita dapat semakin memperkenalkan identitas kita sebagai warga, masyarakat, dan individu di Indonesia,” jelasnya.

Atas terselenggaranya Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur ini, Ketua Dekranasda Jatim ini memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi termasuk KIBAS, Himpunan Wastraprema, Komunitas Cinta Berkain, serta Universitas Kristen Petra. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!