Oleh :
Lia Istifhama
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI)
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang bukan sekadar forum lima tahunan. Ia adalah ruang untuk melihat kembali perjalanan NU sekaligus membaca arah masa depan. Tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” menjadi sangat penting karena NU tidak hanya dituntut mempertahankan kebesaran sejarahnya, tetapi juga harus mampu menjawab perubahan zaman. Tepatnya shallihun li kulli zaman wal makan, yaitu sebuah kaidah islam atas pengejawantahan karakter adaptif sesuai perkembangan waktu dan penyesuaian diri atas tempat.
Muktamar NU yang tepat di usia 1 abad semenjak berdiri pada 31 Januari 1926 di Surabaya, juga kian Istimewa dengan gagasan besar “Jalan Pulang NU ke Jamaah”. Seruan ini merupakan harapan agar Nahdlatul Ulama kembali fokus melayani dan mendekatkan diri kepada warga di tingkat akar rumput di tengah dinamika sosial dan digital yang sangat revolusioner.
Gagasan ini sangat tepat mengingat identitas ormas terbesar di Indonesia tersebut kental dengan kekuatan grass root atau akar rumput yang terbentuk dalam berbagai majelis taklim hingga satuan kecil di tengah masyarakat, yaitu Tingkat Rukun Tetangga (RT). Kekuatan jaringan sosial NU merupakan bentuk nyata potret Masyarakat asosional dengan darah kekeluargaan yang oleh Pierre Bourdieu disebut terbentuk atas dasar institution as a relative, yaitu relasi kelembagaan dengan simbol hubungan keluarga dengan ikatan resiprositas (saling timbal balik) meski tidak sedarah.
Kekuatan jamaah yang menjadi identitas otentik NU merupakan kekuatan networking yang tidak bisa ditawar sebagai penguat prudensi atau peradaban bangsa. Hal ini merujuk kekuatan modal sosial yang dijelaskan Bourdieu sebagai kekuatan sumberdaya yang tahan lama dan memberikan keuntungan bagi bangsa. Meski menjadi kekuatan besar bagi kelangsungan bangsa, NU tetap harus memiliki Marwah kuat, yang mana dasar berdirinya NU merupakan wadah utama sekaligus rumah besar bagi jamaah karena positioning NU yang selalu peduli pada kebutuhan umat.
Sebagai rumah besar, dinamika sosial adalah keniscayaan atas kecintaan dari warga atau diksi istimewanya, keluarga besar NU. NU kental dengan tradisi Islam Nusantara karena NU sangat menyatu dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Meski berbalut diksi Islami, NU tetap ruh sikap luhur bangsa Indonesia. Istilah Islah, tabayyun, taslim, maupun tawadhu’, sangat selaras dengan ketimuran yang sangat menjunjung tinggi kedamaian dan penghormatan.
Kehadiran NU di tengah masyarakat, memang sangat mampu menyatukan spiritualitas atau aspek religi dengan aspek kearifan lokal. Sikap penghormatan yang kental dalam tradisi NU misalnya, merupakan turunan dari hadis Rasulullah SAW: Bukanlah termasuk umatku, orang yang tidak menghormati yang tua, tidak belas kasih kepada anak-anak dan memuliakan ulama’.
Konsep tradisi NU menjadi tak terbantahkan sebagai pengejawantahan nyata benevolent society, masyarakat kebajikan yang berdiri atas prinsip khoirunnas anfauhum linnas. Sebuah unsur kemanfaatan yang bisa diberikan pada Masyarakat dan bangsa. Kemanfaatan atau kebaikan ini tentunya Kembali merujuk pada kata jalan pulang NU pada jamaah, yaitu keberlanjutan generasi NU itu sendiri. Oleh sebab itu, bicara Khidmah NU untuk bangsa adalah sekaligus menjaga NU sebagai wadah keberlangsungan generasi muda sebagai anak bangsa yang harus menjaga peradaban dan persatuan Indonesia.
Salah satu prinsip yang selalu digaungkan dalam kajian Ke NU-an adalah syubbanul yaum rijalul ghod, bahwa pemuda adalah calon pemimpin bangsa. Sebuah self reminder kita semua bahwa menjaga mental kepemimpinan Generasi Z adalah kewajiban kita bersama, atau bisa kita istilahkan seperti sebuah fardlu kifayah.
