28 C
Sidoarjo
Wednesday, August 19, 2026
spot_img

Dorong Inovasi Peternakan Berbasis Data, Tuban Luncurkan Introduksi Genetik Sapi Red Brahman

Tuban, Bhirawa – Kabupaten Tuban terus mendorong inovasi di sektor peternakan. Inovasi dikembangkan melalui program introduksi genetik Sapi Red Brahman menggunakan metode Inseminasi Buatan (IB).

Program yang diluncurkan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban ini diarahkan untuk menjadikan Tuban sebagai wilayah percontohan (pilot project) introduksi genetik Sapi Red Brahman di Indonesia.

Kepala DKP2P Kabupaten Tuban, Eko Julianto, menyampaikan program tersebut tidak sekadar memperkenalkan genetik baru kepada peternak, tetapi menjadi langkah inovatif untuk membangun sistem pengembangan ternak yang terukur, terdokumentasi, dan berbasis data.

“Program ini kami desain sebagai pilot project nasional. Jadi, bukan hanya bagaimana menghasilkan keturunan Red Brahman, tetapi bagaimana seluruh prosesnya tercatat dan dapat diukur, mulai dari keberhasilan inseminasi, kebuntingan, kelahiran, pertumbuhan pedet, performa reproduksi betina, hingga pertumbuhan pejantan sampai umur potong,” ungkapnya.

Pemilihan sapi Red Brahman merupakan salah satu rumpun Bos indicus yang memiliki performa baik di daerah tropis. Karakteristik tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi alternatif pengembangan genetik sapi di Indonesia, khususnya dalam mendukung peningkatan produktivitas peternakan rakyat.

Melalui pendekatan berbasis data, program ini diharapkan menghasilkan informasi ilmiah mengenai kesesuaian genetik Red Brahman dengan kondisi sapi lokal maupun hasil persilangan. Data tersebut nantinya menjadi dasar evaluasi sebelum dilakukan pengembangan program dalam skala yang lebih luas.

Berita Terkait :  Ekonomi Melambat, Kopwan SBW Perkuat Sinergi Anggota Lewat Pendidikan dan Gotong Royong

Peluncuran program Introduksi Red Brahman ditandai dengan penyerahan simbolis straw (semen beku) Red Brahman. Pada tahap awal, sebanyak 810 dosis straw ditargetkan disalurkan melalui 79 petugas IB yang tersebar di 20 kecamatan di Kabupaten Tuban.

Lebih lanjut, program ini tidak berhenti pada proses IB. Setelah dilakukan inseminasi, seluruh tahapan akan dimonitor sehingga kita memiliki data yang lengkap.

Eko Julianto menjelaskan tahapan monitoring akan dilakukan secara berkelanjutan. Pada November 2026, DKP2P Tuban akan melaksanakan GERTAK PKB (Gerakan Serentak Pemeriksaan Kebuntingan). Target Conception Rate (CR) yang ditetapkan berada pada kisaran 60–70 persen, dengan tetap mempertimbangkan kondisi lapangan dan manajemen pemeliharaan ternak.

Selanjutnya, pada Mei–Juli 2027, dilakukan monitoring kelahiran yang mencakup jumlah pedet lahir hidup, kelahiran mati, berat lahir, jenis kelamin, hingga kondisi induk setelah melahirkan.

Tahapan ini penting untuk memastikan tingkat keamanan dan kesesuaian penggunaan genetik Red Brahman pada sapi betina lokal maupun hasil persilangan.

Puncak tahap awal program akan ditandai dengan Panen Pedet Red Brahman pada 17 Agustus 2027, tepat satu tahun setelah peluncuran program. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung hasil introduksi genetik yang telah dilakukan sejak 2026.

“Panen pedet serentak ini akan menjadi salah satu titik penting untuk melihat hasil program. Setelah itu, monitoring tidak berhenti. Sapi muda akan terus dipantau pada 2028 hingga 2029,” terangnya.

Berita Terkait :  Stabilkan Pasien Parkinson, National Hospital Luncurkan Metode Adaptive DBS AI

Pemantauan terhadap sapi muda tersebut akan menghasilkan data lanjutan mengenai pertumbuhan dan performa ternak. Seluruh data yang terkumpul selanjutnya menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan kebijakan pengembangan dan penguatan genetik sapi di Kabupaten Tuban.

Inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya DKP2P Tuban membangun peternakan yang semakin modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan peningkatan produktivitas.

“Harapannya, Tuban tidak hanya menjadi daerah yang menghasilkan ternak, tetapi juga menjadi daerah yang menghasilkan data dan model pengembangan peternakan yang dapat menjadi rujukan bagi daerah lain,” pungkasnya.  [hud.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!