Situbondo, Bhirawa – Ternyata nama jembatan Garuda Merah Putih memiliki makna yang sangat kuat. Garuda merupakan simbol negara kita, sedangkan Merah Putih adalah identitas dan jati diri bangsa Indonesia.
Menurut Dandim 0823 Situbondo, Letkol Inf Ferry Ardian, pesan utamanya adalah bahwa negara hadir sampai ke pelosok negeri. “Jangan sampai masyarakat yang tinggal di daerah terpencil merasa jauh dari perhatian pemerintah,” tutur Ferry.
Masih kata Ferry, jembatan ini bukan sekadar konstruksi besi, beton atau kabel. Ini adalah jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pelayanan pemerintah. “Karena itu, semangatnya adalah “Negara Hadir untuk Rakyat,” urainya.
Sementara itu dari sisi pertahanan dan ketahanan wilayah, sambung Ferry, seberapa strategis keberadaan Jembatan Perintis ini untuk Situbondo dan Jawa Timur bagian timur?
Kata Ferry, sangat strategis sekali. Ini karena, urai pria dengan pangkat dua melati dipundaknya itu, pertahanan negara tidak hanya berbicara mengenai alutsista atau kekuatan militer. “Aksesibilitas dan ketahanan masyarakat juga merupakan bagian dari ketahanan wilayah,” ungkapnya.
Dengan adanya konektivitas yang lebih baik, tambahnya, mobilitas masyarakat meningkat, distribusi kebutuhan pokok menjadi lebih mudah, pelayanan pemerintah semakin dekat dan aktivitas ekonomi berkembang.
“Dari perspektif kewilayahan, wilayah yang terhubung akan lebih mudah dibina, dipantau dan dikembangkan. “Karena itu pembangunan jembatan ini memiliki dimensi sosial, ekonomi sekaligus strategis bagi ketahanan wilayah,” ujarnya.
Selanjutnya, dalam kacamata Ferry, melihat jembatan ini sebagai simbol konektivitas NKRI, terutama untuk wilayah perbatasan.
“Saya melihatnya sebagai simbol bahwa NKRI tidak boleh memiliki wilayah yang terisolasi. Masyarakat yang tinggal di pelosok memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun pelayanan negara,” katanya.
Jembatan ini, imbuh Ferry, menjadi simbol bahwa merah putih hadir bukan hanya di pusat kota, tetapi juga di pelosok desa, di daerah pegunungan, di seberang sungai dan di wilayah yang selama ini sulit dijangkau. “Itulah makna konektivitas NKRI yang sesungguhnya,” pungkas Ferry. [awi.kt]