Generasi Z bukan lagi sekadar kelompok anak muda yang sedang mencari identitas. Mereka telah menjadi kekuatan sosial yang ikut menentukan arah percakapan publik. Mereka menguasai teknologi, hidup dalam ekosistem digital, memiliki keberanian menyampaikan gagasan, dan mampu menggerakkan perubahan melalui berbagai platform.
Karena itu, membicarakan masa depan NU adalah sekaligus membicarakan potensi Gen Z sebagai ruang transformasi digital NU saat ini. Sebuah ruang regenerasi yang melek digital dengan tetap memiliki atensi besar menjaga marwah nilai, adab, tradisi keilmuan dan jati diri NU, dengan sekaligus memperkaya khidmah demi pengabdian kepada umat dan bangsa.
Di titik inilah Gen Z harus ditempatkan. Gen Z tidak cukup hanya menjadi penerima warisan nilai NU, melainkan penggerak transformasi digital dalam berbagai lini platform digital seperti TikTok, Instagram, YouTube, X, dan sebagainya.
Hal ini karena perkembangan revolusioner digital mengubah banyak lanskap kehidupan, istilahnya disruptive innovation dan creative destruction, yang mana semua pihak bisa menjadi influencer yang mempengaruhi orang lain sebagaimana implementasi atas teori Konstruktivisme Sosial. Bahwa sejatinya, teknologi adalah produk dari agenda setting produsen atau pembuatnya. Dengan kata lain, sesungguhnya masyarakatlah yang membentuk dan mengontrol arah perkembangan teknologi, bukan sebaliknya.
Kembali pada diksi utama jalan pulang NU pada jamaah, bahwa NU menjadi wadah terbentuk unit sosial terkecil yaitu keluarga yang menjadi pengawas sekaligus pendamping moral, mental, dan keilmuan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Namun tantangan tersebut tentu tidaklah mudah jika orang tua mengalami kehimpitan ekonomi.
Oleh karenanya, ruh NU harus kembali pada penguatan ilmu, kecintaan bangsa, dan keberdayaan ekonomi. Tiga hal besar yang merujuk pada asbabun nuzul, cikal bakal historis berdirinya NU. Bahwa embrio NU adalah lahirnya kelompok diskusi keilmuan Tashwirul Afkar (1914/1922), perkumpulan pendidikan kebangsaan Nahdlatul Wathon (1916/1924), dan Nahdlatut Tujjar sebagai pilar ekonomi.
NU pun terus berdiri megah di bumi Indonesia tanpa secuil pun melupakan sejarah para ulama besar, muassis NU sekaligus masyayikh kharismatik seperti Sang Hadratussyeikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim), negarawan K.H. Abdul Wahab Chasbullah, saudagar KH Hasan Gipo, dan sebagainya.
NU juga terus melahirkan para tokoh besar, politisi handal, saudagar ulet, dan berbagai capaian mengagumkan dari generasi penerus NU. Ini semua menunjukkan kekuatan dari pola ajaran rabbani, yaitu pembelajaran secara bertahap yang diterapkan dalam didikan pondok pesantren NU ataupun keluarga NU, berhasil menghadirkan keberkahan saat mereka dewasa.
Kini, jalan pulang NU pada jamaah kembali harus melekatkan nilai-nilai sosial dengan ekonomi sebagaimana teori embeddedness oleh Mark Granovetter. Sebagai contoh, penguatan keberlanjutan program strategis Muslimat NU melalui BAZNAS Microfinance Majelis Taklim (BMMT), dan sebagainya.
Pada akhirnya, semangat jalan pulang NU pada jamaah harus selalu terpatri sebagaimana konsep hubbul wathon Al-Jurjani. Bahwa apapun capaian dari kader NU, mereka mengemban tugas melestarikan sikap kecintaan pada al-wathan al-ashli, yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. Maka, kiprah apapun dimanapun, kader NU tetap harus pulang kembali pada jamaah.
————– *** —————



